
Grup musik duo Indonesia NAVA meluncurkan mini album perdananya, "Rayakan Dunia Baru", pada 4 Juli 2025, menyuguhkan empat lagu beraliran alternative rock yang secara eksplisit mengangkat kegelisahan kontemporer, terutama kritik terhadap ketergantungan pada algoritma digital. Terdiri dari Hugo Kasela sebagai komposer dan penulis lirik, serta Revaldo Putra sebagai komposer dan produser, band yang terbentuk pada 15 April 2025 ini secara konsisten menyuarakan misi sosial untuk merefleksikan dan mengatasi kecemasan zaman melalui karya-karya mereka. Mereka menyatakan tujuannya adalah "membawa arah musik fresh melewati kegelisahan dunia dengan alternative rock sebagai head genre kami".
"Rayakan Dunia Baru" menawarkan narasi yang bervariasi, dimulai dengan ajakan bersyukur dalam lagu "Rayakan", kemudian membahas hubungan interpersonal dalam "Pergilah", dan nostalgia masa kecil dalam "Selamanya". Namun, inti dari eksplorasi kegelisahan zaman termanifestasi paling kuat dalam lagu "Fana", yang secara halus mengkritik realitas ketergantungan manusia modern pada algoritma. Menurut Revaldo, "Tidak sedikit orang yang hidup bergantungan dengan algoritma, sehingga bagi kami itu menimbulkan kurangnya kreativitas, dan juga rasa percaya diri mereka". Pernyataan ini menyoroti dampak erosi kreativitas dan kepercayaan diri individu yang dipicu oleh dominasi sistem digital, sebuah isu yang semakin relevan dalam lanskap sosial-budaya global.
Pendekatan NAVA yang memilih genre alternative rock dengan sentuhan pop-rock menunjukkan upaya mereka untuk menjangkau audiens yang lebih luas, sebagaimana Hugo dan Revaldo berharap karya mereka "bisa memberikan kontribusi di kehidupan seluruh kalangan masyarakat". Sebagai musisi independen, mereka memiliki kebebasan artistik penuh dalam menulis dan memproduksi lagu-lagu mereka, yang memperkuat idealisme dalam penyampaian pesan. Nama "NAVA" sendiri, yang berasal dari bahasa Latin yang berarti "perjalanan baru", merefleksikan filosofi band untuk menghadirkan arah musik segar yang relevan dengan tantangan zaman.
Keterlibatan musisi muda dalam mengartikulasikan isu-isu sosial melalui musik, seperti yang dilakukan NAVA, merupakan indikator penting dari peran seni sebagai medium refleksi dan kritik. Di tengah maraknya grup musik baru, fokus NAVA pada kegelisahan akibat algoritma membedakan mereka, menempatkan karya mereka dalam konteks diskusi yang lebih luas tentang kesehatan mental, kreativitas, dan otonomi individu di era digital. Kehadiran mini album ini dapat dianggap sebagai respons artistik terhadap pergeseran paradigma sosial yang membentuk pengalaman hidup generasi saat ini dan mendatang.