
Aktris Aurelie Moeremans secara eksplisit meminta publik menghentikan spekulasi dan perundungan daring terhadap sosok-sosok yang disebut dalam memoarnya, "Broken Strings," yang telah memicu gelombang diskusi intensif di media sosial. Pernyataan tegas ini disampaikan Moeremans menyusul maraknya dugaan warganet yang mengaitkan karakter dalam buku tersebut dengan individu nyata, menimbulkan serangan digital yang tidak diinginkan.
"Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth" adalah memoar pribadi yang dirilis pada Oktober 2025, atau awal Januari 2026, di mana Moeremans mengisahkan pengalaman traumatisnya sebagai korban child grooming dan manipulasi emosional sejak usia 15 tahun, termasuk keterlibatan dalam hubungan toxic serta kekerasan seksual. Buku ini menggunakan metafora "senar yang putus" untuk melambangkan trauma emosional mendalam dan perjalanan penyembuhan yang kompleks. Sejak kemunculannya, memoar ini menjadi viral, mendorong pembaca untuk mencoba menebak identitas karakter seperti "Bobby" yang diasosiasikan dengan Roby Tremonti, dan "artis dingin" yang beberapa spekulasi menyangkutpautkan dengan Nikita Willy, serta karakter lain seperti Kelly, Jo, dan Milo.
Melalui akun Threads-nya, @aurelie, Moeremans menyatakan ketidaknyamanannya terhadap asumsi dan serangan yang beredar. "Tolong jangan mem-bully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan-tebakan. Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar, dan jujur aku enggak enak bacanya," tulisnya pada 17 Januari 2026. Ia menekankan bahwa tujuan utama penulisan buku adalah untuk berbagi pengalaman, luka, dan proses penyembuhan, serta membuka kesadaran publik tentang isu child grooming dan memberikan dukungan bagi para penyintas, bukan untuk mencari atau menghakimi sosok tertentu di dunia nyata. "Aku nulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru buat di-bully," tegasnya, seraya berharap ruang diskusi tetap aman dan penuh empati.
Fenomena cyberbullying terhadap figur publik di Indonesia bukanlah hal baru. Tingkat penetrasi internet di Indonesia mencapai 73,7% pada awal 2021, dengan 202,6 juta pengguna, menciptakan arena luas bagi interaksi daring yang sayangnya kerap diwarnai tindakan perundungan. Studi menunjukkan bahwa cyberbullying terhadap selebriti perempuan di Indonesia seringkali menyerang penampilan fisik, seksualitas, dan perilaku. Dampak psikologis cyberbullying sangat serius, meliputi depresi, kecemasan, keinginan menyakiti diri sendiri, dan bahkan potensi percobaan bunuh diri, seperti yang pernah dialami oleh beberapa selebriti lain di Indonesia. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menyoroti kasus-kasus kekerasan verbal daring yang menyebabkan korban kehilangan rasa percaya diri. Berdasarkan riset Microsoft, Indonesia pernah menduduki peringkat 29 dari 32 negara di Asia Pasifik dalam Indeks Peradaban Digital (DCI) selama lima tahun terakhir, mengindikasikan rendahnya tingkat kesopanan digital.
Reaksi publik terhadap "Broken Strings" menyoroti tantangan yang dihadapi figur publik dalam menyeimbangkan ekspresi artistik dan privasi di era digital. Meskipun sebuah karya memoir dapat menjadi alat powerful untuk menyuarakan isu-isu penting dan mendukung penyintas, interpretasi yang spekulatif dan agresif oleh khalayak dapat mengaburkan pesan utama dan justru menciptakan korban baru dari perundungan daring. Aurelie Moeremans kini berupaya mengarahkan kembali fokus diskusi pada esensi bukunya, yaitu kesadaran dan penyembuhan, di tengah kompleksitas interaksi antara karya pribadi dan ruang publik.