Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

The Soeratmans & Indrasabil: Menguak Sinergi dalam Karya Kolaborasi

2025-12-22 | 15:34 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-22T08:34:17Z
Ruang Iklan

The Soeratmans & Indrasabil: Menguak Sinergi dalam Karya Kolaborasi

Setelah tersimpan selama lebih dari satu dekade, materi musik unit rock The Soeratmans akhirnya diluncurkan secara digital, menandai tidak hanya debut album tetapi juga sebuah arsip kemarahan sosial, catatan personal lintas waktu, dan penghormatan terakhir bagi vokalis utama mereka, Said Heri Wahyudi atau Ayie Alhabsyi, yang meninggal pada Februari 2025 di Aceh. Proses perampungan karya ini, yang mayoritas direkam pada tahun 2013, menjadi krusial dengan keterlibatan vokalis Indrasabil yang mengisi tiga lagu tambahan pada tahun 2023 untuk melengkapi total sembilan trek album tersebut.

Lahir dari masa sulit industri kreatif, nama The Soeratmans diangkat dari nama keluarga besar kakak beradik Farre (gitar/bass) dan Fahri (drum), sebagai fondasi emosional yang berakar pada ayah dan kakek mereka, Soeratman. Rekaman awal dilakukan di Farm House Production, studio audio-post milik Farre dan Matto (gitar dan sound recordist) di Lenteng Agung, Jakarta. Pada periode tersebut, bisnis mereka sedang terpuruk akibat perubahan lanskap industri musik dan menjamurnya distribusi gratis di internet, sebuah kondisi yang justru memicu penciptaan musik sarat kritik tajam terhadap realitas sosial dan politik. Murry dari Buronan Mertua turut terlibat sebagai pemain bass, bersama Mpung yang mengisi keyboard dan synthesizer dalam materi-materi awal tersebut.

Keputusan untuk merampungkan dan merilis karya ini setelah bertahun-tahun tertunda, termasuk kerusakan arsip rekaman dan kepulangan Ayie ke Aceh untuk membantu keluarga, menyoroti ketahanan artistik di tengah tantangan personal dan struktural industri musik. Keterlibatan Indrasabil pada tahap akhir tidak sekadar mengisi kekosongan vokal, melainkan juga menyuntikkan dimensi baru pada narasi yang telah terbangun, menjembatani kesenjangan waktu dalam kreasi musik The Soeratmans. Secara musikal, The Soeratmans mengakar pada rock era 60-an hingga 80-an, seperti Led Zeppelin, The Beatles, dan The Doors, namun juga menyertakan sentuhan industrial ala Nine Inch Nails. Eksperimen teknis, termasuk penggunaan gitar akustik berdistorsi untuk mencapai energi mentah, menjadi ciri khas dalam rekaman awal mereka. Kekuatan narasi yang mendalam bahkan mengantar salah satu lagu mereka, "Negeri Tanpa Matahari", menjadi lagu tema untuk sebuah film animasi. Perilisan ini bukan hanya mengukuhkan eksistensi The Soeratmans di kancah musik digital, tetapi juga menawarkan perspektif tentang bagaimana seniman dapat merespons perubahan zaman dan tantangan pribadi melalui karya yang otentik dan memiliki nilai historis yang kuat.