Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pesugihan Sate Gagak: Teror Hantu Kocak yang Mengguncang Layar Lebar

2025-12-28 | 23:12 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-28T16:12:56Z
Ruang Iklan

Pesugihan Sate Gagak: Teror Hantu Kocak yang Mengguncang Layar Lebar

Tiga sahabat yang putus asa menghadapi tekanan ekonomi—mulai dari tuntutan mahar pernikahan fantastis, kegagalan karier sebagai kreator konten horor, hingga jeratan utang pinjaman online—nekat menempuh jalan pintas melalui ritual pesugihan sate gagak, sebuah praktik mistis yang secara unik memadukan teror gaib dengan ledakan tawa, dan baru saja dirilis di bioskop-bioskop Indonesia mulai 13 November 2025. Film "Pesugihan Sate Gagak," yang disutradarai oleh Etienne Caesar dan komika Dono Pradana, menawarkan narasi yang berbeda dari konvensi film horor lokal, menyajikan kritik sosial terhadap mentalitas instan di balik balutan komedi absurd dan ketegangan supernatural. Diproduksi oleh Cahaya Pictures dan Base Entertainment, dengan durasi 105 menit, film ini mengisahkan Anto (Ardit Erwandha), Dimas (Yono Bakrie), dan Indra (Benidictus Siregar) yang menemukan buku mantra kuno berisi resep pesugihan sate gagak, di mana para makhluk halus seperti genderuwo, pocong, dan kuntilanak menjadi pelanggan setia yang membayar mahal. Keberhasilan instan ini, bagaimanapun, segera berubah menjadi petaka ketika pelanggan dari dunia lain menjadi semakin rakus dan tak terkendali.

Praktik pesugihan, sebuah konsep yang berakar kuat dalam tradisi lisan dan kepercayaan masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa, seringkali digambarkan dalam sinema sebagai jalan menuju kekayaan yang menuntut tumbal mengerikan. Namun, "Pesugihan Sate Gagak" memilih pendekatan satir, menertawakan absurditas ritual ini sambil tetap menghormati elemen budaya yang mendasarinya. Dono Pradana menjelaskan, "Lewat film ini, saya mau bilang, hidup itu absurd. Kadang hal paling gelap justru bisa bikin kita ketawa, dan ternyata ada pesugihan yang tumbalnya bukan manusia." Pemilihan burung gagak sebagai medium ritual, yang diyakini sebagai penjaga kekayaan dan memiliki koneksi dengan dimensi tak kasat mata dalam tradisi dunia, menjadi pusat dari keunikan cerita ini. Ritual ini, yang konon tersebar di berbagai daerah seperti Banyuwangi, Jember, pesisir Jawa Tengah, bahkan hingga Sulawesi dan Sumatera, menjadi cerminan dari keinginan masyarakat akan kekayaan instan di tengah himpitan ekonomi.

Film ini juga menyentil isu-isu kontemporer yang relevan dengan masyarakat Indonesia, seperti tingginya mahar pernikahan, frustrasi kreator konten yang belum viral, dan fenomena utang pinjaman online (pinjol) yang melilit banyak individu. Nuugro Agung, penulis skenario film ini, menyebutnya sebagai "cermin bagi orang yang ingin cepat kaya tanpa usaha." Perpaduan horor dan komedi dalam film ini dinilai mampu menyeimbangkan ketegangan dan kelucuan, dengan visual hantu yang tetap digarap serius meski dalam konteks komedi. Para kritikus film mencatat bahwa "Pesugihan Sate Gagak" berhasil melanjutkan tren positif genre horor komedi di tengah dominasi film horor mainstream dan adaptasi. Kehadiran para komika seperti Ardit Erwandha, Yono Bakrie, dan Benidictus Siregar sebagai pemeran utama, serta dukungan dari Nunung dan Arief Didu, memberikan kekuatan pada dialog yang terasa natural dan penuh improvisasi. Etienne Caesar, sutradara lainnya, menekankan relevansi film ini dengan menyatakan, "Film ini punya isu yang relate, ada persahabatan, hubungan anak dan ibu, serta nilai ekonominya kuat.”

Secara implikasi jangka panjang, "Pesugihan Sate Gagak" berpotensi memperkaya spektrum perfilman Indonesia, khususnya dalam genre horor-komedi. Film ini tidak hanya menawarkan hiburan yang ringan dan mengocok perut, tetapi juga mendorong penonton untuk merenungkan makna di balik perjuangan hidup, persahabatan, dan godaan untuk mencari jalan pintas. Produser Aoura Lovenson Chandra menyatakan, "Sejak awal kami memang ingin bikin sesuatu yang fresh, segar, dan nggak biasa. Teaser ini bukan sekadar pengenalan film, tapi juga cara kami kasih ruang tawa di tengah situasi sosial politik yang makin bikin kepala panas. Kadang kita butuh tontonan yang jadi pelarian sejenak, dan Pesugihan Sate Gagak bisa jadi jawaban itu.” Meskipun beberapa ulasan mengindikasikan bahwa humor dalam film ini terkadang menyentuh batas-batas kelucuan umum atau menggunakan lelucon fisik yang berulang, film ini secara keseluruhan berhasil menciptakan cerita yang universal dengan latar belakang kedaerahan yang kental. Keberanian film ini untuk mengeksplorasi praktik mistis dengan sentuhan jenaka dapat membuka pintu bagi produksi film lain yang lebih kreatif dalam menyajikan narasi horor dengan konteks budaya yang mendalam, sekaligus menyoroti dinamika sosial yang kompleks di Indonesia.