
Aktris Steffi Zamora awalnya menyatakan keraguan serius untuk menerima tawaran peran utama dalam film "Pengin Hijrah", yang dijadwalkan tayang pada 30 Oktober 2025, karena kekhawatiran akan terjebak dalam narasi religi yang terlalu berat dan ekspektasi publik terhadap citra dirinya. Zamora, yang dikenal melalui berbagai proyek film dan televisi, merasakan "agak takut" saat pertama kali mendengar judul film tersebut, menganggapnya "berat banget" dan merasa tidak terlalu religius untuk peran semacam itu.
Fenomena "hijrah" di kalangan figur publik Indonesia telah menjadi tren sosial dan keagamaan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, sering kali melibatkan perubahan gaya hidup, penampilan, dan pendalaman ajaran agama. Studi menunjukkan bahwa motivasi di balik "hijrah" di kalangan selebriti dapat bervariasi, mulai dari pencarian makna hidup yang lebih dalam hingga pengaruh komunitas religius dan media sosial. Keputusan untuk berhijrah kerap memicu perdebatan publik, dengan beberapa pihak mengapresiasi sebagai kebangkitan spiritual tulus, sementara yang lain mengkritik sebagai tren sesaat tanpa pemahaman mendalam. Bagi sebagian artis, seperti yang diamati oleh penelitian, hijrah dapat membawa perubahan dalam berpenampilan, pemikiran beragama, dan sikap sosial, serta mendapatkan dukungan positif dari penggemar yang melihatnya sebagai tren positif.
Zamora, dalam sebuah konferensi pers pada 24 Agustus 2025, mengungkapkan bahwa kekhawatirannya muncul karena ia tidak ingin "terlalu main film yang nantinya religi, nanti takutnya berat banget gitu di akunya". Namun, keraguan tersebut sirna setelah berdiskusi dengan tim produksi dan membaca skenario secara menyeluruh. Zamora menyadari bahwa film arahan Jastis Arimba itu disajikan dengan ringan, menarik, namun tetap memiliki pesan yang mendalam. Ia bahkan menggambarkan "Pengin Hijrah" sebagai "rom-com yang ada unsur religinya," dan bukan film religi yang menggurui. Dalam film tersebut, Zamora memerankan Alina, seorang selebgram muda dari Belitung yang mengalami konflik keluarga dan masalah finansial setelah beasiswanya dicabut karena unggahan kontroversial. Alina kemudian memulai perjalanan pencarian diri dan perbaikan, terinspirasi untuk "hijrah" oleh sahabatnya.
Pengalaman syuting yang berlangsung di empat lokasi, termasuk Jakarta, Bogor, Belitung, dan Uzbekistan, memberikan tantangan tersendiri bagi Zamora, namun ia menganggapnya sebagai pengalaman berharga. Secara personal, Zamora mengaku bahwa perannya sebagai Alina membuatnya tergerak untuk "hijrah" atau setidaknya berproses menjadi pribadi yang lebih baik, serta belajar pentingnya memilih teman dan lingkungan yang positif. Hal ini menyoroti bagaimana seni peran dapat melampaui batas fiksi, memengaruhi pandangan dan keputusan personal seorang aktor. Film ini memperlihatkan bahwa konsep hijrah, dalam konteks modern, tidak selalu terikat pada perubahan fisik semata, tetapi juga mencakup perubahan pemikiran beragama dan sikap sosial yang lebih baik. Insiden ini menggarisbawahi kompleksitas identitas personal dan profesional di tengah lanskap budaya Indonesia yang terus berkembang, di mana garis antara spiritualitas dan ekspresi artistik menjadi semakin cair.