
Aktor senior Adam Jordan secara konsisten menghadapi interaksi fisik dari penggemar, khususnya ibu-ibu, yang merasa frustrasi dengan karakternya sebagai suami yang tidak tegas di berbagai sinetron. Fenomena ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lebih dari tiga dekade karier Jordan di dunia akting, sering terjadi di ruang publik akibat penonton yang sulit memisahkan realitas dari fiksi di layar kaca.
Jordan, yang telah aktif sejak tahun 1993, mengungkapkan bahwa ia kerap dicubit dan ditegur langsung oleh para ibu-ibu yang terbawa perasaan (baper) atas peran yang ia mainkan. "Kalau aku lagi dapat peran jadi suami yang tidak tegas gitu kan, kan ada tuh peran Ikatan Suami Takut Istri. Pas lagi jalan, ibu-ibu nyubitin. 'Ih jadi suami gak tegas banget sih'. Dicubitin gitu," ujar Adam Jordan pada Selasa (13/1/2026), menggambarkan interaksi yang berulang. Perlakuan serupa juga ia terima ketika memerankan karakter antagonis, menandakan respons emosional penonton yang mendalam terhadap karakter fiksi.
Dinamika antara aktor dan penonton ini menyoroti ikatan kuat yang terbentuk dalam ekosistem sinetron Indonesia. Menurut laporan Lembaga Sensor Film Indonesia (LSF) tahun 2021, sebanyak 34,6 persen masyarakat menyukai sinetron, sebuah angka yang menunjukkan daya tarik berkelanjutan terlepas dari berbagai kritik. Popularitas sinetron di Indonesia seringkali didorong oleh kemampuannya menjadi hiburan yang mudah diakses dan murah bagi semua kalangan, serta melibatkan artis dengan daya tarik fisik. Hal ini berkontribusi pada fenomena di mana penonton, terutama di kalangan yang sangat loyal, menginterpretasikan karakter fiksi seolah-olah mereka adalah persona asli sang aktor.
Kecenderungan penonton untuk mengidentifikasi secara intens dengan karakter di layar mencerminkan tingkat imersi yang tinggi, mengubah hubungan parasosial menjadi interaksi langsung. Meskipun Jordan menyikapi insiden ini dengan tawa, pengalaman tersebut menggarisbawahi tantangan unik bagi para aktor di industri sinetron yang jadwal syutingnya padat dan menuntut totalitas, bahkan hingga kelelahan yang menyebabkan momen disorientasi di luar lokasi. Interaksi semacam ini bukan sekadar anekdot ringan, melainkan juga cerminan dari bagaimana media, khususnya sinetron yang tayang setiap hari, membentuk persepsi publik dan menciptakan batas yang kabur antara dunia nyata dan dunia yang diciptakan. Bagi para aktor seperti Adam Jordan, hal ini berarti kehidupan pribadi mereka dapat terus-menerus bersinggungan dengan interpretasi publik terhadap karakter fiktif yang mereka hidupkan.