Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Monica Karina: Momen Krusial yang Mengukir Jejak di Industri Musik

2025-12-26 | 00:22 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-25T17:22:45Z
Ruang Iklan

Monica Karina: Momen Krusial yang Mengukir Jejak di Industri Musik

Penyanyi Monica Karina berhasil mengukir torehan penting dalam karier musiknya, bertransformasi dari bakat yang tak sengaja ditemukan menjadi suara yang diakui di kancah musik R&B dan elektronik Indonesia, puncaknya dengan partisipasi di ajang global Distilled Sounds 2025 di Irlandia. Kariernya, yang dimulai pada tahun 2018, kini menandai sebuah kebangkitan dengan eksplorasi artistik yang lebih dalam dan pengakuan internasional.

Perjalanan Monica Karina di industri musik bermula dari penemuan tak terduga oleh disjoki dan produser kenamaan Dipha Barus pada tahun 2018, yang melihat bakatnya melalui Instagram Stories milik kreator konten Cindercella. Kolaborasi perdananya dengan Dipha Barus dalam single "Money Honey (Count Me In)" pada tahun yang sama segera melambungkan namanya dan membawanya bergabung dengan label rekaman Dipha, Pon Your Tone. Lagu debut tersebut tidak hanya populer tetapi juga mengantarkannya meraih dua penghargaan bergengsi Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2018 untuk kategori "Karya Produksi Terbaik-Terbaik" dan "Karya Produksi Elektronik Terbaik". Pengakuan ini menempatkan Monica Karina sebagai kekuatan baru dalam genre musik elektronik dan R&B Indonesia.

Setelah sukses dengan kolaborasi perdananya, Monica Karina merilis single solo debutnya, "Skin to Skin," pada 31 Agustus 2018, sebuah langkah strategis untuk mengukuhkan identitasnya di kancah R&B/Neo-Soul. Ia terus produktif melalui serangkaian kolaborasi signifikan, termasuk "You Move Me" bersama Dipha Barus pada 2019, "Congratulations" dengan Mira Jasmine pada 2020, "Pretty Like You" bersama Rahmania Astrini pada 2021, dan "Please Don't Find Closure" bersama Kara Chenoa pada 2023. Nominasi-nominasi AMI untuk kategori Soul/R&B dan Dance dari tahun 2019 hingga 2021 semakin menegaskan posisinya sebagai vokalis yang serba bisa dan berpengaruh dalam skena musik kontemporer.

Titik balik penting lainnya dalam kariernya adalah rilisnya single "Pon It" pada tahun 2024, yang ia gambarkan sebagai perwujudan pertumbuhan kepercayaan dirinya baik dalam kehidupan pribadi maupun bermusik, menandai kembalinya ia setelah beberapa tahun hiatus. Rilisan terbaru pada tahun 2025, seperti "Figaro," "Gentle Agreement," dan "Something in the Air," menunjukkan konsistensi dan eksplorasi musikal yang berkelanjutan.

Puncak pengakuan internasional Monica Karina terjadi pada tahun 2025 ketika ia menjadi artis Indonesia pertama yang berpartisipasi dalam Jameson Distilled Sounds di Cavan, Irlandia, sebuah ajang musik global yang dipimpin langsung oleh musisi peraih penghargaan Grammy, Anderson .Paak. Dalam acara tersebut, ia tidak hanya mengikuti berbagai lokakarya tetapi juga berkesempatan berkolaborasi dengan musisi internasional lainnya, EU.CLIDES dari Portugal dan Kethan dari Kenya, dalam lagu berjudul "Inventate." Pengalaman ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan juga bukti potensi besar musik Indonesia di panggung global, memfasilitasi koneksi dan pertumbuhan musisi lokal dengan rekan-rekan internasional. Menurut Herjuna Rahman, Brand Manager Jameson Indonesia, partisipasi Monica mencerminkan bagaimana musik mampu menyatukan budaya dan mendekatkan manusia.

Sebelum terjun ke dunia musik, Monica Karina menempuh pendidikan di bidang perfilman di Universitas Pelita Harapan Tangerang dan sempat berprofesi sebagai fotografer dan videografer. Perjalanan ini menyoroti bahwa bakat musiknya tidak direncanakan, bahkan ia mengaku sebagai pribadi yang pemalu dan tidak pernah membayangkan dirinya sebagai penyanyi di panggung publik. Namun, dorongan dari Dipha Barus mengubah trajektori hidupnya. Meskipun demikian, Monica tetap meyakini bahwa eksplorasi dan kolaborasi dengan beragam individu merupakan kunci untuk menemukan suara autentik seorang seniman, meskipun ia juga mengakui kecenderungannya sebagai seorang perfeksionis yang kerap sulit merasa puas dengan karyanya. Perkembangan ini menyoroti adaptasi dan evolusi seorang seniman dalam menghadapi tuntutan industri sembari tetap mempertahankan integritas artistik.