Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Seniman Bertopeng Sulap Langit Jadi Kanvas Potret Ratu Elizabeth II

2025-12-28 | 09:01 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-28T02:01:34Z
Ruang Iklan

Seniman Bertopeng Sulap Langit Jadi Kanvas Potret Ratu Elizabeth II

Sebuah potret Ratu Elizabeth II yang dibuat secara anonim di atas langit, sebuah representasi artistik yang beresonansi dengan duka kolektif, telah menjadi bagian dari serangkaian tribut visual dan udara pasca-kepergian sang monarki pada tahun 2022. Fenomena seni anonim yang memanfaatkan kanvas langit ini menyoroti bagaimana seniman dan publik mencari cara-cara inovatif untuk mengenang sosok berpengaruh, memadukan teknologi modern dengan ekspresi emosional yang mendalam.

Kematian Ratu Elizabeth II pada 8 September 2022 memicu gelombang penghormatan global, mendorong berbagai bentuk ekspresi artistik untuk menandai akhir dari era kepemimpinan selama 70 tahun. Salah satu bentuk tribut yang paling menonjol memanfaatkan media udara. Pada 6 Oktober 2022, pilot Amal Larhlid menerbangkan pesawat Piper PA-28 selama dua jam di barat laut London, menciptakan potret samping Ratu Elizabeth II yang mengenakan mahkota. Karya seni udara raksasa ini memiliki tinggi 105 kilometer dan lebar 63 kilometer, menempuh jarak 413 kilometer, dan tercatat sebagai potret terbesar di dunia yang dibuat di langit. Larhlid menyatakan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk menggalang dana bagi organisasi amal Hospice UK, sembari "memberikan penghormatan kepada simbol pengabdian dan tanpa pamrih". Proses perencanaan melibatkan konversi potret Ratu ke dalam program perencanaan penerbangan ForeFlight, serta perencanaan rute manual untuk menghindari wilayah udara terbatas dan mengatasi angin kencang hingga 30 knot yang membuat penerbangan "sporty".

Sebelumnya, pada Juni 2022, dalam perayaan Platinum Jubilee Ratu Elizabeth II, sebuah pertunjukan drone spektakuler oleh perusahaan SKYMAGIC menerangi langit di atas Istana Buckingham di London. Menggunakan 400 drone yang dilengkapi lampu LED, pertunjukan tersebut membentuk citra-citra ikonik Inggris seperti perangko bergambar Ratu, teko yang menuangkan teh, Union Jack, dan anjing corgi kesayangan Ratu yang sedang tersenyum. Pertunjukan ini disaksikan oleh 22.000 penonton di The Mall dan mencapai puncak 13 juta pemirsa di BBC, menjadikannya viral secara global di media sosial. Kyla Owen, Project Lead untuk Platinum Jubilee di Istana Buckingham, mengungkapkan kekagumannya, "Ini melampaui semua ekspektasi sejuta mil". Pertunjukan drone ini bukan hanya sebuah perayaan, melainkan juga demonstrasi potensi teknologi drone dalam seni publik, menawarkan alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan kembang api tradisional, tanpa polusi suara atau puing-puing.

Di luar kreasi langsung di langit, gagasan "seniman bertopeng" atau anonim telah muncul dalam konteks tribut Ratu, termasuk laporan media tentang "poster bergambar Ratu Elizabeth II dalam bayangan di langit biru". Meskipun detail spesifik mengenai seniman atau metode pembuatannya seringkali tetap anonim, karya-karya semacam ini mencerminkan keinginan kolektif untuk merayakan dan merenungkan warisan Ratu melalui ekspresi artistik yang unik dan seringkali tak terduga.

Penggunaan langit sebagai kanvas untuk seni peringatan membawa implikasi signifikan. Sifat efemeral dari seni udara—baik itu jejak pesawat, proyeksi, atau formasi drone—menawarkan pengalaman bersama yang unik, terbatas pada waktu dan ruang. Ini berbeda dengan monumen fisik yang permanen, seperti rencana pembangunan memorial nasional Ratu Elizabeth II senilai hingga 46 juta Poundsterling di St James's Park, London, yang dijadwalkan akan diresmikan pada tahun 2026 bertepatan dengan ulang tahun ke-100 Ratu. Memorial ini akan mencakup patung, taman, dan jembatan, dengan beberapa desain awal menampilkan "patung angin" oleh seniman Yinka Shonibare atau instalasi audio suara Ratu. Lord Janvrin, ketua komite memorial, menekankan pentingnya desain yang dapat "menangkap esensi" kenangan Ratu untuk generasi mendatang.

Kontras antara memorial permanen dan tribut udara yang berlalu cepat mencerminkan spektrum cara masyarakat modern berduka dan mengenang. Seni langit, dengan kemampuannya untuk menjangkau khalayak luas secara instan melalui media sosial, menegaskan peran teknologi dalam membentuk narasi kolektif tentang tokoh publik. Ia menawarkan momen persatuan, memungkinkan individu dari berbagai latar belakang untuk menyaksikan dan berbagi keindahan serta rasa hormat secara simultan, memperkaya warisan budaya dari seorang monarki yang telah menyaksikan perubahan dunia yang begitu besar.