Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Nano Riantiarno: Jejak Abadi Sang Maestro Panggung

2025-12-02 | 12:27 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-02T05:27:29Z
Ruang Iklan

Nano Riantiarno: Jejak Abadi Sang Maestro Panggung

Norbertus Riantiarno, atau yang akrab disapa Nano Riantiarno, seorang aktor, penulis, sutradara, wartawan, dan tokoh teater terkemuka Indonesia, telah meninggalkan jejak tak terhapuskan dalam khazanah budaya bangsa. Kepergiannya pada 20 Januari 2023 di usia 73 tahun, menyisakan duka mendalam bagi dunia seni pertunjukan tanah air. Sosok yang lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada 6 Juni 1949 ini, menghembuskan napas terakhirnya di Jakarta Selatan karena komplikasi kanker paru-paru, yang sebelumnya didahului oleh tumor di paha.

Perjalanan karier Nano Riantiarno di dunia teater dimulai sejak tahun 1965 di kota kelahirannya, Cirebon. Setelah menamatkan SMA pada 1967, ia melanjutkan pendidikan di Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) Jakarta dan kemudian di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Semangatnya untuk seni panggung semakin membara ketika ia bergabung dan turut mendirikan Teater Populer bersama sutradara legendaris Teguh Karya pada tahun 1968.

Puncak pengabdiannya kepada teater terwujud pada 1 Maret 1977, ketika Nano Riantiarno bersama 11 seniman lainnya mendirikan Teater Koma. Kelompok teater independen ini didirikan dengan filosofi "koma" yang berarti kesinambungan, tak pernah berakhir. Di bawah kepemimpinannya, Teater Koma menjelma menjadi salah satu kelompok teater paling produktif di Indonesia. Tercatat, hingga Juni 2024, Teater Koma telah mementaskan lebih dari 230 produksi panggung dan televisi. Pementasan-pementasan Teater Koma dikenal sering mengangkat isu-isu sosial-politik dengan gaya yang khas, menggabungkan humor dan kritik tajam, sehingga selalu berhasil menarik perhatian penonton.

Sebagai penulis, Nano Riantiarno sangat produktif, menghasilkan sebagian besar naskah yang dipentaskan Teater Koma. Karya-karya panggung fenomenalnya antara lain "Trilogi Opera Kecoa" (termasuk "Bom Waktu", "Opera Kecoa", dan "Opera Julini"), "Rumah Kertas," "Semar Gugat," "Sampek Engtay," "Maaf. Maaf. Maaf.," dan "Kontes 1980". Naskah terakhirnya yang memenangkan Sayembara Penulisan Naskah DKJ 2022, "Matahari Papua", berhasil dipentaskan pada Juni 2024 oleh Teater Koma. Selain drama, ia juga menulis tujuh novel, tiga buku kumpulan puisi, 25 naskah adaptasi, serta 30 skenario film dan televisi. Beberapa novelnya seperti "Cermin Merah," "Percintaan Senja," dan "Ranjang Bayi" juga meraih penghargaan.

Perjalanan artistik Nano Riantiarno tidak selalu mulus. Ia dikenal berani menyuarakan kritik sosial melalui karya-karyanya, terutama pada era Orde Baru. Hal ini menyebabkan beberapa pementasannya, seperti "Suksesi," "Opera Kecoa," dan "Sampek Engtay," mengalami pelarangan oleh pihak berwenang. Meskipun demikian, Nano tidak pernah surut dan terus berkarya.

Atas dedikasi dan kontribusinya, Nano Riantiarno meraih berbagai penghargaan bergengsi. Ia lima kali memenangkan Sayembara Penulisan Naskah Drama Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 1972, 1973, 1974, 1975, dan 1998. Skenario filmnya, "Jakarta, Jakarta," dianugerahi Piala Citra pada Festival Film Indonesia 1978. Pemerintah Indonesia menganugerahkan "Hadiah Seni" pada tahun 1993, dan ia dinominasikan untuk SEA Write Awards dari pemerintah Thailand untuk karyanya "Semar Gugat". Pada tahun 2014, ia menerima Penghargaan BJ Habibie Bidang Ilmu Kebudayaan dan pada 2019, ia diakui sebagai tokoh inspiratif nasional asal Cirebon.

Kepergian Nano Riantiarno adalah kehilangan besar bagi dunia teater Indonesia, namun warisannya terus hidup melalui Teater Koma dan karya-karyanya yang abadi. Semangatnya dalam menciptakan teater yang jujur, konsisten, dan produktif, yang mampu menjadi jembatan menuju keseimbangan batin dan kebahagiaan manusiawi, akan selalu menginspirasi generasi seniman berikutnya.