
Gelombang narasi film dan televisi global kini semakin intens menyoroti potret keluarga dalam kondisi paling rentan, menggambarkan perjuangan mereka di tengah kehancuran, baik yang bersifat fisik akibat bencana atau konflik, maupun kehancuran metafisika yang merenggut keutuhan batin. Tren ini, yang kerap disebut sebagai "Keluarga dalam Dunia yang Rapuh di Tanah Runtuh," bukan sekadar hiburan melainkan cerminan kecemasan kolektif dan pencarian makna resiliensi di era modern.
Beberapa produksi terbaru menyoroti dinamika ini dengan tajam. Film Indonesia "Mungkin Kita Perlu Waktu," yang dijadwalkan rilis Mei 2025, secara sensitif mengeksplorasi kehancuran sebuah keluarga yang dipicu oleh kematian anggota keluarga dan isu kesehatan mental, menggambarkan bagaimana kesedihan individual dapat meretakkan fondasi kolektif. Di sisi lain, serial Netflix yang akan datang, "Serangan Balik," yang dibintangi Lukman Sardi sebagai mantan tentara, menggabungkan aksi dengan drama keluarga, berpusat pada isu disfungsi keluarga yang terpaksa bersatu melawan penjahat di desa terpencil pada Januari 2026. Sutradara Randolph Zaini melalui film horor "Dia Bukan Ibu" yang tayang September 2025, juga mengeksplorasi teror yang lahir dari relasi ibu dan anak setelah perceraian, menunjukkan bagaimana figur sentral dalam keluarga bisa menjadi sumber ketidaknyamanan ekstrem.
Fenomena ini bukan hal baru namun mengalami rekontekstualisasi. Film Jepang "Survival Family" (2017) menjadi contoh klasik perjuangan keluarga di tengah ketiadaan teknologi akibat bencana, menekankan pentingnya semangat "kizuna" atau ikatan keluarga saat menghadapi kesulitan. Analisis film "Keluarga Cemara" (2019) oleh studi kualitatif dalam Jurnal Ilmu Komunikasi Massive pada Juni 2025 menunjukkan bahwa krisis ekonomi drastis mendorong pola komunikasi keluarga menjadi lebih inklusif dan demokratis, memperkuat dukungan emosional, dan pengambilan keputusan di masa sulit. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa kesulitan ekonomi berfungsi sebagai katalisator yang memunculkan konflik internal, namun pada saat yang sama, memperkuat nilai-nilai inti seperti pengorbanan, kejujuran, dan komunikasi terbuka sebagai mekanisme pertahanan keluarga. Film ini menawarkan narasi tandingan atas mitos kemakmuran, menempatkan keutuhan dan cinta kasih sebagai "harta" utama keluarga yang mampu mengatasi segala perubahan materi.
Wulan Nur Jatmika, Dosen Psikologi Klinis Universitas Gadjah Mada, menggarisbawahi relevansi narasi semacam ini dengan realitas sosial. Dalam ulasannya terhadap film animasi "Jumbo" pada April 2025, ia menyatakan bahwa film tersebut mencerminkan "Adverse Childhood Experiences" (ACEs) di Indonesia, di mana anak-anak dapat mengalami trauma akibat kehilangan peran orang tua, pengabaian, atau disfungsi sosial keluarga. Ini menunjukkan bahwa "tanah runtuh" tidak selalu berarti kehancuran fisik, melainkan juga kerentanan psikologis yang mendalam dalam struktur keluarga.
Kritikus dan akademisi memandang representasi ini sebagai refleksi kecemasan sosial dan upaya sinema untuk memproses dinamika masyarakat. Analisis terhadap film "Aku Tak Membenci Hujan" menggunakan perspektif Family Systems Theory menyoroti disfungsi keluarga dan "emotional cutoff" sebagai respons maladaptif terhadap kecemasan kronis. Sementara itu, Intan Paramaditha, seorang penulis dan ahli feminisme, dalam wawancara Januari 2026, membahas bagaimana sistem patriarki dan kapitalisme dapat menindas individu, terutama perempuan, hingga memicu perilaku "aneh" atau "monster" sebagai luapan kemarahan yang tidak tersalurkan, menunjukkan bahwa citra keluarga yang sempurna seringkali dikorbankan demi menjaga reputasi di kalangan menengah.
Pola komunikasi yang rusak juga menjadi tema sentral. Studi semiotika atas "Noktah Merah Perkawinan" mengungkapkan pola komunikasi yang didominasi satu pihak atau tidak seimbang, menekankan vitalnya komunikasi terbuka dalam menjaga keharmonisan keluarga. Film "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini" juga menggambarkan bagaimana rahasia keluarga dapat merusak harmoni dan menimbulkan perasaan terabaikan pada anak.
Ke depan, industri film dan televisi diproyeksikan akan terus mengeksplorasi kerumitan hubungan keluarga di tengah tantangan yang semakin kompleks. Industri layar Indonesia sendiri, yang mencakup film, animasi, video, dan televisi, diproyeksikan bertumbuh dengan tingkat CAGR sebesar 6,13% dari 2023 hingga 2027, berpotensi menghasilkan output ekonomi hingga Rp 156 triliun pada 2027. Pertumbuhan ini memungkinkan lebih banyak ruang bagi narasi yang tidak hanya menghibur, tetapi juga merangsang refleksi mendalam tentang nilai-nilai keluarga, resiliensi, dan dampak kondisi eksternal maupun internal terhadap unit sosial paling fundamental ini. Para pembuat film semakin berani mengangkat isu-isu yang sensitif dan relevan, mengubah layar menjadi medium penting untuk memahami dan mengatasi kerapuhan kolektif di tengah dunia yang terus berubah.