
Aktris Richa Novisha menghadapi babak baru kehidupannya memasuki tahun 2026, menata kembali prioritas dan kekuatannya sebagai orang tua tunggal setelah kepergian suaminya, aktor Gary Iskak, yang meninggal dunia pada 29 November 2025 akibat kecelakaan motor tunggal. Richa secara terbuka mengungkapkan perjuangannya untuk "ikhlas" dan tetap tegar demi kedua anaknya, Muhammad Adilla Rafisya Iskak dan Taqya Zahra Mikaela Iskak, sembari mengenang pesan terakhir almarhum Gary yang mendalam.
Kabar duka yang menyelimuti dunia hiburan Tanah Air pada akhir tahun lalu telah menempatkan Richa dalam posisi yang menuntut ketabahan luar biasa. Dalam beberapa wawancara pada awal Januari 2026, Richa menyampaikan bahwa meskipun kesedihan masih kerap menghampiri, ia memilih untuk berserah diri dan meyakini bahwa hidup harus terus berjalan. "Jalanin aja dengan bismillah. Karena kan hidup harus berjalan terus. Terus, aku juga harus berjuang buat anak-anak pastinya," ujarnya, menegaskan komitmennya terhadap masa depan buah hatinya.
Perjalanan rumah tangga Richa dan Gary Iskak, yang terjalin sejak 2009, diwarnai berbagai pasang surut. Keduanya sempat menghadapi isu orang ketiga dan bahkan pertimbangan untuk bercerai di masa-masa awal pernikahan. Namun, Richa selalu menunjukkan kesetiaan yang tak tergoyahkan, mendampingi Gary melewati perjuangan melawan penyakit lever parah pada tahun 2021 serta beberapa kasus hukum terkait narkoba. Gary Iskak sendiri pernah mengungkapkan rasa bangga semu dari narkoba sebelum berhijrah dan mengubah penampilannya menjadi lebih religius. Kesabaran dan dukungan Richa menjadi pilar utama yang menjaga keharmonisan keluarga mereka hingga maut memisahkan.
Dalam proses menghadapi duka, Richa Novisha tidak sendirian. Ia menceritakan momen-momen emosional yang dialaminya bersama anak-anak. Richa mengaku masih sering mencium aroma khas mendiang suaminya selama lima hari pertama setelah kepergian Gary, yang kemudian bertahan beberapa minggu. Selain itu, ia pernah mengalami mimpi yang terasa begitu nyata, di mana Gary datang menemuinya, mengungkapkan kerinduan, dan mereka berpelukan. Anak sulungnya, Adilla, juga kerap didatangi almarhum Gary dalam mimpi dengan pesan yang menyentuh, "Kamu jagain Bunda ya, jagain Bunda ya," pesan yang kini menjadi pengingat bagi Richa untuk terus kuat. Anak-anaknya pun berusaha mengatasi kerinduan dengan mengenakan barang-barang peninggalan Gary seperti jaket dan helm.
Momen-momen sebelum kepergian Gary Iskak juga menyimpan makna tersendiri. Richa mengenang Gary yang sempat melarang anak-anaknya untuk pulang pada H-2 Lebaran, melontarkan kalimat tak biasa, "Nanti kalau Lebaran tahun depan ayah enggak ada tuh gimana?". Gary juga memberikan hadiah topi kepada putranya, Adilla, dengan pesan, "Ayah pamit dulu ya," yang kini menjadi kenangan berharga. Richa juga mengungkapkan bahwa Gary adalah sosok yang selalu memberinya semangat, terutama saat ia merasa terpuruk, dengan ucapan, "jangan nyerah sama ayah, ya bun".
Sebagai seorang ibu, Richa kini memikul tanggung jawab penuh dalam membesarkan anak-anaknya. Ia menerapkan pendekatan yang memungkinkan anak-anaknya untuk jujur dalam mengekspresikan emosi dan tidak memendam trauma. "Kalau mau nangis ya nangis, kalau mau marah atau emosi gak apa-apa, keluarin," kata Richa, menekankan pentingnya validasi emosi. Richa tidak menggunakan jasa psikolog, melainkan memilih pendekatan personal dan spiritual dalam memulihkan kondisi batin keluarganya. Filosofi pengasuhan Richa dan Gary sejak dulu memang menitikberatkan pada pengembangan bakat anak dibandingkan nilai akademis semata.
Kisah Richa Novisha ini mencerminkan tantangan mendalam yang dihadapi seorang figur publik dalam menghadapi kehilangan personal, sekaligus memberikan gambaran tentang ketahanan mental dan spiritualitas dalam menavigasi duka. Responsnya yang terbuka dan fokus pada anak-anak dapat menjadi preseden bagi diskusi mengenai peran ibu tunggal dan manajemen emosi dalam keluarga, terutama di tengah sorotan media. Perjalanan Richa menunjukkan bahwa ikhlas bukan berarti tanpa rasa sakit, melainkan sebuah proses penerimaan yang berkelanjutan demi kelangsungan hidup dan kebahagiaan anak-anak.