Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terkuak! Dustin Tiffani Jadi Sasaran Penipuan Follower Instagram

2026-01-11 | 04:47 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-10T21:47:35Z
Ruang Iklan

Terkuak! Dustin Tiffani Jadi Sasaran Penipuan Follower Instagram

Komedian dan presenter Dustin Tiffani kembali menjadi korban penipuan digital, kali ini kehilangan sekitar Rp3,5 juta dalam insiden pembelian unit AC dari seorang pengikutnya di Instagram. Kejadian yang Dustin ungkapkan di Studio Pagi-pagi Ambyar Trans TV pada Sabtu (10/12/2026) ini menyusul kerugian sebelumnya sebesar Rp200 juta dalam kasus penipuan jual beli mobil bekas pada Oktober 2025.

Penipuan AC bermula ketika Dustin mencari unit yang langka melalui Instagram Stories. Seorang pengikut dengan akun gembok dan tanpa unggahan, namun mengaku memiliki akses dekat dengan pabrik, mendekati Dustin. Setelah melakukan pembayaran di muka, barang tidak pernah tiba. Kecurigaan Dustin muncul saat penelusuran nomor penjual melalui aplikasi GetContact menunjukkan label "penipu" dan "maling" pada riwayat nomor tersebut, mengindikasikan modus operandi yang telah dikenal luas.

Insiden yang menimpa Dustin Tiffani menambah panjang daftar selebriti dan figur publik yang terjerat dalam ekosistem penipuan media sosial. Fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia; laporan menunjukkan bahwa Indonesia, bersama India dan Jepang, menjadi target utama penipuan melalui Instagram, dengan kerugian global yang diestimasikan mencapai 744 juta dolar AS akibat bot dan pengikut palsu.. Modus penipuan pengikut palsu atau "follower scam" sendiri telah lama menjadi perhatian, di mana penipu menawarkan jasa penambahan pengikut instan menggunakan akun palsu atau bot, yang pada akhirnya merugikan korban secara finansial dan reputasi, bahkan berpotensi sanksi dari platform seperti pembatasan atau penghapusan akun.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa Indonesia mencatat 274.722 laporan penipuan antara November 2024 hingga September 2025, dengan kerugian total lebih dari Rp6 triliun dan kerugian rata-rata per korban antara Rp18 juta hingga Rp55 juta. Penipuan melalui media sosial sendiri menyumbang 14.229 laporan dengan kerugian mencapai Rp491,1 miliar dalam periode tersebut, menyoroti lemahnya kesadaran digital masyarakat dalam mengenali pola penipuan. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga mengidentifikasi 1.923 konten hoaks di platform digital sepanjang tahun 2024, di mana kategori penipuan mendominasi dengan 890 konten.

Pakar keamanan siber seringkali menyoroti berbagai ciri akun penipu di Instagram, seperti feed seadanya, kualitas foto buruk, tidak ada testimoni, harga terlalu murah, kolom komentar tidak aktif, jumlah pengikut palsu yang tidak sebanding dengan interaksi, serta sering berganti nama. Dalam kasus Dustin, akun penipu memiliki ciri mencurigakan seperti digembok dan tidak memiliki unggahan, namun sempat menjadi pengikutnya. Hal ini memperlihatkan bagaimana penipu beradaptasi dengan memanfaatkan interaksi langsung, seperti Direct Message atau Instagram Stories, untuk menawarkan produk atau layanan palsu.

Implikasi dari insiden seperti yang dialami Dustin Tiffani melampaui kerugian finansial individu. Ini menyoroti kerentanan platform media sosial dalam memfilter akun dan aktivitas penipuan, sekaligus menuntut kewaspadaan lebih tinggi dari pengguna, terutama figur publik yang memiliki interaksi luas dengan pengikutnya. Kepercayaan menjadi komoditas berharga di era digital, dan setiap insiden penipuan mengikis fondasi kepercayaan tersebut, mempengaruhi ekosistem ekonomi kreatif yang berkembang di media sosial. Diperlukan peningkatan literasi digital dan kerja sama yang lebih erat antara pengguna, platform, dan otoritas untuk membendung gelombang penipuan yang terus berkembang ini. Kampanye edukasi masif mengenai ciri-ciri penipuan dan cara melaporkannya menjadi krusial untuk melindungi masyarakat dari modus-modus yang semakin canggih.