:strip_icc()/kly-media-production/medias/5475650/original/088292700_1768635751-Kim_Seon_Ho_0.jpeg)
Aktor Korea Selatan Kim Seon Ho menginvestasikan empat bulan intensif untuk menguasai setidaknya tiga bahasa asing — Inggris, Jepang, dan Italia — didampingi guru khusus demi perannya sebagai penerjemah multibahasa Joo Ho Jin dalam serial Netflix "Can This Love Be Translated?", yang tayang perdana pada 16 Januari 2026. Persiapan mendalam ini menyoroti tuntutan yang semakin tinggi terhadap aktor di industri hiburan global, terutama dalam produksi drama Korea yang semakin banyak melintasi batas negara.
Kim Seon Ho mengungkapkan pada konferensi pers di Jakarta pada 16 Januari 2026, bahwa karakter Joo Ho Jin dikisahkan fasih dalam enam bahasa, namun dalam drama tersebut, dia berakting menggunakan empat bahasa: Jepang, Inggris, Italia, dan Korea. “Saya mempersiapkan peran ini selama empat bulan dan belajar dengan beberapa guru bahasa. Kalau tidak melakukan itu, mungkin saya sudah menyerah di beberapa adegan,” ujar Seon Ho, menekankan kompleksitas peran yang membutuhkan kefasihan linguistik yang meyakinkan. Dia menambahkan bahwa bahasa Jepang adalah yang paling menantang karena detail dan porsi dialognya yang banyak, disusul bahasa Italia yang juga sulit.
Langkah Kim Seon Ho ini merefleksikan tren peningkatan investasi produksi K-drama untuk mencapai audiens global. Serial "Can This Love Be Translated?" sendiri berlatar di berbagai lokasi internasional, termasuk Korea, Jepang, Kanada, dan Italia, menjadikan kemampuan multibahasa pemeran utamanya sebagai elemen krusial untuk realisme naratif dan daya tarik lintas budaya. Sutradara Yoo Young Eun menyoroti bahwa serial ini secara intrinsik membahas tantangan komunikasi dan kesalahpahaman, bahkan dalam konteks cinta, yang diperkuat melalui peran seorang penerjemah multibahasa.
Dedikasi aktor terhadap pembelajaran bahasa bukanlah fenomena baru di industri hiburan Korea, namun upaya intensif selama empat bulan dengan guru khusus untuk setiap bahasa, seperti yang dilakukan Kim Seon Ho, mengindikasikan standar baru. Aktor Korea lain seperti Lee Byung Hun, Choi Woo Shik, dan Rain juga dikenal menguasai bahasa asing untuk peran internasional atau berkomunikasi dengan penggemar global, seringkali membutuhkan waktu dan metode belajar yang bervariasi. Dalam kasus Kim Seon Ho, karakternya sebagai penerjemah profesional membutuhkan akurasi dan nuansa emosional, bukan sekadar pelafalan. Hal ini mendorongnya untuk fokus tidak hanya pada memorisasi naskah tetapi juga pada penyampaian emosi dan pemahaman tata bahasa secara mendalam.
Komitmen ini tidak hanya memperkaya kualitas akting Kim Seon Ho, tetapi juga berpotensi memperluas jangkauan kariernya di pasar global yang semakin terintegrasi. Dengan Hallyu atau Gelombang Korea yang terus mendominasi budaya populer global, kemampuan berbahasa asing menjadi aset tak ternilai bagi para aktor untuk berinteraksi dengan penggemar, berpartisipasi dalam produksi internasional, dan memerankan karakter yang lebih beragam. Peran Joo Ho Jin yang "canggung dalam mengekspresikan perasaannya sendiri" namun fasih dalam bahasa asing, menciptakan kontras menarik yang menjadi inti cerita romantis-komedi ini. Upaya Kim Seon Ho untuk menghidupkan karakter tersebut menunjukkan pergeseran fokus industri dari sekadar popularitas menuju kedalaman karakter dan otentisitas penceritaan.