
Jakarta— Industri perfilman Indonesia mengukuhkan dominasi genre horor di kancah nasional, dengan perkiraan kumulatif 102,5 juta penonton yang menyaksikan film-film seram lokal dalam tiga tahun terakhir, periode 2023 hingga 2025. Lonjakan signifikan ini membuktikan bahwa film horor tidak sekadar menjadi pilihan hiburan, melainkan kekuatan pendorong utama pemulihan dan pertumbuhan bioskop pasca-pandemi.
Data agregat menunjukkan total penonton film Indonesia mencapai sekitar 55 juta pada tahun 2023, melonjak menjadi 69 juta pada tahun 2024, dan diperkirakan mencapai 80 juta pada tahun 2025. Dengan estimasi bahwa film horor menyumbang 40-50% dari total audiens ini, capaian lebih dari 100 juta penonton genre horor menjadi sangat realistis. Fenomena ini didukung oleh kesuksesan luar biasa sejumlah judul, seperti "KKN di Desa Penari" (2022) yang meraup 10.061.033 penonton, "Pengabdi Setan 2: Communion" (2022) dengan 6.391.982 penonton, "Vina: Sebelum 7 Hari" (2024) dengan 5.815.945 penonton, dan "Sewu Dino" (2023) yang menarik 4.891.609 penonton.
Kebangkitan sinema horor lokal pasca-pandemi COVID-19 sangat mencolok. Saat pandemi memukul keras industri, jumlah penonton bioskop anjlok drastis menjadi 12,8 juta pada 2020 dan bahkan 4,5 juta pada 2021. Namun, sejak 2022, industri mulai bangkit, dengan film horor berperan sebagai lokomotif pemulihan. Pada 2024, dari 151 film Indonesia yang tayang, 63 di antaranya bergenre horor, melebihi drama (54 film) dan komedi (18 film). Bahkan pada Januari 2026, lebih dari 70% dari 22 film yang tayang di bioskop didominasi horor lokal.
Beberapa faktor fundamental mendorong dominasi genre ini. Pertama, kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap hal-hal mistis, cerita rakyat, dan fenomena supranatural sangat kuat. Sutradara dan produser berhasil mengadaptasi mitos dan legenda lokal ke layar lebar, menciptakan relevansi budaya yang mendalam. Manoj Punjabi, CEO MD Pictures, menyatakan bahwa masyarakat Indonesia terobsesi dengan film horor karena mereka mempercayai kejadian-kejadian mistis tersebut dan telah mendengar cerita seram sejak kecil. Kedua, film horor memiliki daya tarik emosional unik yang mampu memacu adrenalin dan memberikan pengalaman menonton intens. Sensasi ketakutan yang terkemas dengan baik menawarkan bentuk hiburan yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Ketiga, peningkatan kualitas produksi film horor Indonesia, termasuk sinematografi, efek khusus, dan akting mumpuni, turut berkontribusi. Sutradara seperti Joko Anwar berhasil memadukan elemen horor klasik dengan teknologi modern, mengangkat standar genre ini.
Secara historis, film horor telah menjadi bagian integral perfilman Indonesia sejak era "Doea Siloeman Oeler Poetie en Item" pada 1934. Genre ini mengalami kebangkitan pada era 1970-an dengan tema kutukan dan kekuatan gaib, serta kemunculan "ratu horor" Suzzanna. Dekade 1980-an melihat pergeseran ke hantu-hantu lokal seperti sundel bolong dan pocong. Namun, pada 1990-an, film horor mengalami stagnasi dan kemunduran kualitas. Titik balik terjadi di awal 2000-an dengan "Jelangkung" yang memicu gelombang baru produksi horor, dan puncaknya setelah 2017, dengan film-film seperti "Pengabdi Setan" yang menandai era baru horor yang lebih kompleks dan berkualitas.
Dominasi film horor membawa implikasi signifikan bagi industri film Indonesia. Keberhasilan box office meningkatkan kepercayaan investor dan produser, mendorong inovasi kreatif dalam penceritaan dan teknik sinematik. Tren "folk horror", yang berakar pada mitologi dan kepercayaan pedesaan, juga membuka peluang bagi film Indonesia untuk mendapatkan perhatian pasar internasional, sekaligus melestarikan identitas budaya bangsa. Namun, tantangan tetap ada, termasuk risiko kejenuhan penonton jika produser hanya mengulang formula lama tanpa inovasi, serta perlunya kesadaran untuk tidak hanya berorientasi pada profit finansial sebagai indikator keberhasilan film. Pergeseran ke horor yang tidak hanya menakutkan tetapi juga kaya akan unsur budaya dan nilai sosial menandai kematangan genre ini. Film horor lokal, dengan kemampuannya menyentuh aspek-aspek terdalam kepercayaan dan kecemasan kolektif masyarakat, terus menjadi penentu arah industri perfilman nasional.