
Aktris dan mantan politisi Venna Melinda secara publik menegaskan komitmennya untuk merawat adik sambungnya, Alvin, yang berkebutuhan khusus, menyusul wafatnya sang ayah, Jimmy Rekartono, pada Selasa, 6 Januari 2026. Keputusan ini menyoroti kompleksitas dukungan keluarga bagi individu dengan disabilitas, terutama di tengah duka dan transisi kepemimpinan dalam perawatan.
Jimmy Rekartono meninggal dunia mendadak pada usia 73 tahun di sebuah tempat pijat di Grand Wijaya, Jakarta Selatan, setelah sebelumnya diketahui memiliki riwayat pemasangan ring jantung. Kepergiannya meninggalkan Venna dan keluarga dalam kesedihan mendalam, dengan Venna mengakui adanya penyesalan terkait permintaan terakhir mendiang ayahnya yang belum terpenuhi. Dalam pernyataannya, Venna menyebut bahwa perawatan Alvin adalah salah satu amanah terbesar yang ditinggalkan ayahnya. "Komitmen aku sama adik-adikku, kita mau merawat Alvin. Untuk kesehatan dan kehidupan dia karena dia sudah yatim piatu," ujar Venna, menambahkan bahwa putra-putranya, Verrell Bramasta dan Athalla Naufal, juga turut bergotong royong dalam tanggung jawab ini.
Kondisi Alvin yang kini menjadi yatim piatu, setelah kedua orang tuanya tiada, menempatkannya dalam posisi rentan yang memerlukan dukungan penuh dari keluarga besar. Situasi ini menggarisbawahi tantangan struktural yang dihadapi keluarga dengan anggota berkebutuhan khusus di Indonesia. Studi Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LDUI) tahun 2014 menunjukkan bahwa keluarga dengan anggota disabilitas menghadapi biaya hidup 15-30% lebih tinggi dibandingkan rumah tangga tanpa anggota disabilitas. Selain itu, angka kemiskinan pada keluarga dengan disabilitas berat dapat mencapai 28% lebih tinggi. Meskipun ada komitmen pemerintah untuk mewujudkan kesetaraan hak penyandang disabilitas, Indonesia masih menghadapi keterbatasan data yang akurat dan lengkap mengenai jumlah serta demografi penyandang disabilitas, yang menghambat perumusan kebijakan yang inklusif dan efektif.
Secara global, diperkirakan sekitar 15% dari total populasi mengalami disabilitas, dan di Indonesia, perkiraan ini berkisar antara 8,5% hingga 10% dari penduduk. Merawat anggota keluarga berkebutuhan khusus seringkali memicu beban psikologis dan mental bagi pengasuh utama. Kurangnya akses terhadap pendidikan dan pengasuhan yang sesuai, slot layanan yang terbatas, serta kekhawatiran terhadap kualitas perawatan menjadi kendala umum yang dilaporkan orang tua dengan anak disabilitas.
Komitmen Venna Melinda bersama saudara-saudaranya untuk mengurus Alvin mencerminkan dinamika keluarga dalam menghadapi tanggung jawab sosial yang signifikan. Dalam konteks yang lebih luas, keterlibatan selebriti dalam isu-isu seperti ini berpotensi meningkatkan kesadaran publik terhadap kebutuhan dan hak-hak penyandang disabilitas. Namun, penanganan jangka panjang bagi individu berkebutuhan khusus memerlukan lebih dari sekadar dukungan keluarga; ia menuntut kerangka kebijakan yang kuat, fasilitas yang memadai, dan pemahaman masyarakat yang lebih inklusif untuk memastikan kualitas hidup yang layak dan berkelanjutan bagi mereka.