Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

RM BTS di Studio Takashi Murakami: Potret Estetika yang Memukau

2025-12-28 | 18:50 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-28T11:50:01Z
Ruang Iklan

RM BTS di Studio Takashi Murakami: Potret Estetika yang Memukau

Kim Nam-joon, dikenal luas sebagai RM, pemimpin grup idola K-pop global BTS, terus mengukuhkan posisinya sebagai seorang patron seni berpengaruh yang menjembatani budaya populer dan dunia seni rupa kontemporer. Keterlibatan RM dengan karya-karya seniman Jepang ternama, Takashi Murakami, disorot melalui kepemilikan koleksi pribadinya dan pengumuman pameran "RM x SFMOMA" yang akan datang, yang dijadwalkan berlangsung dari Oktober 2026 hingga Februari 2027 di San Francisco Museum of Modern Art, menampilkan karya-karya Murakami di antara sekitar 200 koleksi pribadi dan kurasi RM. Interaksi ini, yang seringkali dibagikan melalui platform media sosialnya, menggarisbawahi kemampuannya untuk mengarahkan perhatian global ke dalam dialog seni.

RM telah lama dikenal sebagai kolektor seni rupa dan pengunjung museum yang bersemangat, sebuah citra yang secara signifikan telah menarik audiens baru, khususnya generasi muda, ke galeri dan pameran. Pada tahun 2020, ia menyumbangkan 100 juta won (sekitar $81.000) kepada National Museum of Modern and Contemporary Art (MMCA) di Seoul untuk mencetak ulang buku-buku seni yang sudah tidak dicetak, yang membuatnya diakui sebagai Sponsor Seni Terbaik oleh Dewan Seni Korea. Fenomena "Namjooning"—di mana penggemar mengikuti jejak RM mengunjungi museum dan galeri—telah diamati di institusi-institusi seni global, termasuk Rothko Chapel dan The Menil Collection di Houston, Texas, serta The Broad di Los Angeles, yang melaporkan peningkatan pengunjung setelah unggahan RM di media sosial. Pengaruhnya bukan hanya pada jumlah pengunjung, melainkan juga pada demokratisasi akses ke seni, mengubah persepsi bahwa seni rupa hanya untuk kalangan tertentu.

Takashi Murakami, di sisi lain, merupakan figur sentral dalam seni kontemporer global dengan gerakan "Superflat" yang didirikannya. "Superflat" menggabungkan seni grafis Jepang tradisional, anime, manga, dan budaya pop dengan kritik terhadap masyarakat konsumen Jepang pasca-perang, menciptakan estetika yang secara sengaja menghilangkan hierarki antara seni "tinggi" dan "rendah". Karya-karyanya yang penuh warna, seperti bunga-bunga tersenyum ikoniknya, dikenal secara universal, muncul di dinding galeri, tas tangan mewah, dan platform digital. Murakami telah berkolaborasi dengan merek-merek global mulai dari Louis Vuitton hingga proyek NFT, menunjukkan bagaimana "Superflat" dapat menjembatani seni rupa, perdagangan, dan budaya digital. Kepemilikan RM atas karya seperti "Flower Ball (3-D), Kindergarten (2007)" oleh Murakami menyoroti perpaduan antara selera pribadi sang idola dan pengakuan terhadap seniman yang memiliki relevansi budaya luas.

Konvergensi antara K-pop dan dunia seni kontemporer menandai pergeseran signifikan dalam lanskap budaya global. Idola K-pop tidak hanya menjadi musisi, tetapi juga influencer fesyen, gaya hidup, dan, yang terpenting, pelestari serta promotor budaya. Mereka memiliki kekuatan untuk mendorong penjualan merek mewah dan mempopulerkan tren, yang kini meluas ke dunia seni. Pengaruh selebriti dalam pasar seni kontemporer semakin kentara, dengan partisipasi mereka sebagai kolektor, influencer, dan bahkan muse, yang dapat meningkatkan nilai karya seni dan profil seniman. Para ahli mencatat bahwa keterlibatan selebriti K-pop mampu menarik perhatian publik ke seniman atau gerakan tertentu, memicu lonjakan pengakuan dan nilai pasar bagi seniman tersebut.

Masa depan keterlibatan selebriti dalam seni diproyeksikan akan terus membentuk tren pasar, persepsi publik, dan bahkan batas-batas definisi "seni" itu sendiri. Dengan pameran yang dikurasi oleh RM seperti "RM x SFMOMA", kolaborasi lintas budaya ini tidak hanya mempromosikan seniman tertentu tetapi juga memperkaya dialog global tentang seni, menantang audiens untuk mempertimbangkan dampak budaya selebriti terhadap persepsi dan nilai-nilai mereka. Fenomena ini mencerminkan keinginan manusia yang mendalam untuk melihat kebesaran yang terlihat, menjaga ingatan budaya tetap hidup, dan menemukan bagian dari identitas diri dalam kisah-kisah mereka yang telah membentuk dunia kita. Ini menegaskan bahwa seni dan budaya populer tidak lagi berada dalam silo terpisah, melainkan saling mempengaruhi dan membentuk lanskap budaya yang semakin terhubung.