
Selebritas Celine Evangelista baru-baru ini kembali dari Tanah Suci usai menunaikan ibadah umrah bersama keempat anaknya pada pergantian tahun 2025 menuju 2026, meminta doa baik-baik dari publik dan berkomitmen untuk terus memperdalam ilmu agama Islam. Evangelista, yang resmi memeluk Islam pada tahun 2024, menekankan bahwa perjalanan spiritual ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Kepulangan Evangelista ke Indonesia menandai babak terbaru dalam perjalanan spiritualnya yang menarik perhatian publik sejak ia mengumumkan keislamannya. Sebelumnya, Evangelista telah menjalankan ibadah umrah pada Januari dan Maret 2025, setelah proses mualafnya pada tahun 2024 yang didampingi oleh Umi Pipik. Ia menyebut keputusannya untuk memeluk Islam sebagai panggilan hati dan hidayah, sebuah proses panjang pencarian kedamaian dan pendewasaan iman.
Dalam wawancara di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Evangelista menyampaikan harapannya agar dirinya, yang masih dalam proses belajar, tidak lalai ke depannya. "Pasti doa yang baik-baik. Mohon juga ya, semoga didoain yang baik-baik," ujar Celine. Ia secara terbuka mengakui kesalahan di masa lalu sebagai bagian dari proses manusiawi dan memohon bimbingan serta doa agar bisa lebih istikamah dan imannya terjaga. Doa-doa tersebut juga dipanjatkan untuk kebaikan karier dan kehidupan pribadinya, serta bagi orang-orang yang senantiasa berbuat baik kepadanya.
Momen umrah kali ini menjadi lebih mendalam karena Evangelista turut memboyong keempat anaknya, Jemima Guri Clementine Sompie, Eleeya Xaviera Sompie, Lucio Otthild William, dan Eadred Koa Lewis Miguel. Ia bahkan mendedikasikan langkah tawafnya untuk anak-anaknya, dengan tujuan memperkenalkan nilai-nilai keagamaan sejak dini. Anak-anaknya, Cio dan Koa, juga terlihat belajar mengaji dengan seorang syeikh di Masjid Nabawi selama di Tanah Suci, sebuah pemandangan yang memicu pujian dari warganet. Langkah Evangelista membawa anak-anaknya ini juga sempat menjadi perbincangan publik mengenai implikasi terhadap keyakinan agama anak-anaknya.
Perjalanan Evangelista dalam mendalami Islam tidak lepas dari tantangan. Ia pernah mengungkapkan kesulitan dalam mempelajari bacaan salat berbahasa Arab, yang pada awalnya ia praktikkan menggunakan bahasa Indonesia agar lebih "kena di hati", sebelum akhirnya terbiasa dengan bacaan aslinya. Ia juga sempat berdoa agar ujian dalam berhijrah tidak terlalu berat. Komitmennya untuk terus belajar ditunjukkan dengan niatnya untuk rutin menghadiri berbagai kajian agama. Publik menanggapi positif perubahan Evangelista, dengan banyak dukungan dan doa untuk keistiqamahannya mengalir di media sosial. Fenomena hijrah di kalangan selebriti Indonesia, di mana figur publik secara terbuka menjalani transformasi spiritual, terus menjadi diskursus sosial yang relevan.
Evangelista berharap melalui perjalanan spiritual dan doanya, ia dapat terus menjaga keteguhan iman dan menjadi teladan yang lebih baik bagi anak-anaknya serta lingkungannya. Permohonan doa dari Evangelista mencerminkan kesadaran akan kerentanan manusia dalam mempertahankan konsistensi spiritual di tengah sorotan publik, menyoroti dimensi pribadi dari perjalanan keagamaan yang kerap kali menjadi konsumsi massal.