
Musisi Ahmad Dhani menyatakan bahwa pernikahan putranya, El Rumi, tidak akan melibatkan tradisi "unduh mantu" dan menyinggung kondisi ekonomi, sebuah pernyataan yang memicu diskusi luas mengenai adaptasi nilai budaya dalam ranah selebriti dan realitas ekonomi saat ini. Pernyataan Dhani, yang disampaikan dalam sebuah wawancara baru-baru ini, secara spesifik menyoroti bahwa prosesi tradisional Jawa yang biasanya melibatkan pengenalan menantu perempuan ke keluarga besar pengantin pria tidak akan dilaksanakan untuk El Rumi, dengan alasan yang mengindikasikan pertimbangan finansial atau praktis. Hal ini menandai pergeseran dari ekspektasi sosial terhadap keluarga figur publik di Indonesia, yang seringkali diyakini akan melangsungkan perayaan pernikahan secara besar-besaran dan sesuai adat.
Tradisi "unduh mantu" dalam budaya Jawa secara historis merupakan upacara penting yang melambangkan penerimaan seorang menantu perempuan ke dalam garis keturunan keluarga suami, seringkali dirayakan dengan kemewahan dan mengundang banyak tamu sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan sosial. Pernyataan Dhani yang secara terbuka menolak praktik ini, terutama dengan menyinggung "kondisi ekonomi," menimbulkan pertanyaan mengenai tekanan finansial yang mungkin dihadapi bahkan oleh figur publik, atau apakah ini merupakan upaya untuk mendefinisikan ulang norma-norma sosial dalam konteks modern. Tidak jelas apakah Dhani merujuk pada kondisi ekonomi pribadinya, kondisi ekonomi keluarga secara umum, atau kondisi makroekonomi yang lebih luas di Indonesia. Data terakhir dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa inflasi tahunan Indonesia pada Desember 2025 mencapai 2,81% year-on-year, dengan beberapa sektor jasa, termasuk terkait acara dan perayaan, mengalami peningkatan biaya operasional.
El Rumi sendiri, yang saat ini belum mengumumkan rencana pernikahan dalam waktu dekat, kerap menjadi sorotan publik terkait kehidupan pribadinya, namun belum memberikan tanggapan langsung terkait pernyataan ayahnya. Pernyataan Dhani dapat diinterpretasikan sebagai refleksi atas perubahan prioritas di kalangan masyarakat, termasuk selebriti, di mana efisiensi dan relevansi menjadi lebih diutamakan dibandingkan kepatuhan mutlak terhadap tradisi yang memerlukan alokasi sumber daya signifikan. Implikasi jangka panjang dari pandangan Dhani ini dapat mendorong dialog lebih lanjut mengenai fleksibilitas adaptasi budaya di tengah tantangan ekonomi dan evolusi gaya hidup modern. Ini juga dapat memberikan preseden bagi figur publik lainnya untuk lebih transparan mengenai pertimbangan di balik keputusan pribadi mereka, khususnya yang berkaitan dengan adat dan finansial, yang pada akhirnya dapat memengaruhi persepsi publik tentang kemewahan dan kesederhanaan di ranah selebriti.