
Sutradara Achmad Romie memilih pendekatan "teror mencekam" dibandingkan "jumpscare" dalam film horor terbarunya, "Penunggu Rumah: Buto Ijo," yang dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 15 Januari 2026. Keputusan ini mencerminkan pergeseran naratif dalam sinema horor Indonesia yang berupaya menggali ketegangan psikologis dan kedalaman kultural, alih-alih mengandalkan kejutan instan semata.
Gandhi Fernando, produser sekaligus penulis naskah film tersebut, menjelaskan bahwa "Penunggu Rumah: Buto Ijo" dirancang untuk menghadirkan nuansa horor yang berbeda dari kebanyakan film lokal. Ia menekankan pembangunan ketegangan melalui suasana, simbol budaya, dan drama karakter yang kuat. "Kami ingin menghadirkan horor yang tidak sekadar menakutkan, tetapi juga membekas secara emosional," ujar Fernando, menambahkan bahwa mitos Buto Ijo ditafsirkan sebagai representasi keserakahan dan konsekuensi dari pilihan manusia. Film ini mengadaptasi kisah legendaris Timun Mas, menghadirkan sosok raksasa hijau tersebut dalam balutan horor modern yang lebih kelam.
Aspek produksi juga mendukung visi Romie, dengan tim menggandeng tim prostetik berpengalaman untuk menciptakan kostum Buto Ijo secara "full body" dan dilapisi prostetik. Pendekatan efek praktis ini bertujuan menghadirkan visual yang nyata dan menyeramkan, sementara efek digital diminimalkan, hanya digunakan pada bagian mata untuk memastikan tatapan yang mengintimidasi tanpa terlihat berlebihan. Tantangan terbesar dalam pengembangan karakter Buto Ijo adalah bagaimana menyajikannya agar tetap menyeramkan tanpa kehilangan identitas dongengnya atau terlihat lucu.
Preferensi terhadap teror psikologis ini tidak terlepas dari tren yang berkembang dalam industri film horor Indonesia. Genre horor secara konsisten mendominasi box office domestik, dengan film-film lokal memecahkan rekor jumlah penonton. Pada Januari hingga September 2024, film produksi lokal mencatat 61,25 juta penjualan tiket, dengan pangsa pasar sekitar 66%. Film horor seperti "KKN di Desa Penari" pada tahun 2022 mencatat lebih dari 10 juta penonton, menjadikannya film Indonesia terlaris sepanjang masa. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa penonton Indonesia memiliki apresiasi yang tinggi terhadap genre horor yang mampu menyentuh aspek mitologi lokal dan kepercayaan supernatural.
Beberapa pengamat film mencatat bahwa keberhasilan film-film horor yang mendalam, seperti karya Joko Anwar, "Pengabdi Setan" dan "Perempuan Tanah Jahanam," terletak pada kemampuannya menciptakan ketegangan yang dibangun perlahan melalui atmosfer dan narasi yang kuat, berbeda dengan ketergantungan pada jumpscare. Pendekatan ini mampu menciptakan ketakutan yang menetap lama setelah film berakhir. Psikolog Dr. Phil Billy Kristanto juga mengindikasikan bahwa manusia memiliki kebutuhan biologis untuk mencari sensasi, dan film horor menyediakan lingkungan aman untuk menghadapi ketakutan ini, memicu respons emosional kuat yang terkait dengan pelepasan adrenalin.
Dengan "Penunggu Rumah: Buto Ijo," Achmad Romie dan timnya berupaya melanjutkan evolusi genre horor Indonesia, memperkaya khazanah sinema dengan karakter lokal yang kuat dan relevan dengan isu masa kini, serta menawarkan pengalaman horor yang tidak hanya menakutkan, tetapi juga merangsang pemikiran dan emosi penonton. Ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi horor Indonesia di kancah domestik dan internasional, menunjukkan bahwa genre ini dapat mencapai kualitas artistik yang tinggi tanpa mengorbankan daya tariknya di pasar.