
Shueisha, melalui platform manga digitalnya Shonen Jump+, telah merilis dan mempersiapkan peluncuran tujuh seri manga terbaru yang menandai strategi berkelanjutan perusahaan dalam memperluas dominasinya di pasar komik digital global. Empat judul debut pada November 2025, yakni Delinquent Gacha, Hero Girl and Demon Lord Call It Quits, The Mage Next Door, dan Money Forest, disusul tiga seri pada Februari 2025: THE MARSHAL KING, The Eunuch of a Destroyed Country - Mekkoku no Kangan, dan Love is Overkill, memperkuat komitmen Shueisha untuk menyajikan konten segar kepada pembaca global melalui ekosistem digitalnya.
Langkah ini menegaskan peran krusial Shonen Jump+ sebagai garda depan inovasi Shueisha dalam merespons pergeseran konsumsi media dari cetak ke digital. Diluncurkan pada September 2014, platform ini menjadi kanal utama bagi Shueisha untuk menerbitkan judul-judul orisinal secara digital, sering kali dengan perilisan simultan dalam berbagai bahasa melalui aplikasi Manga Plus untuk audiens internasional. Strategi ini terbukti efektif dalam menjangkau pembaca yang lebih luas, termasuk peningkatan demografi pembaca perempuan setelah kesuksesan seri seperti Spy × Family.
Pasar komik manga global diperkirakan mencapai 21 miliar dolar AS pada tahun 2034, tumbuh dengan CAGR 6,5% dari 2025 hingga 2034. Pertumbuhan ini didorong oleh preferensi pembaca muda terhadap akses on-demand, dengan platform seperti Shonen Jump+ dan Manga Plus menjadi pemain kunci yang menawarkan rilis simultan dalam berbagai bahasa. Yuta Momiyama, wakil editor Shonen Jump+, telah menyatakan ambisi digital Shueisha, menekankan pentingnya platform Manga Plus yang menyediakan terjemahan dalam tujuh bahasa tanpa penundaan waktu dari perilisan di Jepang.
Rilis seri baru ini menunjukkan upaya Shueisha untuk menjaga momentum dan relevansi di tengah persaingan ketat. Judul-judul baru seperti Delinquent Gacha menghadirkan narasi sekolah menengah, sementara Hero Girl and Demon Lord Call It Quits menawarkan genre irisan kehidupan dengan sentuhan fantasi. Kehadiran THE MARSHAL KING, sebuah drama barat dari mangaka terkenal Boichi, yang juga dikenal atas karyanya Dr. Stone dan Sun-Ken Rock, menjadi daya tarik tersendiri, memanfaatkan reputasi kreator untuk menarik pembaca. The Eunuch of a Destroyed Country, dengan genre thriller konspirasi harem, melibatkan seniman Shouno Kotaro dari World's End Harem, sementara Love is Overkill oleh Astra Ashima, penulis Handsome Must Die, menambah keragaman genre dengan komedi romantis berdarah.
Penerbitan digital bukan hanya mempercepat distribusi, tetapi juga membentuk ulang lanskap pencarian bakat. Shueisha secara agresif merilis puluhan judul baru setiap tahun di Jump+, dengan sekitar separuh di antaranya dieleminasi dalam setahun. Meskipun tingkat kelangsungan hidup seri di platform digital lebih rendah dibandingkan Weekly Shonen Jump versi cetak, pendekatan ini memungkinkan eksplorasi genre dan gaya naratif yang lebih beragam.
Implikasi jangka panjang dari ekspansi digital ini mencakup perubahan dalam proses kreatif manga itu sendiri. Yūta Momiyama dan Pemimpin Redaksi Shonen Jump+ Shuhei Hosono bahkan tengah mengembangkan alat AI bernama Comic CoPilot AI untuk membantu kreator dalam penulisan, seperti ide judul dan penyusunan dialog, meskipun tetap menekankan tanggung jawab kreator atas kekayaan intelektual. Ini menunjukkan adaptasi industri terhadap teknologi baru, menciptakan lingkungan di mana inovasi teknologi berpotensi mendukung produksi konten yang lebih cepat dan efisien.
Shonen Jump+ dan Manga Plus telah berhasil mengumpulkan sekitar 2,4 juta pengguna aktif pada 2019, dengan lebih dari 13 juta unduhan pada Januari 2020. Minat pencarian untuk "shonen jump manga" secara global menunjukkan peningkatan dari Agustus hingga Oktober 2025, dengan puncaknya pada Oktober, mengindikasikan bahwa judul-judul individu menjadi daya tarik utama bagi audiens. Peluncuran rutin judul-judul baru ini merupakan bagian integral dari strategi Shueisha untuk mempertahankan daya tarik platform dan basis penggemar global yang setia, sembari terus beradaptasi dengan preferensi konsumsi media yang terus berkembang.