
Presenter dan komedian terkemuka, Gilang Dirga, mengawali tahun 2026 dalam suasana duka mendalam menyusul meninggalnya sang ayah, Wendi Indra, pada Rabu, 31 Desember 2025, pukul 00.40 WIB, di usia 63 tahun. Wendi Indra menghembuskan napas terakhir setelah dilarikan ke rumah sakit, dan jenazahnya telah dimakamkan di TPU Al Hidayah, Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat, pada hari yang sama. Kepergian sosok ayah yang dikenal kuat dan suportif ini menjadi pukulan berat bagi Gilang dan keluarga, terutama mengingat momen pergantian tahun yang seharusnya diwarnai suka cita.
Gilang Dirga membagikan kabar duka tersebut melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, disertai foto hitam putih sang ayah, memohon doa agar almarhum husnul khatimah dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, serta memohon dibukakan pintu maaf atas segala kekhilafan sang ayah semasa hidupnya. Ketegaran Gilang terlihat saat ia turut mengantarkan jenazah sang ayah ke liang lahat, bahkan melantunkan azan di pemakaman yang dihadiri keluarga dan kerabat dekat.
Kesehatan Wendi Indra diketahui telah menurun dalam beberapa tahun terakhir, dengan riwayat serangan jantung yang berdampak signifikan pada kondisi fisiknya. Gilang mengungkapkan bahwa sejak serangan jantung beberapa tahun silam, ayahnya mengalami pelemahan tubuh dan kesulitan bernapas. "Almarhum itu kan beberapa tahun yang lalu sempat serangan jantung. Sejak itu kondisi tubuhnya tuh melemah," ujar Gilang. Ia menambahkan bahwa mendiang ayahnya merupakan sosok yang tidak ingin terlihat lemah di hadapan keluarga. "Almarhum itu orang yang nggak mau kelihatan lemah, jadi dia harus kelihatan kuat gitu ya". Proses kepergian Wendi Indra terjadi sangat cepat, mengejutkan keluarga. Gilang menceritakan, ia sempat menerima telepon mengenai kondisi ayahnya yang memburuk, dan hanya berselang satu menit kemudian, kabar duka wafatnya sang ayah datang.
Sosok Wendi Indra dikenang Gilang sebagai laki-laki hebat, meski bukan manusia sempurna, yang selalu menjadi pahlawan bagi anak-anaknya. Pesan-pesan yang sering disampaikan almarhum kepada Gilang bersifat religius dan fundamental, seperti "jaga salat, ingat akhirat, doakan orang tua". Gilang merasa bersyukur seluruh keinginan sang ayah selama hidupnya telah terpenuhi, membuatnya merasa lebih ikhlas menerima kepergian tersebut.
Duka ini turut dirasakan oleh putra Gilang Dirga, Gin Dirga, yang memiliki kedekatan emosional khusus dengan sang kakek, yang ia panggil "Unggang". Gilang dan istrinya, Adiezty Fersa, harus dengan sabar menjelaskan konsep kematian kepada Gin, yang terlihat sangat terpukul dan menangis hebat saat melihat jenazah kakeknya. "Gin itu kan manggil almarhum 'Unggang'. Nah, Unggang itu sahabatnya dia, bahkan bukan cuma kakeknya," ungkap Gilang, menggambarkan kedalaman hubungan sang putra dengan mendiang ayahnya. Kehilangan ini tidak hanya menjadi ujian bagi Gilang sebagai seorang anak yang berduka, tetapi juga sebagai orang tua yang membimbing putranya menghadapi realitas kehilangan untuk pertama kalinya.