Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Terkuak: Selera Musik Kontras Marshel dan Cesen, JKT48 atau The Weeknd?

2025-12-27 | 20:18 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-27T13:18:56Z
Ruang Iklan

Terkuak: Selera Musik Kontras Marshel dan Cesen, JKT48 atau The Weeknd?

Marshel Widianto, komedian ternama Indonesia, secara terbuka menyatakan apresiasinya terhadap grup idola JKT48, sementara istrinya, Maria Elizabeth Cesen, mantan anggota JKT48, secara kontras menunjukkan preferensinya pada musisi R&B global The Weeknd, menyoroti dinamika selera musik personal dalam rumah tangga selebriti sekaligus merefleksikan pergeseran lanskap konsumsi musik di Indonesia. Pernyataan Marshel mengenai kekagumannya terhadap JKT48 seringkali muncul dalam berbagai kesempatan publik dan wawancara, memperkuat citranya sebagai penggemar berat budaya idola lokal. Sebaliknya, Cesen, yang memiliki latar belakang langsung dalam industri idola, memilih The Weeknd, ikon pop dan R&B asal Kanada, sebagai preferensi musiknya.

Latar belakang Marshel sebagai figur publik yang dekat dengan audiens massa Indonesia, ditambah dengan citranya yang sering kali mengusung humor dan referensi budaya pop lokal, menjadikan dukungannya terhadap JKT48 sebagai representasi dari basis penggemar grup idola tersebut yang melintasi berbagai segmen masyarakat. JKT48 sendiri telah menancapkan akar kuat di Indonesia sejak debutnya pada tahun 2011 sebagai sister group AKB48 dari Jepang, membangun komunitas penggemar yang loyal dan besar, terutama melalui interaksi langsung dan konsep "idola yang bisa kamu temui". Mereka berhasil mempertahankan relevansinya selama lebih dari satu dekade dengan adaptasi terhadap tren digital dan keberlanjutan regenerasi anggota. Pernyataan Marshel ini mencerminkan fenomena umum di mana selebriti juga memiliki preferensi budaya populer yang selaras dengan masyarakat luas, seringkali memperkuat tren tersebut.

Di sisi lain, pilihan Cesen untuk The Weeknd menggarisbawahi daya tarik musik global yang terus meningkat di Indonesia. The Weeknd, dengan nama asli Abel Tesfaye, telah mencapai popularitas masif di seluruh dunia melalui genre R&B kontemporer yang gelap dan melankolis, didukung oleh produksi musik yang canggih dan estetika visual yang kuat. Konsumsi musik Barat di Indonesia, meskipun bersaing dengan musik lokal dan regional, tetap memegang pangsa pasar signifikan, terutama di kalangan milenial dan Gen Z yang akrab dengan platform streaming global seperti Spotify dan Apple Music. Preferensi Cesen, seorang mantan idola yang notabene terlibat dalam industri musik lokal, menunjukkan adanya spektrum selera musik yang lebih luas di kalangan individu, melampaui afiliasi profesional mereka. Hal ini juga dapat diinterpretasikan sebagai refleksi dari paparan individu terhadap beragam genre dan artis yang dimungkinkan oleh akses digital tanpa batas.

Implikasi dari perbedaan preferensi musik dalam rumah tangga Marshel dan Cesen ini melampaui sekadar selera pribadi; ia mencerminkan dikotomi yang lebih luas dalam lanskap konsumsi musik Indonesia saat ini. Adanya penggemar setia untuk JKT48, sebuah entitas yang sangat berakar pada budaya pop Asia Timur yang diadaptasi secara lokal, berdampingan dengan popularitas masif artis internasional seperti The Weeknd, menyoroti bagaimana konsumen musik modern di Indonesia tidak lagi terpaku pada satu jenis atau asal usul musik. Individu bebas menjelajahi dan mengapresiasi spektrum luas genre dan artis, membentuk identitas musikal yang hibrida. Fenomena ini juga menegaskan peran media sosial dan platform streaming sebagai kurator selera, memungkinkan pengguna untuk menemukan musik dari berbagai belahan dunia dan latar belakang budaya, sekaligus menjaga relevansi bintang lokal. Ke depan, tren ini diprediksi akan terus berlanjut, dengan konsumen musik Indonesia semakin menunjukkan selera yang eklektik dan personal, sebuah cerminan dari konektivitas global yang tak terhindarkan.