
Dunia seni kembali membuktikan kemampuannya dalam menyuarakan isu-isu global yang mendesak, kali ini melalui karya-karya yang menakjubkan dari limbah pukat ikan. Apa yang dulunya merupakan ancaman mematikan bagi kehidupan laut, kini diubah menjadi instalasi artistik yang memukau, membawa pesan kuat tentang konservasi lingkungan dan bahaya "jaring hantu" atau ghost nets.
Salah satu inisiatif terkemuka datang dari kelompok seniman Erub Arts yang berasal dari Kepulauan Selat Torres, Australia. Mereka telah mengubah jaring-jaring ikan yang ditinggalkan atau hanyut di laut menjadi patung-patung tenun berbahan lunak dengan nilai seni tinggi. Karya-karya ini mengambil bentuk biota laut seperti kawanan ikan, penyu, dan pari manta raksasa. Tujuan utama dari penciptaan seni ini adalah untuk meningkatkan kesadaran mengenai isu lingkungan di Selat Torres dan melestarikan ekosistem laut.
Di Indonesia, karya-karya Erub Arts telah dipamerkan dalam pameran bertajuk "Ghost Nets: Awakening the Drifting Giants." Pameran ini sebelumnya digelar di Museum MACAN, Jakarta, hingga 4 Juni 2023, menampilkan 18 karya seni tenun tangan tersebut. Mengulang kesuksesan dan pentingnya pesan yang dibawa, pameran serupa kini kembali hadir di Museum Bahari Jakarta, dibuka pada 20 Maret 2025 dan akan berlangsung hingga 31 Agustus 2025. Pameran di Museum Bahari ini merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Kedutaan Besar Australia di Indonesia, menyoroti permasalahan sampah laut dan pentingnya kerja sama dalam penanganannya.
Selain Erub Arts, seniman Indonesia Ari Bayuaji juga turut berkontribusi dalam gerakan ini dengan proyeknya "Weaving the Ocean: Pieces of Hope" di Bali. Ia berkolaborasi dengan komunitas lokal dan nelayan untuk mengumpulkan jaring ikan bekas dan tali plastik yang kemudian didaur ulang menjadi karya instalasi seni. Karya instalasi ini, yang saat ini dipamerkan di Koral Restaurant, The Apurva Kempinski Bali, berusaha menyoroti kebutuhan mendesak untuk melindungi lautan dan ekosistemnya yang beragam.
Limbah pukat ikan, atau jaring hantu, sangat berbahaya bagi biota laut karena dapat menjerat penyu, burung-burung laut, lumba-lumba, dan merusak terumbu karang. Melalui seni, sampah-sampah ini diberdayakan tidak hanya sebagai medium artistik, tetapi juga sebagai sarana edukasi yang kuat untuk mendorong diskusi tentang pengurangan sampah plastik dan pentingnya menjadi pelindung lautan yang lebih baik. Dalam beberapa pameran, lokakarya edukasi juga diselenggarakan untuk melibatkan masyarakat, terutama pelajar, dalam membuat karya seni mini dari jaring ikan daur ulang, menanamkan kesadaran konservasi sejak dini.
Karya seni dari limbah pukat ikan ini tidak hanya menawarkan keindahan estetika, tetapi juga menjadi pengingat ironis akan dampak buruk pencemaran laut dan potensi perubahan positif yang bisa dihasilkan dari limbah. Inisiatif ini menggabungkan budaya, seni kontemporer, dan advokasi lingkungan, menciptakan platform eksplorasi bersama akan tantangan lingkungan hidup yang dihadapi masyarakat pesisir.