:strip_icc()/kly-media-production/medias/5467504/original/020421500_1767910537-IMG-20260108-WA0058.jpg)
Film animasi "5 Centimeters Per Second" karya Makoto Shinkai, yang pertama kali dirilis pada Maret 2007, terus memikat penonton dengan narasi melankolis tentang jarak dan waktu, bahkan hingga adaptasi live action terbarunya pada Oktober 2025. Perjalanan film ini dari sebuah karya animasi independen yang meraih penghargaan hingga menjadi fenomena budaya dengan adaptasi aksi nyata, menyoroti daya tahan temanya yang universal tentang cinta yang tidak terpenuhi dan kerapuhan koneksi manusia.
"5 Centimeters Per Second" membedakan dirinya dari karya-karya Shinkai sebelumnya dengan secara eksplisit menghindari elemen fantasi atau fiksi ilmiah, berfokus pada penggambaran dunia nyata dari perspektif yang berbeda. Judul film ini sendiri, yang mengacu pada kecepatan kelopak bunga sakura jatuh, berfungsi sebagai metafora mendalam tentang bagaimana manusia secara perlahan terpisah, sebuah esensi dari lambatnya hidup dan bagaimana orang seringkali memulai bersama namun perlahan melayang ke jalan masing-masing. Film berdurasi 63 menit ini dikemas dalam gaya triptych, terdiri dari tiga segmen yang saling berhubungan — "Cherry Blossom," "Cosmonaut," dan "5 Centimeters Per Second" — masing-masing mengikuti periode dalam kehidupan protagonis Takaki Tōno dan hubungannya dengan gadis-gadis di sekitarnya.
Secara kritis, "5 Centimeters Per Second" segera mendapat pengakuan internasional. Film ini dianugerahi "Best Animated Feature Film" di Asia Pacific Screen Awards pertama pada tahun 2007, mengalahkan pesaing seperti "Summer Days with Coo" karya Keiichi Hara. Kritikus Jepang, Natsuki Imai, seorang sutradara televisi dan film, bahkan menggambarkan film ini sebagai karya "sepenuhnya untuk orang dewasa meskipun itu adalah anime." Mania.com mencatatnya sebagai anime terbaik yang bukan karya Hayao Miyazaki, sementara Mark Schilling dari The Japan Times memuji Shinkai karena lebih baik daripada Miyazaki "dalam menembus tabir keseharian untuk mengungkapkan keindahan yang pedih dan cepat berlalu yang sebagian besar dari kita hanya sadari dalam momen-momen langka." Visual yang sangat detail, skor piano yang "indah dan memilukan" oleh Tenmon, dan penggunaan lagu tema non-anime "One More Time, One More Chance" oleh Masayoshi Yamasaki juga secara konsisten disoroti sebagai pilar kekuatan film ini.
Dampak budaya "5 Centimeters Per Second" melampaui layar, memicu perdebatan tentang tema-tema yang relevan seperti isolasi, komunikasi, dan konsekuensi dari cinta yang tidak terkendali. Kisahnya yang "emosional dan realistis" tentang bagaimana waktu dan tekanan eksternal dapat mengubah romansa murni telah beresonansi dengan banyak penonton di seluruh dunia, yang seringkali merasakan koneksi pribadi dengan perjuangan Takaki untuk mengatasi kesepian dan cinta tak berbalas.
Pada 22 September 2024, adaptasi live action dari film ini diumumkan dan kemudian dirilis di Jepang pada 10 Oktober 2025. Disutradarai oleh Yoshiyuki Okuyama, film ini menampilkan Hokuto Matsumura dari grup SixTONES sebagai Takaki Tōno dewasa dan Mitsuki Takahata sebagai Akari Shinohara dewasa. Yang menarik, Makoto Shinkai sendiri, setelah menonton pemutaran awal, mengungkapkan perasaannya. Ia awalnya merasa "agak tidak nyaman," namun di pertengahan film, ia mulai terserap dan pada akhirnya "menangis." Shinkai bahkan menyatakan bahwa ia merasa seperti akhirnya "mengenal" karakter-karakter yang ia ciptakan melalui interpretasi adaptasi live action ini. Film live action berdurasi 121 menit ini, lebih panjang dari animasi aslinya, bertujuan untuk mengisi "kesenjangan emosional" yang Shinkai pernah sebut sebagai bagian dari versi animasi yang "terburu-buru," dan berhasil mempertahankan lagu ikonik "One More Time, One More Chance" yang sangat penting bagi esensi emosional film tersebut.
Adaptasi live action ini menawarkan perspektif baru pada kisah yang sudah dikenal, menghadirkan tantangan artistik dan komersial dalam menerjemahkan nuansa emosional anime ke medium yang berbeda. Sementara beberapa kritik awal dari penonton yang telah melihat pemutaran awal menyatakan bahwa adaptasi ini "secara visual menakjubkan" tetapi mungkin tidak sepenuhnya menangkap "tema dan nada emosional" dari anime, yang lain memuji kemampuannya untuk memperdalam cerita dan visual yang setia pada lokasi dunia nyata. Fenomena "5 Centimeters Per Second" ini menunjukkan bagaimana sebuah narasi yang sederhana namun mendalam dapat terus relevan dan berevolusi melalui berbagai bentuk media, mengukuhkan posisinya sebagai penjelajah emosi manusia yang abadi. Kembalinya film ini ke layar lebar, baik dalam bentuk animasi maupun live action, menggarisbawahi kekuatan abadi dari cerita tentang koneksi yang hilang dan waktu yang tak terhindarkan.