
Felix Thomas, seorang seniman tato asal Inggris, mengukir potret mikro Ratu Elizabeth II di pahanya sebagai persembahan cinta dan bentuk duka yang mendalam, dua hari setelah wafatnya sang Ratu pada September 2022. Tindakan personal ini menyoroti fenomena yang lebih luas di antara warga Inggris yang memilih seni tubuh sebagai medium permanen untuk mengenang monarki terlama mereka, merefleksikan pergeseran dalam ekspresi kesetiaan dan identitas nasional dalam masyarakat modern.
Pilihan paha sebagai lokasi tato, area yang seringkali bersifat pribadi dan tidak langsung terlihat publik, menunjukkan kedalaman hubungan emosional individu dengan sosok Ratu. Bagi Thomas, potret Ratu Elizabeth II muda yang melekat di tubuhnya bukan sekadar gambar, melainkan bukti cinta abadi terhadap mendiang pemimpin monarki. Fenomena ini menjadi bagian dari gelombang penghormatan publik yang beragam setelah Ratu wafat di usia 96 tahun, dari karangan bunga di luar istana hingga koleksi memorabilia digital, namun tato menawarkan komitmen yang jauh lebih personal dan tak terhapuskan.
Secara historis, seni tato memiliki jejak di kalangan keluarga kerajaan Inggris, meskipun seringkali lebih tersembunyi dan tidak sepopuler di kalangan masyarakat umum. Raja George V, misalnya, diketahui memiliki tato bergambar naga dan harimau di lengannya yang terekspos saat bertugas di Royal Navy pada tahun 1881, memicu gelombang tren tato di kalangan aristokrat pada masanya. Tato pada masa itu bahkan sempat menjadi simbol status sosial di Inggris pada abad ke-19, terutama setelah para aristokrat Eropa pulang dari Jepang dengan seni tubuh sebagai "suvenir". Ini menunjukkan bahwa gagasan tentang anggota kerajaan atau figur monarki yang terhubung dengan seni tato bukanlah hal yang sama sekali baru, meskipun ekspresinya telah berevolusi.
Dalam konteks kontemporer, tato yang didedikasikan untuk Ratu Elizabeth II menggarisbawahi bagaimana identitas nasional dan kesetiaan monarki kini diungkapkan melalui cara-cara yang semakin individual dan ekspresif. Pilihan untuk mengabadikan wajah Ratu pada tubuh seseorang mencerminkan kebutuhan akan koneksi tangible dan permanen dengan figur yang telah menjadi simbol stabilitas dan kesinambungan selama tujuh dekade. Tato semacam ini berfungsi sebagai penanda visual dari sebuah era yang berakhir, sekaligus deklarasi pribadi akan nilai-nilai yang diasosiasikan dengan Ratu: tugas, dedikasi, dan pelayanan publik. Ini juga menunjukkan pergeseran budaya di mana seni tato semakin diterima secara luas di semua lapisan masyarakat, bahkan untuk merepresentasikan penghormatan terhadap institusi seformal monarki.
Implikasi jangka panjang dari fenomena ini mungkin terletak pada demokratisasi simbolisme kerajaan. Jika di masa lalu penghormatan kepada monarki seringkali terwujud dalam bentuk patung publik atau upacara kenegaraan, kini ia merambah ke ranah pribadi dan seni tubuh yang permanen. Hal ini dapat memperkuat ikatan emosional antara rakyat dan monarki, menjadikan hubungan tersebut lebih intim dan personal. Tato potret Ratu Elizabeth II, baik di paha atau bagian tubuh lainnya, bukan hanya sekadar memorial, melainkan manifestasi budaya dari warisan seorang Ratu yang tetap relevan dalam kehidupan pribadi warganya. Ini membentuk narasi baru tentang bagaimana figur monarki, setelah berpulang, terus hidup dalam kolektif dan individualitas rakyatnya.