Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Dari Tolong Saya Dowajuseyo, Saskia Chadwick Kini Resmi Ratu Horor Generasi Baru

2026-01-12 | 18:33 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-12T11:33:57Z
Ruang Iklan

Dari Tolong Saya Dowajuseyo, Saskia Chadwick Kini Resmi Ratu Horor Generasi Baru

Aktris muda Saskia Chadwick kini dihadapkan pada predikat "Ratu Horor Baru Indonesia" menyusul perannya sebagai Tania dalam film kolaborasi Indonesia-Korea Selatan, Tolong Saya! (Dowajuseyo), yang dijadwalkan rilis pada 29 Januari 2026. Predikat ini muncul setelah Chadwick dinilai menunjukkan kapasitas akting yang kuat dalam genre horor, khususnya melalui eksplorasi karakter kompleks yang menjadi pusat teror dan konflik emosional dalam produksi Heart Pictures tersebut.

Munculnya julukan "Ratu Horor" bagi seorang aktris di Indonesia bukanlah fenomena baru. Sejak dekade 1970-an hingga 1990-an, mendiang Suzzanna Martha Frederika van Osch, yang dikenal luas melalui film-film ikonik seperti Beranak dalam Kubur (1971) dan Sundel Bolong (1981), secara luas diakui sebagai "Ratu Horor Indonesia" karena kemampuannya menghidupkan karakter-karakter mistis yang melekat pada ingatan publik. Setelah era Suzzanna, beberapa aktris lain, termasuk Shareefa Daanish dan Luna Maya, juga sempat menerima predikat serupa atas kontribusi mereka pada genre ini. Saskia Chadwick, yang lahir pada 9 November 2006, memulai karier aktingnya pada 2018 melalui sinetron dan FTV, sebelum beralih ke layar lebar dengan film horor seperti Munkar (2024) dan Petak Umpet (2024). Perannya dalam film Jalan Pulang (2025) yang mempertemukannya dengan Luna Maya, Taskya Namya, dan Shareefa Daanish, disebut-sebut mulai menarik perhatian terhadap kemampuannya dalam membawakan peran yang menuntut kedalaman emosi dan ketahanan psikologis.

Fenomena ini terjadi di tengah lonjakan popularitas film horor di Indonesia. Pada 2025, industri film nasional mencatat rekor penonton tertinggi sepanjang sejarah dengan 80,27 juta orang, sedikit melampaui rekor 2024 yang mencapai 80,21 juta penonton. Genre horor menjadi kategori yang paling dominan, dengan 90 dari 201 film Indonesia yang beredar di bioskop sepanjang 2025 bergenre horor. Pengamat film dan budaya pop, Hikmat Darmawan, menjelaskan bahwa film horor telah menjadi identitas perfilman Indonesia sejak era 1980-an dan minat masyarakat terhadap genre ini terus meningkat karena adanya "semangat untuk membuat film horor lebih baik" serta kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dalam Tolong Saya! (Dowajuseyo), Chadwick memerankan Tania, seorang mahasiswa Indonesia yang mengalami teror supranatural di Korea Selatan. Film ini menuntutnya untuk berinteraksi dengan aktor lintas negara dan bahkan membawakan dialog dalam bahasa Korea, yang ia pelajari secara khusus untuk peran tersebut. Upaya adaptasi ini menunjukkan dedikasi aktris tersebut terhadap perannya dan menggarisbawahi komitmen industri untuk menghasilkan karya yang lebih ambisius.

Implikasi dari predikat "Ratu Horor Baru" ini dapat membawa dampak signifikan bagi karier Saskia Chadwick maupun lanskap film horor Indonesia. Bagi Chadwick, julukan ini bisa memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain kunci di genre horor yang sedang berkembang pesat. Namun, hal ini juga membawa tantangan untuk terus berinovasi dan menghindari stereotip. Di sisi lain, kemunculan wajah-wajah baru di garis depan genre horor dapat mendorong regenerasi dan diversifikasi dalam industri, memungkinkan eksplorasi narasi dan gaya yang lebih segar. Mengingat dominasi film horor dalam perolehan penonton domestik, keberadaan "Ratu Horor" yang baru juga dapat menjadi daya tarik tambahan yang konsisten bagi pasar, memperkuat posisi genre ini sebagai tulang punggung perfilman nasional sekaligus membuka peluang untuk penetrasi pasar internasional, seperti yang terlihat pada film horor Indonesia lain yang mulai dilirik oleh negara-negara seperti Jepang. Tantangan mendatang akan terletak pada bagaimana Saskia Chadwick dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengembangkan spektrum aktingnya dan bagaimana industri film horor Indonesia secara keseluruhan dapat terus memproduksi karya berkualitas yang tidak hanya mengandalkan ketakutan sesaat, tetapi juga kedalaman cerita dan relevansi budaya.