
Aktris Della Puspita membuka peluang rekonsiliasi dengan suaminya, Arman Wosi, setelah sebelumnya menghadapi gugatan cerai di Pengadilan Agama Bekasi pada Desember 2025. Keputusan ini muncul setelah Arman Wosi secara resmi mencabut permohonan cerainya, mengisyaratkan adanya upaya serius untuk mempertahankan rumah tangga yang baru terdaftar secara negara pada Mei 2023 tersebut. Della Puspita menyatakan kesediaannya untuk melihat perubahan sikap Arman Wosi, menyusul pengakuan sang suami yang merasa "khilaf" dan meminta kesempatan kedua.
Drama rumah tangga pasangan ini mulai mencuat ke publik pada Juli 2023 ketika Della Puspita secara terbuka mengungkapkan kekesalannya di media sosial, menuduh suaminya kerap mengumbar masalah pribadi ke media massa dan melontarkan ancaman. Ia bahkan sempat menyatakan merasa malu namun tidak memiliki pilihan lain untuk merespons perilaku suaminya saat itu. Ketegangan memuncak hingga Arman Wosi mendaftarkan gugatan cerai talak, yang mana Della Puspita pada awalnya menunjukkan sikap pasrah dan menyatakan tidak akan melawan, meyakini perjuangannya selama tiga tahun pernikahan siri yang diwarnai konflik dan ucapan talak telah mencapai batasnya. Ia bahkan memilih untuk meninggalkan rumah demi menjaga ketenangan.
Namun, dinamika berubah drastis setelah gugatan cerai Arman Wosi dicabut pada 18 Desember 2025, yang dikonfirmasi oleh panitera Pengadilan Agama Bekasi, Mohamad Khotib. Pencabutan ini disebut berdasarkan kesepakatan damai di luar persidangan. Kuasa hukum Arman Wosi, Yahya Fadila Rukmanda, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah kliennya melalui pertimbangan mendalam selama satu pekan pasca sidang pertama, didorong oleh keinginan untuk memberikan kesempatan kedua pada pernikahannya. Yahya juga mengungkapkan bahwa akar masalah konflik bukan perselingkuhan, melainkan perasaan Arman yang "tidak dihargai sebagai seorang suami," sebuah akumulasi emosi yang terpendam.
Della Puspita saat ini menegaskan bahwa pemberian kesempatan kedua ini tidak serta-merta menjamin kelangsungan rumah tangganya. Ia secara eksplisit menuntut perubahan sikap yang substansial dan berkelanjutan dari Arman, menolak "tobat tomat" atau perubahan yang hanya bersifat sementara. Insiden masa lalu seperti "maki-maki, teriak-teriak, sampai ada gugatan" dinilainya sebagai tindakan yang "keterlaluan." Ke depan, kestabilan pernikahan mereka akan sangat bergantung pada kapasitas Arman Wosi untuk menunjukkan transformasi perilaku yang konsisten, sebuah tantangan signifikan mengingat pola konflik yang telah terbangun selama bertahun-tahun. Penundaan pernikahan secara negara sebelumnya juga mengindikasikan trauma Della dari pernikahan terdahulu, yang mungkin turut membentuk kehati-hatiannya dalam menghadapi krisis saat ini.