Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ferdy Tahier Ungkap Visi Pendidikan Anak Modern

2026-01-11 | 01:00 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-10T18:00:35Z
Ruang Iklan

Ferdy Tahier Ungkap Visi Pendidikan Anak Modern

Musisi dan vokalis grup band Element, Ferdy Tahier, menyatakan pandangan tegasnya mengenai pendidikan anak, menekankan pentingnya motivasi intrinsik dan pengembangan bakat alih-alih pemaksaan jenjang pendidikan formal. Sikap ini diungkapkannya pada Jumat (9/1/2026) di kawasan Studio Pagi-Pagi Ambyar TTV, Jakarta, di tengah perdebatan yang terus berkembang mengenai relevansi sistem pendidikan konvensional di era digital. Ferdy, yang dikenal dengan gaya pengasuhan demokratis namun berprinsip, memberikan kebebasan penuh kepada ketujuh anaknya untuk mengejar minat mereka.

Dalam sistem pandangan Ferdy, pendidikan formal memiliki nilai, namun hanya berlaku "buat yang mau saja". Ia secara eksplisit menyatakan tidak pernah mendorong anaknya untuk kuliah, menganggapnya sebagai pemborosan waktu dan biaya jika tidak didasari oleh keinginan kuat dari anak itu sendiri. Pendekatan ini kontras dengan tekanan sosial umum di Indonesia yang seringkali menempatkan gelar akademik sebagai tolok ukur utama keberhasilan. Sebaliknya, Ferdy lebih memilih untuk memfokuskan upaya mendidik pada pengidentifikasian dan pengembangan kelebihan atau bakat alami anak, daripada terpaku pada perbaikan kekurangan. Contohnya, jika seorang anak menunjukkan bakat seni yang kuat namun kurang di mata pelajaran seperti matematika, ia akan mendukung penuh pengembangan bakat seni tersebut, tanpa memaksakan les tambahan matematika.

Pola asuh Ferdy Tahier, yang mengutamakan kemandirian dan keselarasan minat anak, relevan dengan dinamika pendidikan karakter di era digital yang semakin kompleks. Studi menunjukkan bahwa pendidikan karakter di era digital menghadapi tantangan seperti erosi interaksi sosial, peningkatan cyberbullying, dan banjir informasi tanpa filter. Dalam konteks ini, peran orang tua dalam pendidikan informal menjadi semakin krusial. Pendidikan informal, yang didapatkan dari lingkungan keluarga dan masyarakat, merupakan fondasi awal pembentukan kebiasaan, watak, dan perilaku seseorang sepanjang hayatnya.

Meskipun beberapa anaknya, seperti Renaga Tahier, Dierda Tahier, dan Dewa Tahier, mengikuti jejaknya di industri musik dan hiburan, Ferdy tidak lepas dari kekhawatiran. Ia mengungkapkan kegelisahannya mengenai potensi godaan dan tekanan yang mungkin dihadapi anak-anaknya di dunia selebritas, berharap mereka memiliki kekuatan mental yang memadai untuk menghadapi panggung sepi atau kurangnya apresiasi. Kekhawatiran ini mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam pendidikan karakter di mana nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, dan empati perlu diajarkan di tengah arus informasi tak terbatas. Diperlukan upaya kolaboratif antara pendidik, orang tua, dan pihak terkait untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang seimbang, di mana teknologi dapat menjadi alat pendukung pengembangan karakter, bukan penghambatnya.

Pendekatan Ferdy Tahier menggarisbawahi pergeseran paradigma pendidikan, dari model yang didorong oleh kurikulum dan paksaan, menuju model yang lebih adaptif dan personal. Ini sejalan dengan rekomendasi penelitian yang menyerukan penguatan literasi digital orang tua dan integrasi metode pembelajaran karakter dengan keterampilan abad ke-21. Keberhasilan pendidikan di masa depan sangat bergantung pada kemitraan holistik yang menciptakan lingkungan penguatan nilai yang konsisten bagi anak, di mana orang tua berperan sebagai mitra dialog kritis dalam menghadapi konten digital. Dengan demikian, pandangan Ferdy Tahier tidak hanya sekadar preferensi pribadi, melainkan cerminan dari kebutuhan mendesak untuk meninjau ulang bagaimana masyarakat mempersiapkan generasi mendatang menghadapi dunia yang terus berubah, dengan penekanan pada pengembangan individu yang berkarakter, tangguh, dan cakap secara digital.