Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Gandhi Fernando Ungkap Drama di Balik Pembuatan Buto Ijo Live Action

2026-01-12 | 22:58 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-12T15:58:01Z
Ruang Iklan

Gandhi Fernando Ungkap Drama di Balik Pembuatan Buto Ijo Live Action

Aktor-produser sekaligus penulis skenario Gandhi Fernando menghadapi serangkaian tantangan signifikan dalam merealisasikan film horor terbarunya, Penunggu Rumah: Buto Ijo, yang dijadwalkan tayang mulai 15 Januari 2026. Fokus produksi yang mengandalkan efek praktis, khususnya kostum prostetik penuh, alih-alih CGI ekstensif, menjadi sumber kendala teknis dan artistik yang kompleks dalam menghidupkan karakter mitologi populer tersebut ke layar lebar.

Penggunaan kostum prostetik penuh pada pemeran Buto Ijo, Pratito Wibowo, memunculkan kesulitan pernapasan dan risiko keselamatan serius di lokasi syuting. Kostum yang berat, lengket, dan minim sirkulasi udara membuat Wibowo hanya dapat mengenakannya selama satu hingga dua kali pengambilan gambar per sesi, bahkan di studio ber-AC, dan memerlukan tabung oksigen untuk membantu pemulihan. Gandhi Fernando secara langsung menyatakan bahwa keselamatan aktor menjadi prioritas utama, mengharuskan kehati-hatian ekstra terutama jika syuting dilakukan di lokasi luar ruangan tanpa pendingin udara.

Di luar aspek teknis fisik, tantangan besar lainnya terletak pada desain karakter Buto Ijo itu sendiri. Sosok Buto Ijo, raksasa berkulit hijau dari mitologi Jawa yang juga antagonis utama dalam legenda Timun Mas, selama ini sering divisualisasikan secara kartunis atau dalam konteks dongeng anak-anak. Fernando menekankan perlunya menemukan titik tengah yang membuat karakter tersebut tampak seram dan mengintimidasi, namun tetap akrab dan dikenali oleh penonton sebagai Buto Ijo yang mereka kenal, tanpa jatuh ke kesan lucu atau terlalu monster sehingga kehilangan identitas folklornya. Efek digital terbatas, misalnya, hanya digunakan untuk menghidupkan bagian mata Buto Ijo.

Keputusan untuk mengadaptasi Buto Ijo merupakan respons Gandhi Fernando terhadap dominasi tema horor Indonesia yang berulang, seperti pocong dan kuntilanak. Ia memiliki keinginan untuk menyajikan sesuatu yang berbeda dan segar, dengan mengangkat cerita rakyat lokal dalam kemasan modern. Film ini dirancang sebagai horor ramah keluarga, menghindari adegan darah dan kekerasan berlebihan, sebuah pendekatan yang diharapkan dapat memperluas spektrum penonton film horor di Indonesia, mengingatkan pada serial "Goosebumps" yang ia baca di masa kecilnya.

Dalam konteks industri perfilman Indonesia yang sedang berkembang pesat, pendekatan produksi Penunggu Rumah: Buto Ijo menyoroti kompleksitas adaptasi cerita rakyat dengan keterbatasan anggaran dan tantangan teknis. Meskipun industri film nasional menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, dengan peningkatan jumlah produksi film tahunan dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk efisiensi di beberapa lini produksi, para pembuat film independen masih bergulat dengan akses terbatas ke bioskop dan kendala perizinan yang dapat memicu kenaikan biaya produksi. Pilihan Gandhi Fernando untuk mengandalkan efek praktis pada Buto Ijo, meski menimbulkan kesulitan besar bagi aktor dan kru, mencerminkan upaya untuk mencapai kualitas visual yang nyata tanpa sepenuhnya bergantung pada solusi digital yang seringkali berbiaya tinggi. Hal ini juga dapat dilihat sebagai strategi untuk membedakan diri di pasar yang kompetitif, sembari membuka diskusi tentang batas-batas adaptasi folklor lokal dan inovasi dalam teknik produksi di kancah perfilman Indonesia. Film ini dikabarkan akan membangun ketegangan melalui suasana, simbol budaya, dan drama antar karakter, bukan semata-mata mengandalkan jumpscare.