:strip_icc()/kly-media-production/medias/5460156/original/094268300_1767237371-Hana-Kimi_16x9_3840x2160.png)
Serialisasi manga shojo ikonis "Hana-Kimi" karya mendiang Hisaya Nakajo, yang secara resmi dikenal sebagai "Hanazakari no Kimitachi e," kini telah mendapatkan adaptasi anime televisi pertamanya. Episode perdana serial yang sangat dinanti ini tayang pada 4 Januari 2026, menandai sebuah babak baru bagi kisah Mizuki Ashiya yang menyamar sebagai laki-laki demi mengejar idolanya, atlet lompat tinggi Izumi Sano. Penayangan ini disambut dengan antusiasme global dan resonansi emosional yang mendalam, terutama mengingat kepergian sang kreator pada Oktober 2023.
Adaptasi anime ini, yang disiarkan di Tokyo MX dan beberapa saluran Jepang lainnya, juga tersedia secara simultan untuk pemirsa internasional melalui platform streaming Crunchyroll. Produksi anime ini dipercayakan kepada studio Signal.MD, dengan Natsuki Takemura sebagai sutradara, Shigeru Ueda sebagai asisten sutradara, dan Takao Yoshioka bertanggung jawab atas komposisi seri. Duo musik pop Jepang, YOASOBI, membawakan lagu tema pembuka berjudul "Adrena" dan lagu tema penutup "Baby," menambah dimensi modern pada narasi klasik ini.
Premis utama "Hana-Kimi" berpusat pada Mizuki Ashiya, seorang bintang atletik keturunan Jepang-Amerika yang terobsesi dengan atlet lompat tinggi Izumi Sano. Untuk mendekati Sano setelah ia berhenti dari olahraga tersebut, Mizuki mengambil langkah drastis dengan mendaftar di Osaka Gakuen, sebuah sekolah asrama khusus laki-laki di Jepang, dengan menyamarkan identitas gendernya. Takdir membawanya menjadi teman sekelas dan bahkan teman sekamar Sano, menciptakan serangkaian situasi komedi dan romantis yang menegangkan saat Mizuki berusaha menjaga rahasianya sekaligus membangkitkan kembali semangat Sano untuk melompat tinggi. Ancaman terungkapnya identitas Mizuki selalu membayangi, terutama dari dokter sekolah yang perseptif, Hokuto Umeda.
Manga "Hanazakari no Kimitachi e" sendiri adalah karya seminal dari Hisaya Nakajo, yang diserialisasikan di majalah Hana to Yume milik Hakusensha dari tahun 1996 hingga 2004. Serial ini telah terjual lebih dari 17 juta kopi di seluruh dunia dan sebelumnya telah menginspirasi beberapa adaptasi drama televisi live-action yang sukses di Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan. Popularitasnya yang abadi menyoroti daya tarik universal dari tema identitas, persahabatan, dan romansa masa muda.
Keputusan untuk akhirnya menganimasikan "Hana-Kimi" setelah hampir dua dekade sejak manga aslinya berakhir, mencerminkan tren industri anime yang terus menggali kembali properti-properti shojo klasik untuk generasi baru. Editor dari majalah Hana to Yume menyatakan bahwa proyek anime ini telah dikembangkan melalui konsultasi erat dengan Nakajo sendiri. "Beliau telah menantikan bagaimana dunia Hana Kimi akan diekspresikan melalui animasi, menikmati desain karakter awal dan naskah yang berbeda dari format manga," demikian pernyataan editorial tersebut. Pernyataan ini memberikan konteks berharga mengenai visi mendiang kreator dan menunjukkan bahwa adaptasi ini adalah hasil dari perencanaan jangka panjang, bukan sekadar upaya kapitalisasi dadakan.
Peluncuran anime ini juga membawa implikasi signifikan terhadap warisan Nakajo. Setelah kepergiannya yang mendadak pada Oktober 2023 di usia 50 tahun karena kondisi jantung, episode pertama anime ini menyertakan pesan penghormatan yang memicu luapan emosi dari para penggemar di media sosial. Pengakuan dan apresiasi ini menggarisbawahi dampak abadi karyanya terhadap jutaan pembaca. Para editor mengungkapkan penyesalan mendalam karena tidak dapat menyaksikan anime yang telah selesai bersama Nakajo, namun mereka juga menyampaikan rasa syukur atas dukungan penggemar yang memungkinkan "Hana-Kimi" hidup kembali dalam bentuk animasi.
Kehadiran "Hana-Kimi" di tengah maraknya serialisasi ulang dan adaptasi anime dari manga klasik menunjukkan adanya permintaan pasar yang kuat untuk nostalgia dan cerita yang telah teruji waktu. Dengan jangkauan global Crunchyroll, anime ini berpotensi memperkenalkan kisah Mizuki Ashiya kepada khalayak internasional yang lebih luas, melampaui basis penggemar manga dan drama live-action sebelumnya. Ini tidak hanya menegaskan kembali posisi "Hana-Kimi" sebagai salah satu permata genre shojo, tetapi juga membuka jalan bagi analisis lebih lanjut tentang bagaimana adaptasi modern menafsirkan dan memperkaya narasi orisinal yang telah lama dicintai.