
Musisi Marcello Tahitoe, dikenal sebagai Ello, dan komika Oki Rengga menyatakan apresiasi mendalam terhadap talenta lokal dalam ajang "Aice Got You! Panggung Crispymu!" di Medan pada 14 Januari 2026, menyoroti keberanian dan karakter kuat seniman daerah yang kerap terpinggirkan dari panggung nasional. Keduanya berfungsi sebagai juri dalam gelaran yang bertujuan mendesentralisasi industri kreatif Indonesia dari dominasi Jakarta.
Ello secara eksplisit memuji keunikan dan semangat tampil para peserta dari Sumatera Utara. "Medan ini selalu beda rasanya. Penampilan 15 peserta di Grand Final luar biasa keren. Setiap peserta yang tampil itu punya karakter yang kuat tersendiri," ujarnya dalam keterangan resmi. Penilaiannya menunjukkan bahwa kualitas dan otentisitas kreativitas tidak lagi hanya berpusat di ibu kota.
Senada dengan Ello, Oki Rengga, yang juga merupakan komika asal Medan, mengekspresikan kebanggaannya melihat totalitas penampilan para seniman muda. "Saya selaku orang Medan asli merasa bangga. Aku tahu betul kalau anak Medan tampil pasti membanggakan. Kali ini di panggung Aice Got You! pecah, ngeri nih panggung," tuturnya, merefleksikan ikatan emosional dan keyakinannya terhadap potensi daerah. Pengalamannya sebagai juri di ajang serupa seperti "Comic 8 Revolution" pada tahun 2024 bersama Indro Warkop dan Cak Lontong, di mana ia juga mengakui merasa terkejut dipercaya menilai aspek teknis, memberikan perspektif tambahan tentang pentingnya panggung bagi talenta yang sedang berkembang.
"Aice Got You! Panggung Crispymu!" dirancang sebagai inisiatif strategis untuk memecah sentralisasi panggung kreatif di Jakarta, dengan rangkaian acara yang menyambangi lima kota: Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Medan, dan Surabaya. Di Medan, panggung tersebut menjadi wadah bagi eksperimen musik yang berani, termasuk kolaborasi alat musik tradisional Karo dengan sentuhan Electronic Dance Music (EDM) dan beragam penampilan vokal yang memukau. Sylvana Zhong, Senior Brand Manager Aice Group, menegaskan bahwa Medan dipilih karena energi dan spontanitas warganya yang berani, tercermin dari penampilan peserta yang total dan beragam.
Kehadiran panggung nasional di daerah, seperti yang digagas Aice, bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk pengakuan signifikan dan dorongan mental bagi talenta muda untuk merealisasikan impian mereka. Secara historis, Sumatera Utara telah secara konsisten menyumbang persentase signifikan dalam ajang pencarian bakat di televisi nasional, menghasilkan legenda musik lintas generasi, namun ribuan seniman muda seringkali kekurangan akses ke panggung produksi besar. Desentralisasi panggung kreativitas ini berimplikasi pada pemerataan kesempatan, memvalidasi bakat daerah, dan mendorong inkubasi lokal yang esensial untuk pembangunan kepercayaan diri seniman menuju karier profesional yang lebih stabil, tanpa harus bermigrasi ke pusat-pusat industri. Ini juga menjadi katalisator bagi ekosistem kreatif daerah, memperkuat identitas budaya, dan menyediakan platform berkelanjutan bagi ekspresi artistik yang autentik.