Terdakwa dalam kasus perampokan rumah bintang K-pop dan aktris Nana, yang diidentifikasi sebagai Tuan Kim, pada sidang pertama di Pengadilan Distrik Uijeongbu Cabang Namyangju, 20 Januari 2026, bersikeras tidak membawa senjata saat melancarkan aksinya pada November 2025. Tuan Kim mengklaim hanya berniat melakukan pencurian sederhana karena masalah keuangan, dan meyakini rumah tersebut kosong. Pengakuan ini secara langsung bertentangan dengan dakwaan jaksa yang menuduhnya memasuki kediaman Nana di Acheon-dong, Guri, Gyeonggi Province, dengan senjata dan berupaya melakukan perampokan disertai ancaman.
Menurut laporan, pengacara Tuan Kim menyatakan kliennya tidak membawa senjata, melainkan objek yang disebut sebagai senjata ditemukan di dalam rumah dan digunakan oleh Nana untuk membela diri. Tuan Kim juga mengklaim dirinya "dipukuli secara sepihak oleh Nana" dan meminta pengadilan melakukan analisis sidik jari pada benda yang disita sebagai senjata untuk membuktikan klaimnya. Pengadilan telah menyetujui permintaan tersebut dan akan memanggil Nana serta ibunya sebagai saksi pada sidang lanjutan yang dijadwalkan 10 Maret 2026.
Insiden perampokan tersebut terjadi sekitar pukul 05:38 pagi pada 15 November 2025. Berdasarkan dakwaan, Tuan Kim diduga mengancam Nana dan ibunya, serta menuntut uang. Nana dan ibunya berhasil mengatasi penyusup tersebut, meskipun keduanya mengalami cedera. Nana dilaporkan memerlukan perawatan medis selama 33 hari, sementara ibunya 31 hari.
Dalam perkembangan mengejutkan, Tuan Kim juga mengajukan tuntutan balik terhadap Nana atas tuduhan percobaan pembunuhan dan penyerangan yang diperparah. Pihak kepolisian Guri, Gyeonggi Province, telah menyelidiki klaim ini namun menolak untuk memproses dakwaan terhadap Nana, menyimpulkan bahwa tindakannya merupakan pembelaan diri yang sah. Keputusan polisi menyatakan tingkat kekuatan yang digunakan Nana tidak berlebihan. Agensi Nana, Sublime, melalui pernyataan resminya pada 2 Januari, mengkritik tindakan Tuan Kim yang mengajukan tuntutan balik, menyebutnya sebagai bentuk eksploitasi status publik Nana dan menyebabkan "kerugian fisik dan psikologis yang parah" serta "kerugian sekunder" tanpa menunjukkan penyesalan.
Klaim terdakwa mengenai niat "pencurian sederhana" memiliki implikasi hukum yang signifikan di Korea Selatan. Perbedaan antara pencurian dan perampokan, terutama perampokan dengan cedera, berdampak besar pada potensi hukuman. Menurut hukum Korea Selatan, pencurian sederhana dapat dikenakan denda atau hukuman penjara singkat, sementara perampokan dengan cedera atau kejahatan yang melibatkan senjata dapat mengakibatkan hukuman penjara yang jauh lebih lama, berkisar dari beberapa tahun hingga lebih dari 10 tahun, bahkan hingga 20 tahun jika melibatkan kejahatan berat tertentu. Keterangan Tuan Kim yang menyangkal membawa senjata bertujuan untuk mengurangi bobot dakwaan terhadapnya.
Kasus ini juga menyoroti kerentanan privasi dan keamanan selebriti di Korea Selatan. Meskipun perhatian publik seringkali terfokus pada keamanan idola K-pop di tempat umum seperti bandara, insiden di kediaman pribadi seperti yang dialami Nana menunjukkan bahwa risiko dapat muncul di mana saja. Perdebatan mengenai keamanan selebriti di Korea Selatan memang sering mencuat, terutama terkait interaksi dengan penggemar yang terkadang melanggar batas di ruang publik. Namun, serangan langsung ke rumah pribadi menghadirkan dimensi ancaman yang berbeda dan lebih intim, mendorong pertanyaan lebih lanjut mengenai langkah-langkah perlindungan komprehensif yang tersedia bagi tokoh publik di luar acara-acara resmi atau penampilan publik. Situasi ini dapat mendorong agensi hiburan untuk mengevaluasi ulang protokol keamanan rumah tangga bagi artis mereka, mengingat meningkatnya insiden yang melibatkan pelanggaran privasi dan ancaman terhadap keselamatan pribadi.