
Jakarta, Indonesia – Film horor "Penunggu Rumah: Buto Ijo" secara resmi merilis poster dan trailer perdananya pada Minggu, 4 Januari 2026, memicu antisipasi di kalangan penggemar sinema horor nasional menjelang penayangan serentak di bioskop Indonesia pada 15 Januari 2026. Produksi kolaborasi Creator Media, Maxstream Studios, Seru Juga Film Studio, dan Vibe ini menjanjikan interpretasi yang lebih kelam terhadap salah satu dongeng rakyat Jawa paling ikonik, "Timun Mas".
Pengumuman ini datang ketika industri perfilman Indonesia terus melihat lonjakan produksi film horor yang kaya akan mitologi lokal. Film ini disutradarai oleh Achmad Romie, dikenal dari karyanya sebelumnya "Dongeng Mistis", dengan skenario ditulis oleh Gandhi Fernando dan Muthia Esfand. Gandhi Fernando, yang juga bertindak sebagai produser dan salah satu pemeran utama, menyatakan bahwa adaptasi ini bertujuan menghadirkan horor yang tidak sekadar menakutkan, tetapi juga membekas secara emosional. "Mitos Buto Ijo dari cerita Timun Mas kami tafsirkan sebagai keserakahan dan konsekuensi dari pilihan manusia," ujar Gandhi Fernando, menyoroti kedalaman tematik yang diusung film ini.
Visual poster menampilkan sosok Buto Ijo dengan wujud menyeramkan yang didesain untuk menimbulkan kengerian, sementara trailer berdurasi dua menit memperlihatkan adegan-adegan teror intens yang dialami karakter utama, Ali, seorang kreator konten uji nyali yang hidupnya terancam setelah diteror oleh makhluk mistis tersebut. Alur cerita berpusat pada Srini (Celine Evangelista), seorang janda yang menghadapi teror menjelang ulang tahun keenam anaknya, memaksanya menghubungi mantan kekasihnya, Ali (Gandhi Fernando), untuk bantuan. Situasi semakin mencekam ketika Buto Ijo mulai menampakkan diri, menguak rahasia gelap di rumah tersebut serta tabir di balik sosok mistis yang dikenal sebagai penjaga sekaligus pembawa malapetaka dalam folklor Jawa.
Penggunaan mitologi Buto Ijo, raksasa hijau berkulit besar dengan taring tajam dan rambut hitam dalam kepercayaan Jawa, menandai tren berkelanjutan di sinema horor Indonesia untuk mengeksplorasi dan memodernisasi kisah-kisah tradisional. Film ini mengklaim memaksimalkan penggunaan rumah sebagai ruang teror utama yang mencekam, diperkuat melalui tata cahaya dan desain suara yang intens untuk memperdalam atmosfer mistisnya. Interpretasi ini tidak hanya berupaya menciptakan ketakutan visual tetapi juga menggali asal-usul dan motif kemunculan entitas gaib tersebut, memberikan narasi yang lebih kompleks dibandingkan sekadar deskripsi kejadian paranormal.
"Penunggu Rumah: Buto Ijo" dijadwalkan tayang di seluruh jaringan bioskop di Indonesia, dengan harapan dapat menarik minat penonton melalui perpaduan horor tradisional dan sentuhan modern, termasuk relevansi dengan tren konten media sosial saat ini. Kehadiran film ini dengan jajaran pemeran seperti Celine Evangelista, Valerie Thomas, dan Arie Dwi Andhika, menunjukkan komitmen untuk menghasilkan karya yang tidak hanya menghibur tetapi juga memperkaya eksplorasi budaya melalui lensa genre horor. Ini juga mencerminkan upaya produser seperti Gandhi Fernando untuk mengangkat dongeng rakyat ke layar lebar, memberikan perspektif baru pada kisah-kisah yang telah melegenda.
Dalam konteks industri perfilman domestik, adaptasi cerita rakyat dengan pendekatan yang lebih modern dan gelap seperti ini dapat memperluas daya tarik genre horor Indonesia, baik di pasar lokal maupun internasional. Hal ini menunjukkan dinamika kreatif di mana warisan budaya tidak hanya dilestarikan tetapi juga diinterpretasikan ulang untuk relevansi kontemporer, berpotensi membuka diskusi lebih lanjut tentang akar mitologi di tengah masyarakat urban.