
Musisi Stefanus Pongki Tri Barata, yang selama dua dekade dikenal luas melalui balada romantis bersama Jikustik dan kemudian The Dance Company, baru-baru ini secara mengejutkan meluncurkan album solo rock-metal bertajuk "8090" pada pertengahan September 2025. Langkah ini merupakan bentuk "pemberontakan" artistik sang pencipta lagu terhadap kejenuhan genre percintaan yang menurutnya "sudah surplus" di industri musik Indonesia, sekaligus mengisyaratkan eksplorasi yang lebih dalam terhadap ekspresi musikalnya yang telah lama terpendam.
Keputusan Pongki untuk merilis "8090" menegaskan pergeseran signifikan dari persona musikalnya yang identik dengan lagu-lagu melankolis dan pop romantis yang telah menghasilkan banyak hits. Produser album, Chris Charles, secara terang-terangan mengungkapkan bahwa Pongki merasa jenuh dengan dominasi tema percintaan di pasar musik Tanah Air. "Pongki sudah jenuh dan bosan mendengarkan lagu-lagu bertema percintaan karena saat ini khususnya di Indonesia sudah surplus lagu model seperti itu," ujar Chris Charles dalam keterangan resmi. Perasaan ini mendorong Pongki untuk keluar dari zona nyaman dan menyalurkan kreativitas yang ia pendam sejak muda.
Album "8090" bukan sekadar perubahan genre dangkal. Karya ini menampilkan kolaborasi intens dengan sejumlah musisi dan gitaris ternama Indonesia, termasuk Iwan Tanda, Iga Massardi, Eross Candra dari Sheila On 7, Tomo Widayat, Pay Burman (mantan gitaris Slank), Eet Sjahranie dari EdanE, Ronie Athana dari The Dangerous, serta Tony Soekamti dari Endank Soekamti. Keterlibatan para virtuoso ini memperkaya lanskap suara album dengan riff tebal, chorus besar, dan energi panggung klasik, merujuk pada era rock dekade 80-an dan 90-an yang menjadi inspirasi utama.
Lagu-lagu dalam album ini memamerkan referensi musik rock legendaris yang kuat. Misalnya, "Derita Pencipta" membangkitkan nuansa grunge ala Nirvana, sementara "Cahaya" menghadirkan distorsi khas Def Leppard. Bagi penggemar musik cadas, lagu "Orang Penting" wajib didengarkan, dengan cabikan gitar agresif ala Eet Sjahranie yang mengingatkan pada Megadeth. Bahkan, Pongki berduet dengan Pay Burman dalam lagu "Batu Karang" yang kental dengan vokal melengking khas rocker era 80-an. Lirik-liriknya pun melampaui sekadar patah hati, menjelajahi tema daya juang, penerimaan diri, dan rekonsiliasi, menandai kedewasaan naratif yang berbeda dari karya-karya sebelumnya.
Perjalanan Pongki Barata sebagai musisi telah terukir panjang. Ia memulai kariernya dengan mengantarkan Jikustik pada puncak popularitas melalui lagu-lagu cinta, sebelum akhirnya vakum pada tahun 2009 dan bergabung dengan The Dance Company sebagai bassis dan vokalis. Selama ini, Pongki juga dikenal produktif menciptakan lagu-lagu hit untuk musisi lain. Eksperimennya dengan genre yang lebih keras sebenarnya telah terlihat pada awal 2024 dengan perilisan single "Orang Penting", yang menampilkan kolaborasi dengan Eet Sjahranie, Ronie Athana, dan Tony Soekamti, menunjukkan bahwa proyek "8090" merupakan kelanjutan dari eksplorasi musikal yang lebih awal.
Peluncuran "8090" ini dapat diinterpretasikan sebagai sebuah deklarasi artistik, di mana Pongki Barata menegaskan independensinya dari ekspektasi pasar dan penggemar yang telah melekat pada citra romantisnya. Album ini menawarkan peluang bagi Pongki untuk menjangkau audiens baru yang mengapresiasi musik rock-metal, sekaligus menantang penggemar lamanya untuk menerima evolusi musikalnya. Implikasi jangka panjang dari pergeseran ini akan terlihat dari resonansi album di pasar, respons kritikus, dan bagaimana hal tersebut membentuk arah karier Pongki Barata ke depan, apakah ini akan menjadi babak baru permanen atau hanya sebuah jeda eksplorasi dari identitas musikalnya yang telah mapan.