
Grup musik legendaris Slank menyerahkan donasi senilai Rp500 juta untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatera. Penyerahan dana tersebut berlangsung dalam konser "Slank x HS: Berani Kita Beda" di PKOR Way Halim, Bandar Lampung, pada Sabtu malam, 17 Januari 2026. Dana amal ini terkumpul dari rangkaian konser yang diselenggarakan Slank bersama HS, termasuk konser di Bali pada pertengahan Desember 2025, serta melalui lelang barang pribadi personel.
Inisiatif kemanusiaan ini menyoroti peran berkelanjutan musisi dalam respons bencana di Indonesia, menyalurkan dukungan langsung kepada masyarakat terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Drummer Slank, Bimbim, menyatakan harapan agar donasi ini "berkah dan bermanfaat untuk teman-teman Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat," menegaskan komitmen band terhadap solidaritas nasional. Dana Rp500 juta tersebut merupakan gabungan dari keuntungan konser dan hasil lelang dua barang ikonik milik personel Slank: Vespa milik vokalis Kaka yang terjual Rp110 juta, dan gitar bas milik Ivanka yang laku Rp50 juta. Kedua barang tersebut dibeli oleh Didik Ariyanto.
Konser di Bandar Lampung, yang dipadati puluhan ribu Slankers di tengah guyuran hujan deras, menjadi momentum simbolis penyerahan donasi. Pemimpin HS sekaligus CEO Surya Group, Muhammad Suryo, menyerahkan secara simbolis dana tersebut kepada Distributor HS Sumatera, Danang Setia, untuk didistribusikan kepada para korban. Suryo menyampaikan rasa duka cita mendalam atas musibah yang terjadi dan berharap bantuan ini dapat meringankan beban serta menjadi penguat bagi masyarakat Sumatera.
Latar belakang donasi ini tidak terlepas dari serangkaian bencana hidrometeorologi, khususnya banjir dan tanah longsor, yang kerap melanda Sumatera. Bencana semacam ini seringkali mengakibatkan kerugian material dan korban jiwa yang signifikan, dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal akibat bencana di Sumatera mencapai 1.189 orang pada suatu waktu. Solidaritas dari sektor seni dan hiburan, seperti yang ditunjukkan Slank, berfungsi sebagai pelengkap penting bagi upaya bantuan pemerintah dan organisasi non-pemerintah. Ini bukan kali pertama personel Slank terlibat dalam aksi kemanusiaan serupa; gitaris Abdee Negara, misalnya, pernah menyumbangkan Rp325 juta dari hasil lelang gitarnya untuk korban tsunami Aceh pada tahun 2004, yang menewaskan sekitar 230.000 jiwa. Pola keterlibatan berkelanjutan ini menunjukkan kesadaran sosial mendalam di kalangan musisi, menggunakan platform mereka untuk menggalang dana dan meningkatkan kesadaran publik terhadap krisis kemanusiaan.
Implikasi jangka panjang dari inisiatif semacam ini melampaui bantuan finansial langsung. Aksi Slank memperkuat narasi bahwa musik dapat menjadi instrumen kuat untuk mobilisasi sosial dan solidaritas, memupuk empati dan partisipasi publik dalam meringankan beban sesama. Ini juga berpotensi mendorong transparansi lebih lanjut dalam pengelolaan dana sumbangan bencana, mengingat distribusi dana yang diserahkan kepada perwakilan lokal dapat memungkinkan pengawasan yang lebih efektif di tingkat komunitas. Meskipun demikian, efektivitas maksimal dari bantuan ini sangat bergantung pada mekanisme penyaluran yang tepat sasaran dan koordinasi yang baik dengan pihak berwenang di daerah terdampak. Keterlibatan aktif figur publik dalam penggalangan dana kemanusiaan secara konsisten menjadi pengingat bagi masyarakat dan pemerintah mengenai pentingnya kesiapsiagaan bencana dan respons kolektif yang berkelanjutan.