
Gelaran festival musik Soundrenaline 2025 di Jakarta mengambil format multilokasi baru yang membentang di tiga distrik utama, termasuk Taman Kota Peruri dan Blok M, selama empat hari pada 18 hingga 21 Desember 2025. Pendekatan "Sana Sini" ini menandai pergeseran signifikan dari model festival terpusat, dengan tujuan mengintegrasikan musik dan seni lebih dalam ke denyut nadi perkotaan. Soundrenaline, yang memasuki tahun ke-20 penyelenggaraannya sejak pertama kali digelar pada 2002, beradaptasi dengan lanskap industri musik pasca-pandemi yang dinamis, menawarkan pengalaman multisensori dan kolaboratif.
Ravel Junardy, CEO Ravel Entertainment selaku promotor Soundrenaline, sebelumnya menyatakan komitmennya untuk menghadirkan musisi papan atas nasional dan internasional, sekaligus mengukuhkan Soundrenaline sebagai festival musik lintas genre dan lintas generasi terbesar. Festival ini sebelumnya dikenal dengan penyelenggaraan terpusat, seperti di Eco Park Ancol pada 2022 setelah dua tahun vakum, dan di Sirkuit Carnaval Ancol pada 2023. Transformasi ke konsep "Sana Sini" di Jakarta mencakup ASEAN District di Taman Kota Peruri, yang berfokus pada musik indie, pop, eksplorasi tradisi, hingga sinema, dengan penampilan band Australia POND sebagai penampil utama. Sementara itu, Blok M District tersebar di M Bloc Live House, COMA Jakarta, dan Krapela, menjadi pusat skena musik urban yang beragam, mulai dari soul, hip-hop, rock, elektronik, hingga eksperimental, menampilkan nama-nama seperti Andien dan Teddy Adhitya. Distrik ketiga, Istora District, melengkapi kerangka tersebut dengan konsep musik dan pengalaman yang berbeda.
Pergeseran ini mencerminkan upaya festival untuk tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga platform kolaboratif yang mendorong ekosistem kreatif nasional secara berkelanjutan. Konsep Soundrenaline 2025 memperkenalkan tiga inisiatif utama: The Stage untuk pertunjukan, The Space sebagai ruang temu, dan The Lab untuk proses belajar dan berkarya, yang dirancang untuk saling melengkapi. Inisiatif The Lab, khususnya di Blok M District, akan menjadi ruang khusus untuk diskusi musik, sesi dengar, dan lokakarya bersama pelaku industri lokal dan internasional.
Namun, lanskap festival musik di Indonesia menghadapi tantangan. Meskipun euforia pasca-pandemi sempat mendorong peningkatan jumlah festival, dengan lebih dari 30 festival di seluruh Indonesia pada akhir 2022, sektor ini mulai merasakan tekanan pada 2025. Beberapa festival besar lainnya, seperti We The Fest dan Joyland, membatalkan edisinya pada 2025, mengutip penurunan dukungan sponsor dan perubahan pola belanja konsumen. Pendiri Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI), Anas Syahrul Alimi, pada Januari 2025 menggarisbawahi tren festival musik yang "sangat selektif" karena menurunnya daya beli masyarakat, meskipun segmen konsumen tertentu tetap leluasa membeli tiket.
Pemerintah sendiri mengakui potensi ekonomi dari festival musik. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno pada 2023 menyatakan keberhasilan festival musik sebagai indikator pemulihan ekonomi kreatif pasca-pandemi, menciptakan lapangan kerja dari sektor kuliner hingga staf pendukung acara. Kementerian Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi pada Januari 2025 bahkan membuka peluang riset mengenai efek pengganda festival musik di Indonesia, menunjukkan keseriusan dalam mengukur dampak ekonominya secara akurat. Riset Jakpat pada Agustus 2024 menunjukkan bahwa 8 persen responden telah membeli tiket untuk konser dalam enam bulan mendatang, dan 28 persen lainnya berencana untuk hadir, mengindikasikan bahwa minat masih ada meskipun selektif.
Soundrenaline "Sana Sini" berupaya merespons tantangan ini dengan format yang lebih menyatu dengan kota, menciptakan suasana cair dan inklusif yang dirasakan langsung oleh musisi dan penonton. Pendekatan ini tidak hanya mengoptimalkan ruang publik yang ada tetapi juga berpotensi memperluas dampak ekonomi dan budaya, menjadikan Jakarta sebagai panggung kolektif yang hidup, jauh melampaui batas-batas venue konvensional.