:strip_icc()/kly-media-production/medias/5146104/original/059562700_1740752131-MV5BZTViZTRmY2ItOWU1ZS00YWY3LWE4M2EtNTU4OGQ1OWYwOGJmXkEyXkFqcGc_._V1_.jpg)
Perdebatan mengenai kesesuaian konten hiburan digital bagi audiens muda kian mengemuka, dengan sejumlah serial anime populer kini menjadi sorotan tajam karena muatan kekerasan eksplisit dan tema dewasa yang tidak pantas dikonsumsi anak-anak. Fenomena ini memaksa orang tua dan regulator untuk meninjau ulang asumsi lama bahwa semua animasi Jepang aman bagi penonton usia dini, sebuah pandangan yang telah terbukti usang seiring perkembangan genre anime yang semakin beragam dan berani.
Analisis terhadap beberapa judul terkemuka menunjukkan bahwa alih-alih menjadi hiburan ringan, anime seperti Sakamoto Days dan Interspecies Reviewers, serta empat judul lainnya, menampilkan narasi yang sarat kekerasan brutal, konten seksual, dan psikologi kompleks, memerlukan pemahaman dan kedewasaan emosional yang jauh melampaui kapasitas anak-anak. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sejak lama telah mengingatkan bahwa tidak semua kartun ditujukan untuk anak-anak, menggarisbawahi adanya film kartun dewasa yang memerlukan klasifikasi usia khusus.
Sakamoto Days, misalnya, berpusat pada kisah mantan pembunuh bayaran, Taro Sakamoto, dan menampilkan adegan pertarungan yang intens serta kekerasan grafis. Ratingnya sebagai TV-15, yang berarti cocok untuk pemirsa berusia 15 tahun ke atas, disebabkan oleh kekerasan aksinya, bahasa yang sedikit kasar, dan tema-tema dewasa yang berkutat pada dunia kriminal dan pembunuhan. Adegan-adegan brutal yang mendorong batas toleransi manga shonen, termasuk penggambaran karakter yang memelintir kepala lawan atau merobek pipi, membuat serial ini tidak sesuai untuk penonton yang lebih muda.
Interspecies Reviewers, di sisi lain, secara terang-terangan adalah komedi seks fantasi dengan rating 18+ karena konten seksualnya yang ekstensif, bahasa yang kuat, dan ketelanjangan. Serial ini mengeksplorasi konsep rumah bordil yang dijalankan oleh "succu-girls" dari berbagai spesies, dengan para karakternya bertindak sebagai kritikus layanan seks. Konten eksplisitnya bahkan menyebabkan pembatalan penayangan oleh beberapa stasiun televisi di Jepang pada Februari 2020.
Tidak hanya dua judul tersebut, empat anime lain juga menjadi contoh nyata mengapa pengawasan ketat diperlukan. Attack on Titan (Shingeki no Kyojin) dikenal dengan adegan pertarungan brutal dan tema gelap yang mengeksplorasi peperangan, kematian, dan pengkhianatan, serta menyajikan banyak momen mengerikan. Tokyo Ghoul, yang mengisahkan seorang remaja yang berubah menjadi setengah ghoul, dipenuhi dengan kekerasan grafis, darah, dan tema identitas yang kompleks, menjadikannya tidak sesuai untuk penonton muda. Elfen Lied terkenal dengan elemen horor dan kekerasan ekstrem, termasuk adegan sadis dan konten dewasa eksplisit, menjadikannya pilihan yang sangat tidak cocok untuk anak-anak. Terakhir, High School DxD adalah anime bergenre ecchi yang menampilkan humor dan fanservice seksual kelas berat, dengan fokus pada godaan seksual dan obsesi tokoh utama terhadap tubuh wanita, yang secara jelas tidak tepat untuk audiens anak-anak.
Implikasi dari paparan konten semacam ini pada anak-anak sangat mengkhawatirkan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengungkapkan bahwa pada tahun 2021, 66,6 persen anak laki-laki dan 62,3 persen anak perempuan di Indonesia telah menyaksikan kegiatan seksual atau pornografi melalui media daring. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2018 bahkan menunjukkan bahwa 96% anak berusia 10-17 tahun di Indonesia pernah mengakses konten negatif (porno), dengan rata-rata penggunaan 64 jam setiap bulan. Psikolog Klinis Dessy Ilsanty mengingatkan bahwa batas antara dunia nyata dan fantasi bisa kabur pada anak-anak dan remaja jika mereka terlalu terlarut dalam tontonan fiktif, berpotensi mengganggu keseimbangan psikologis. Paparan kekerasan juga dapat menyebabkan perilaku imitasi, seperti yang disoroti dalam studi tentang dampak tayangan kekerasan pada perilaku anak.
Situasi ini menuntut peran aktif orang tua dan lembaga pendidikan dalam meningkatkan literasi media pada anak-anak. Pengawasan konten, edukasi mengenai batasan usia, dan diskusi terbuka tentang tema-tema sensitif adalah krusial untuk melindungi perkembangan emosional dan sosial anak dari dampak negatif yang tidak diinginkan. Tanpa upaya kolektif, anak-anak akan terus rentan terhadap materi yang tidak sesuai, membentuk pandangan dunia yang mungkin terdistorsi dan memengaruhi perilaku mereka di masa depan.