
Luna Maya, aktris dan presenter papan atas Indonesia, baru-baru ini secara terbuka mengakui bahwa pasangannya, aktor Maxime Bouttier, memiliki keunggulan signifikan dalam urusan dapur, bahkan dinilainya lebih piawai memasak dan lebih rajin dibandingkan dirinya. Pernyataan ini, yang disampaikan di tengah sorotan publik terhadap hubungan mereka, menggarisbawahi pergeseran narasi tradisional seputar peran gender dalam dinamika rumah tangga selebriti di Indonesia. Pengakuan Luna Maya tidak hanya memberikan gambaran sekilas tentang kehidupan pribadi pasangan tersebut, tetapi juga memicu diskusi lebih luas tentang modernisasi ekspektasi peran dalam hubungan di kalangan figur publik.
Sejak hubungan Luna Maya dan Maxime Bouttier mulai terpublikasi luas sekitar tahun 2023, keduanya telah menjadi subjek perhatian media dan penggemar. Berbagai spekulasi dan pemberitaan seputar kebersamaan mereka, termasuk perjalanan liburan dan interaksi publik, terus mengisi kolom berita hiburan. Pernyataan terbaru Luna Maya mengenai keahlian memasak Maxime muncul dalam sebuah wawancara atau acara publik, menyoroti aspek domestik yang jarang terungkap dari kehidupan selebriti. Dalam konteks budaya Indonesia, di mana seringkali perempuan masih diidentikkan dengan peran utama di dapur, pernyataan ini dapat dilihat sebagai indikasi perubahan sosial dan penerimaan terhadap fleksibilitas peran gender dalam hubungan modern.
Pernyataan ini memiliki beberapa implikasi penting. Pertama, dari segi personal branding, hal ini dapat memperkuat citra Maxime Bouttier sebagai sosok pria modern yang tidak hanya berkarir di dunia hiburan tetapi juga memiliki keterampilan domestik yang mumpuni, sebuah atribut yang semakin diapresiasi di tengah masyarakat kontemporer. Bagi Luna Maya, pengakuan ini menunjukkan keterbukaan dan kepercayaan dalam hubungannya, sekaligus menantang stereotip tentang selebriti wanita yang harus selalu 'sempurna' dalam segala aspek domestik. Kedua, secara sosiologis, pengakuan ini dapat berkontribusi pada normalisasi dan bahkan perayaan pria yang aktif di dapur. Data dari berbagai survei menunjukkan bahwa generasi muda, baik di Indonesia maupun global, semakin tidak terikat pada peran gender tradisional, dengan lebih banyak pria yang terlibat dalam tugas rumah tangga dan pengasuhan anak. Meskipun data spesifik untuk selebriti sulit dikuantifikasi, pernyataan publik semacam ini dari figur berpengaruh dapat mempercepat penerimaan norma-norma baru ini di kalangan penggemar dan masyarakat umum.
Pergeseran ini bukan fenomena baru. Beberapa tahun terakhir, media sosial dan program televisi telah banyak menyoroti selebriti pria yang menunjukkan keahlian memasak mereka, dari koki profesional hingga hobiis. Hal ini mencerminkan tren global di mana dapur bukan lagi domain eksklusif satu gender. Analis budaya pop berpendapat bahwa pengakuan dari figur publik seperti Luna Maya dapat memiliki dampak signifikan terhadap persepsi publik, terutama di kalangan generasi muda yang menjadikan selebriti sebagai panutan. Mereka melihat bahwa kesetaraan gender dalam pembagian tugas rumah tangga, termasuk memasak, adalah indikator penting dari hubungan yang sehat dan modern. Kedepannya, narasi semacam ini dapat mendorong lebih banyak diskusi tentang pembagian tugas yang adil dalam rumah tangga dan tantangan terhadap konstruksi maskulinitas yang kaku di Indonesia.