
Aktris Aurelie Moeremans baru-baru ini secara publik mengulas perjalanannya dalam memulihkan diri dari trauma masa lalu, terutama pengalaman sebagai korban child grooming yang terjadi sekitar 16 tahun lalu ketika ia masih berusia 15 tahun. Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan peluncuran e-book memoarnya yang berjudul "Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth" pada 3 Januari 2026, yang sontak menjadi viral di berbagai platform media sosial. Buku ini mendetailkan pengalaman Aurelie terjebak dalam hubungan manipulatif dan eksploitatif dengan seorang pria dewasa yang hampir dua kali lipat usianya, yang ia sebut dengan nama samaran "Bobby".
Kisah dalam "Broken Strings" mengungkapkan bagaimana Aurelie mengalami kekerasan psikologis dan fisik, serta kontrol ketat yang membatasi pergaulannya. Ia mengaku sempat kehilangan kepercayaan diri dan terjebak dalam situasi yang membelenggu kreativitas serta kebahagiaannya. Peristiwa ini memuncak pada pernikahan di usia muda yang sempat menghebohkan publik beberapa tahun silam, yang belakangan diklarifikasi Aurelie tidak sah secara hukum kanonik, diperkuat oleh terbitnya status liber dari otoritas gereja. Aurelie Moeremans menegaskan bahwa proses menulis e-book ini bukan indikasi dirinya telah pulih sepenuhnya, melainkan merupakan bagian integral dari upaya penyembuhan itu sendiri. "Menulis membuat aku berhenti menyalahkan diri sendiri," ungkap Aurelie pada 14 Januari 2026.
Proses pemulihan trauma yang dialami Aurelie Moeremans mencakup beberapa langkah krusial. Dalam bukunya, ia secara terbuka menyatakan telah menjalani sesi terapi dengan psikolog dan psikiater untuk mengurai trauma kompleksnya. Menulis "Broken Strings" berfungsi sebagai katarsis, memungkinkannya melepaskan beban yang selama ini dipendam sendirian. Selain itu, ia menekankan pentingnya berhenti menyalahkan diri sendiri, memahami bahwa kesalahan sepenuhnya berada pada pelaku dalam kasus child grooming. Aurelie juga menyoroti peran penting support system yang sehat, termasuk membangun kembali hubungan dengan keluarga dan teman-teman, serta mengubah pengalaman pahitnya menjadi alat edukasi bagi orang lain.
Psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi menjelaskan bahwa trauma akibat kekerasan, terutama pada remaja, merupakan luka psikologis yang sangat kompleks dan memerlukan proses pemulihan jangka panjang. Ia menekankan bahwa langkah pertama adalah memastikan keamanan fisik dan emosional korban, diikuti dengan pemberian ruang aman untuk bercerita tanpa penghakiman. Senada, psikolog klinis Anastasia Sari Dewi menyebutkan bahwa korban grooming seringkali baru menyadari situasi traumatis tersebut ketika dewasa, saat mereka mampu memproses memori secara lebih logis. Psikolog klinis Arnold Lukito mendefinisikan grooming sebagai hubungan romantik sistematis antara orang dewasa dan anak di bawah 18 tahun, yang sering diawali dengan tindakan manis yang tidak mencurigakan sebelum beralih ke manipulasi.
Reaksi publik terhadap "Broken Strings" sangat signifikan, memicu gelombang empati dan dukungan. Banyak pembaca merasa terbantu dan tergerak, bahkan ada yang mengaku teringat pengalaman serupa dari masa lalu mereka. E-book ini telah dibaca puluhan ribu kali dalam beberapa minggu setelah dirilis, memperkuat kesadaran tentang isu child grooming dan kesehatan mental. Meskipun demikian, viralnya buku ini juga diiringi tantangan, termasuk peretasan akun Instagram khusus buku "Broken Strings", yang dinilai Aurelie sebagai upaya pembungkaman. Namun, insiden tersebut justru memicu gelombang dukungan lebih besar dari warganet dan figur publik, menegaskan pentingnya keberanian korban untuk bersuara.
Kasus Aurelie Moeremans ini merefleksikan dinamika yang lebih luas dalam penanganan trauma di ruang publik, khususnya bagi figur selebriti. Keterbukaan Aurelie tidak hanya berfungsi sebagai media penyembuhan pribadi, tetapi juga sebagai platform advokasi. Ini mendorong diskursus sosial tentang pentingnya edukasi relasi sehat, bahaya manipulasi, serta dukungan yang diperlukan bagi para penyintas. Seperti yang diungkapkan Aurelie, "Healing itu bukan garis lurus. Ada hari-hari di mana aku merasa sudah baik-baik saja, tapi ada juga hari di mana luka itu terasa perih lagi. Dan itu tidak apa-apa." Pernyataan ini menegaskan bahwa pemulihan adalah perjalanan panjang yang penuh kesadaran dan penerimaan, bukan proses instan yang berujung pada penyembuhan total. Dampak jangka panjang trauma, seperti rasa bersalah, kehilangan kepercayaan diri, dan kesulitan membangun relasi sehat, seringkali terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara korban memaknai cinta serta batasan diri. Oleh karena itu, dukungan profesional dan sistem pendukung yang kuat tetap esensial.