Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Totalitas Yati Surachman: Selami Rahasia Santet Demi Peran Dukun di Film Lintrik

2025-12-22 | 15:40 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T08:40:37Z
Ruang Iklan

Totalitas Yati Surachman: Selami Rahasia Santet Demi Peran Dukun di Film Lintrik

Aktris senior Yati Surachman mendalami praktik santet untuk perannya sebagai dukun dalam film horor "Lintrik", sebuah pendekatan yang menyoroti upaya sineas Indonesia dalam merepresentasikan dimensi mistis budaya lokal secara otentik. Surachman dilaporkan melakukan riset langsung dan berinteraksi dengan individu yang diyakini memiliki pemahaman tentang ilmu hitam, dalam upayanya untuk menghadirkan karakter dengan kedalaman dan keakuratan, jauh dari stereotip klise. Riset mendalam ini berpotensi memberikan lapisan otentisitas yang jarang terlihat pada karakter sejenis di layar lebar, sekaligus memicu diskusi lebih lanjut mengenai representasi kepercayaan tradisional dalam media modern.

Proses pendalaman peran Yati Surachman, yang melibatkan studi langsung terhadap fenomena santet, mencerminkan sebuah upaya signifikan untuk melampaui interpretasi permukaan. Ia disebut-sebut tidak hanya membaca naskah tetapi juga mencari tahu detail praktis dan filosofis di balik praktik santet, yang di Indonesia seringkali dipersepsikan sebagai bagian integral dari kepercayaan supranatural masyarakat, meskipun sering dikaitkan dengan hal negatif. "Lintrik" sendiri berpusat pada kisah yang berhubungan dengan praktik ilmu hitam tersebut, menempatkan karakter dukun sebagai poros penting narasi. Detail spesifik mengenai metodologi risetnya, seperti lokasi atau identitas narasumber, tidak diungkapkan secara publik, namun upaya ini menggarisbawahi komitmen aktris terhadap keakuratan karakter yang diperankannya.

Fenomena santet di Indonesia memiliki akar sejarah yang kuat dan terus menjadi bagian dari diskursus sosial dan budaya. Meskipun tidak ada data statistik resmi mengenai keberadaan atau efektivitas santet, kepercayaan terhadapnya masih cukup luas di berbagai lapisan masyarakat, seringkali muncul dalam konteks konflik pribadi atau sosial. Sosiolog budaya, Dr. Ratna Sari Dewi dari Universitas Gadjah Mada, mencatat bahwa representasi santet dalam film horor Indonesia seringkali bersifat eksploitatif atau dangkal, hanya untuk tujuan menakut-nakuti tanpa konteks budaya yang memadai. "Upaya seorang aktor untuk menggali lebih dalam akar kepercayaan ini bisa jadi pedang bermata dua," kata Dr. Sari Dewi. "Di satu sisi, bisa memperkaya narasi dan memberikan pemahaman yang lebih nuansial. Di sisi lain, ada risiko mengukuhkan atau bahkan melegitimasi praktik yang kontroversial jika tidak disajikan dengan kerangka etis yang kuat."

Implikasi jangka panjang dari pendekatan semacam ini dalam perfilman nasional dapat mendorong standar baru untuk akurasi budaya dalam genre horor. Alih-alih hanya mengandalkan mitos populer, upaya riset mendalam seperti yang dilakukan Yati Surachman dapat menginspirasi sineas lain untuk mengeksplorasi lebih jauh nuansa dan kompleksitas kepercayaan tradisional, daripada hanya menjadikannya sebagai alat cerita yang murahan. Ini juga berpotensi membuka dialog tentang bagaimana seni dapat merefleksikan dan bahkan membentuk persepsi publik terhadap elemen-elemen budaya yang seringkali dianggap tabu atau misterius. Namun, tantangannya tetap terletak pada bagaimana film ini menyeimbangkan antara penceritaan yang menarik dan tanggung jawab etis dalam merepresentasikan praktik yang sensitif secara budaya dan seringkali disalahpahami.