:strip_icc()/kly-media-production/medias/4549978/original/088853400_1692853100-Snapinsta.app_367506216_3522017601347520_1296844574189082823_n_1080.jpg)
Kepolisian Guri, Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan, pada Jumat, 16 Januari 2026, secara resmi menggugurkan gugatan balik yang diajukan oleh seorang terduga perampok terhadap aktris dan penyanyi Im Jin-ah, atau yang dikenal luas sebagai Nana. Keputusan tersebut menyusul penyelidikan mendalam yang menyimpulkan bahwa tindakan Nana saat insiden perampokan rumahnya pada November 2025 sepenuhnya merupakan pembelaan diri yang sah. Kendati sempat ditetapkan sebagai tersangka dan diinterogasi, polisi menegaskan tidak ada pelanggaran pidana dalam respons Nana yang bertujuan melindungi diri dan ibunya dari ancaman bersenjata.
Insiden yang menjadi akar permasalahan terjadi pada 15 November 2025, sekitar pukul 06.00 pagi waktu setempat, ketika seorang pria berusia 30-an masuk tanpa izin ke kediaman Nana di Achon-dong, Guri. Pelaku, yang membawa senjata tajam, menyusup melalui pintu balkon yang terbuka dan kemudian menyerang ibu Nana dengan mencoba mencekiknya serta menuntut sejumlah uang. Nana, mantan anggota grup K-Pop After School, yang terbangun oleh teriakan ibunya, segera melakukan perlawanan bersama sang ibu untuk menaklukkan penyusup tersebut. Dalam perkelahian fisik itu, pelaku mengalami luka di bagian rahang. Nana dan ibunya berhasil menahan pelaku hingga polisi tiba.
Setelah penangkapan, pelaku awalnya didakwa dengan perampokan bersenjata dan penyerangan berat. Namun, pada Desember 2025, ia mengajukan gugatan balik dari dalam penjara, mengklaim bahwa ia menderita luka akibat tindakan Nana dan menuduhnya melakukan percobaan pembunuhan serta penyerangan yang disertai kekerasan. Menanggapi gugatan balik tersebut, kepolisian Guri membuka penyelidikan dengan status Nana sebagai tersangka, sesuai prosedur hukum yang berlaku. Proses ini melibatkan peninjauan menyeluruh terhadap semua pernyataan saksi, rekaman pengawasan, dan bukti lain yang relevan. Polisi akhirnya menyimpulkan bahwa respons Nana adalah upaya yang proporsional untuk menghadapi ancaman langsung yang ditimbulkan oleh penyerang bersenjata tersebut.
Sublime, agensi yang menaungi Nana, sebelumnya telah merilis pernyataan keras mengenai insiden tersebut. Agensi tersebut mengutuk tindakan pelaku yang mencoba mengambil keuntungan dari posisi Nana sebagai figur publik dengan mengajukan gugatan balik, yang disebut sebagai "perilaku tidak manusiawi" dan menyebabkan kerugian sekunder. Sublime menegaskan komitmennya untuk melindungi hak dan kepentingan artisnya serta menyatakan akan mengambil langkah hukum, baik perdata maupun pidana, atas kerugian fisik dan psikologis yang diderita Nana dan ibunya. Nana sendiri, yang dilaporkan mengalami tekanan emosional setelah kejadian tersebut, menyatakan tekadnya untuk menyelesaikan masalah ini melalui jalur hukum. Diketahui, Nana memiliki latar belakang bela diri dengan sabuk hitam tingkat empat, sebuah fakta yang disorot oleh pengacaranya, Park Seong Bae, sebagai faktor yang berkontribusi pada kemampuannya menaklukkan perampok.
Keputusan polisi untuk menggugurkan gugatan ini menggarisbawahi pentingnya hak pembelaan diri di Korea Selatan, terutama dalam kasus invasi rumah yang melibatkan ancaman kekerasan. Ini juga mengirimkan sinyal kuat kepada pihak-pihak yang mungkin mencoba mengeksploitasi status selebriti untuk keuntungan hukum yang tidak berdasar. Bagi industri K-Pop, insiden ini menyoroti kerentanan figur publik terhadap kejahatan rumah tangga dan tantangan hukum yang mungkin timbul saat mereka membela diri. Pembebasan Nana dari tuduhan ini dapat menjadi preseden penting dalam penanganan kasus serupa di masa depan, memperkuat posisi hukum korban yang bertindak untuk melindungi diri dan keluarga mereka.