:strip_icc()/kly-media-production/medias/5467514/original/011484900_1767917665-IMG-20260109-WA0007.jpg)
Film animasi "5 Centimeters Per Second" karya Makoto Shinkai kembali memukau penonton di bioskop Indonesia, dengan jadwal penayangan reguler yang dimulai pada 16 Januari 2026, didahului oleh pemutaran khusus pada 10 dan 11 Januari 2026. Kembalinya mahakarya berdurasi 63 menit ini ke layar lebar, hampir dua dekade setelah perilisan perdananya pada 2007, menghadirkan momen manis berupa nostalgia mendalam bagi penggemar lama sekaligus kesempatan bagi generasi baru untuk merasakan pengalaman sinematik yang emosional.
Dirilis pertama kali pada 2007, "5 Centimeters Per Second" (5CMS) merupakan karya awal yang memantapkan reputasi Makoto Shinkai sebagai sutradara yang piawai merangkai visual memukau dengan narasi melodrama romantis yang puitis dan melankolis. Film ini dibagi menjadi tiga segmen pendek—"Cherry Blossom Story", "Cosmonaut", dan "5 Centimeters per Second"—yang mengisahkan perjalanan Takaki Tono dan Akari Shinohara, dua sahabat masa kecil yang terpisahkan oleh jarak dan waktu. Shinkai, yang juga menulis dan memproduseri film ini, berhasil menggambarkan tema kesepian, kerinduan, dan cinta yang tak tersampaikan dengan visual langit, awan, dan cahaya yang detail fotorealistik, menjadikannya sebuah kanvas awal bagi gaya artistik yang kemudian disempurnakan dalam film-filmnya yang lebih dikenal luas seperti "Your Name" (2016) dan "Weathering With You" (2019). Kekuatan naratif dan visualnya mengantarkan film ini meraih penghargaan Best Animated Feature Film di Asia Pacific Screen Awards, sebuah pengakuan bergengsi di kawasan Asia-Pasifik.
Penayangan ulang 5CMS di bioskop bukan sekadar pemutaran biasa; ia menawarkan ruang bagi penonton untuk merenungkan kembali arti kedekatan, komitmen, dan bagaimana waktu mengubah segalanya, sebuah refleksi yang imersif dan sulit didapatkan melalui layar gawai. Bagi sebagian penonton dewasa muda Indonesia, film ini merupakan bagian dari memori kolektif masa remaja atau awal dewasa, di mana lagu latar "One more time, One more chance" oleh Masayoshi Yamazaki, adegan kereta api, dan kelopak sakura yang beterbangan telah menjadi ikon budaya pop yang melekat. Perasaan "nostalgia yang hangat dan emosional" dan kesempatan untuk "merasakan kembali renungan tersebut dengan immersi" menciptakan pengalaman kolektif yang mengharukan bagi para penggemar.
Fenomena perilisan ulang film-film anime klasik di bioskop mencerminkan tren yang berkembang dalam industri distribusi film, di mana karya-karya yang memiliki ikatan emosional kuat dengan penonton dapat terus menarik minat bahkan bertahun-tahun setelah perilisan awalnya. Ini tidak hanya menjadi ajang bernostalgia, tetapi juga memperkenalkan karya-karya ikonik kepada audiens baru yang mungkin belum pernah menyaksikannya di layar lebar. Di sisi lain, adaptasi live-action "5 Centimeters Per Second" yang disutradarai Yoshiyuki Okuyama, dengan bintang utama Hokuto Matsumura dari grup SixTONES sebagai Takaki Tono, telah tayang di Jepang pada Oktober 2025 dan juga dijadwalkan akan menyusul di bioskop Indonesia. Keterlibatan langsung Shinkai sebagai penasihat kreatif dalam proyek live-action ini mengindikasikan upaya untuk menjaga inti emosional cerita asli, menunjukkan relevansi dan dampak abadi film tersebut dalam budaya pop Jepang dan global.
Kembalinya "5 Centimeters Per Second" ke bioskop menggarisbawahi kekuatan sebuah narasi yang jujur dan realistis mengenai cinta, kehilangan, dan laju waktu yang tak terelakkan. Ini menjadi bukti bahwa karya Shinkai tidak hanya menghibur, tetapi juga menghadirkan pengalaman kontemplatif yang terus relevan, secepat kelopak bunga sakura yang jatuh—lima sentimeter per detik—secara perlahan namun pasti.