Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Della Puspita Bangkit: Trauma Dipermalukan Jadi Dorongan Kuat

2026-01-19 | 10:37 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T03:37:28Z
Ruang Iklan

Della Puspita Bangkit: Trauma Dipermalukan Jadi Dorongan Kuat

Aktris Della Puspita menyatakan tekadnya untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan tidak lagi membiarkan dirinya dipermalukan, menyusul serangkaian polemik publik yang melibatkan rumah tangga dan masalah hukumnya. Pernyataan tegas tersebut disampaikan Della di Studio Trans TV, Jakarta, pada 18 Januari 2026, menyiratkan trauma mendalam dari badai permasalahan yang baru-baru ini menerpa kehidupannya.

Tekad Della Puspita untuk tidak lagi terjebak dalam rasa takut atau drama masa lalu muncul setelah gugatan cerai talak yang diajukan suaminya, Arman Wosi, di Pengadilan Agama Bekasi pada awal Desember 2025. Meskipun Arman Wosi kemudian mencabut gugatan tersebut dengan alasan emosi sesaat dan keinginan mempertahankan rumah tangga, Della mengungkapkan bahwa insiden tersebut bukanlah yang pertama. Selama tiga tahun pernikahan mereka, Della kerap menerima ucapan talak dari sang suami di setiap pertengkaran, kondisi yang memicu kecemasan dan ketidaktenangan dalam dirinya. Della Puspita saat ini masih menanti perubahan sikap Arman Wosi, mengingat ia sempat merasa suaminya cukup membatasi dirinya.

Sebelumnya, pernikahan Della Puspita dengan Arman Wosi pada 11 Mei 2023, setelah sepuluh tahun menjanda, sempat diwarnai tudingan kontroversial. Seorang wanita bernama Anindita Keisha Zahra muncul di media sosial, mengaku sebagai istri sah Arman Wosi dan menuding Della telah merebut suaminya. Della dengan tegas membantah tuduhan tersebut, menyatakan bahwa ia menikahi seorang pria yang tidak beristri. Arman Wosi pun mengklarifikasi bahwa ia telah bercerai dari istri sebelumnya sebelum menikahi Della. Hanya dua bulan setelah pernikahan siri mereka, Della kembali menjadi sorotan ketika ia secara terbuka mengunggah keluh kesah mengenai konflik rumah tangga di media sosial, mengklaim menerima ancaman dan bahwa Arman kerap menyebarkan pertengkaran mereka melalui pesan langsung Instagram kepada teman-temannya. Della kala itu menyatakan rasa malu, namun merasa terpaksa bicara karena konflik terus-menerus dilemparkan ke media sosial.

Tekanan publik terhadap Della Puspita semakin meningkat dengan keterlibatannya dalam kasus penipuan travel umrah pada Januari 2025. Della dan Arman Wosi melaporkan telah dirugikan hampir Rp400 juta oleh seorang rekan sesama pemain sinetron berinisial A. Konflik ini berkembang ketika Della kemudian dituding melakukan penggelapan mobil oleh Qemil Zain, salah satu korban lain dalam kasus penipuan yang sama. Qemil Zain memenangkan gugatan perdata di Pengadilan Negeri Bekasi yang membuktikan adanya perbuatan melawan hukum oleh Della, Arman, dan Aca, menjadikan putusan tersebut sebagai dasar untuk mendorong tindak lanjut kasus pidana. Della mengungkapkan kemarahannya atas tudingan ini, menyatakan dampak buruk pada citra digitalnya yang akan dilihat oleh anak dan cucunya. Ia menegaskan, "Lu injek kepala gue, lu udah menorehkan jejak digital gue buruk di hidup gue. Anak gue cucu gue liat. Dulu gue mikir silent is gold, tapi sekarang nggak".

Della Puspita kini menegaskan martabatnya sebagai perempuan tidak dapat ditawar lagi. Ia menyadari bahwa sikapnya yang terlalu banyak menahan diri di masa lalu justru membuka celah untuk diperlakukan tidak semestinya. Della menyatakan tidak akan ragu untuk melangkah pergi jika di kemudian hari kembali mendapatkan perlakuan kasar atau tidak dihormati dalam pernikahannya, menggarisbawahi prinsip "jangan pernah nyakitin kalau nggak mau disakitin". Pendirian baru ini mencerminkan pergeseran signifikan dalam pendekatannya terhadap hubungan personal dan publik, memilih untuk bersikap lebih santai namun tidak mengorbankan harga diri di hadapan takdir. Implikasi dari pernyataan ini menyoroti meningkatnya kesadaran figur publik terhadap kesehatan mental dan batas-batas privasi di era digital, di mana setiap konflik personal dapat dengan cepat menjadi konsumsi publik dan membentuk narasi karier. Ini juga menggambarkan evolusi respons selebriti terhadap pengawasan media dan masyarakat, dari pasrah menjadi proaktif dalam mempertahankan integritas diri.