
Wardatina Mawa, selebriti media sosial, mencari bimbingan spiritual dari ustazah terkemuka Umi Pipik di kediamannya di Kemang, Jakarta Selatan, pada pergantian tahun 2026, menumpahkan isi hatinya mengenai polemik rumah tangga yang melibatkan tuduhan poligami dan perzinahan. Umi Pipik merespons dengan memberikan nasihat yang secara tegas berlandaskan ajaran Al-Qur'an, menegaskan perannya sebagai pembimbing spiritual tanpa mencampuri keputusan pribadi Mawa.
Pertemuan tersebut terjadi di tengah prahara rumah tangga yang dihadapi Wardatina Mawa, di mana suaminya, Insanul Fahmi, dilaporkan telah menikah siri dengan figur publik lain, Inara Rusli, tanpa izin Mawa. Fahmi diduga mengaku sebagai duda saat menikahi Inara Rusli, padahal ia masih terikat pernikahan sah dengan Mawa. Mawa, yang merupakan influencer dari Medan, telah mengajukan laporan polisi terkait dugaan perselingkuhan dan perzinaan di Polda Metro Jaya pada akhir November 2025. Situasi ini telah menyebabkan Mawa mengalami tekanan psikis, terutama setelah beredar tudingan bahwa ia menyebarkan rekaman CCTV terkait perselingkuhan tersebut, yang dibantah oleh kuasa hukumnya.
Umi Pipik, dikenal luas sebagai mantan artis yang kini mendedikasikan diri pada dakwah setelah wafatnya mendiang suaminya, Ustadz Jefri Al Buchori, memposisikan dirinya sebagai mentor spiritual. Ia menyatakan bahwa pemberian nasihatnya kepada Mawa adalah bagian dari kewajiban seorang Muslim untuk saling menguatkan di tengah ujian, sama seperti yang ia lakukan untuk jemaah lainnya yang mencari solusi. Umi Pipik secara eksplisit menyatakan bahwa ia tidak ingin terlibat dalam urusan pribadi Mawa, Insanul Fahmi, dan Inara Rusli, dan fokusnya adalah memberikan pencerahan dan penguatan mental yang menenangkan hati berdasarkan ilmu agama. Ia menekankan bahwa setiap keputusan akhir tetap menjadi hak Wardatina Mawa.
Kasus ini menyoroti perpaduan kompleks antara kehidupan pribadi selebriti, bimbingan spiritual, dan pengawasan publik di Indonesia. Tokoh agama seperti Umi Pipik seringkali menjadi rujukan bagi individu yang menghadapi krisis, mencerminkan peran sentral nilai-nilai keagamaan dalam narasi publik dan kehidupan personal figur terkenal. Meskipun nasihat yang diberikan Umi Pipik bersifat umum dan merujuk pada prinsip-prinsip Al-Qur'an yang universal, penampakannya di tengah publik dengan figur yang sedang bermasalah mengukuhkan posisinya sebagai sumber otoritas moral. Wardatina Mawa sendiri telah mengungkapkan keinginannya untuk berdamai dengan keadaan di tahun 2026, fokus pada penyembuhan diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, sembari menargetkan perubahan dan kejujuran pada diri sendiri. Permintaan nasihat spiritual oleh selebriti di hadapan publik semacam ini bukan hanya menunjukkan kerentanan pribadi mereka, tetapi juga memperkuat persepsi masyarakat tentang pentingnya dimensi spiritual dalam menghadapi tantangan hidup.