
Penulis Prancis Annie Ernaux, 82 tahun, mengungkapkan rasa terharu dan tanggung jawab besar setelah dinobatkan sebagai penerima Hadiah Nobel Sastra 2022 pada 6 Oktober 2022. Akademi Swedia mengganjar Ernaux atas "keberanian dan ketajaman klinis yang digunakannya untuk mengungkap akar, keterasingan, dan pengekangan kolektif dari ingatan pribadi". Penghargaan ini menjadikan Ernaux sebagai perempuan Prancis pertama yang meraih Nobel Sastra dan penerima ke-17 dari 119 pemenang sejak hadiah ini pertama kali dianugerahkan pada 1901.
Ernaux, yang dihubungi oleh media Swedia SVT segera setelah pengumuman, menyatakan keterkejutan dan mengatakan, "Ini adalah tanggung jawab besar... untuk bersaksi, tidak harus dalam hal tulisan, tetapi untuk bersaksi dengan akurasi dan keadilan dalam kaitannya dengan dunia". Dalam pidato jamuan Nobel pada 10 Desember 2022, Ernaux juga menyampaikan rasa "keheranan dan terima kasih yang mendalam" atas penghargaan tersebut, serta menyebutkan harapannya agar karyanya dapat "menghancurkan kesendirian dari pengalaman yang diderita dan ditekan, dan memungkinkan manusia untuk menata ulang diri mereka".
Lahir pada 1 September 1940, di Lillebonne, Normandia, dari orang tua yang menjalankan toko kelontong dan kafe, Ernaux secara terbuka menyebut dirinya sebagai "pembelot kelas pekerja" (déclassée). Latar belakang ini menjadi fondasi utama bagi karya-karyanya yang mayoritas bersifat otobiografi atau memoar, yang kerap menjelajahi pengalaman personalnya tentang kelas sosial, gender, seksualitas, dan ketidaksetaraan. Ia menempuh pendidikan di Universitas Rouen dan Bordeaux, kemudian menjadi profesor sastra Prancis.
Gaya penulisannya dikenal lugas, tanpa kompromi, dan "tergores bersih", menggunakan bahasa sebagai "pisau" untuk merobek selubung imajinasi dan menelanjangi kisah-kisahnya sendiri. Kritikus sastra Dominique Viart, sebagaimana dilansir surat kabar Le Monde, menyoroti fokus Ernaux pada isu-isu sosial, perbedaan kelas, sosial-budaya, dan hak perempuan, serta bagaimana Ernaux mengumpulkan pertanyaan mendasar tentang memori masa lalu dan kehidupan sehari-hari menjadi fenomena sastra. Karya-karya seperti Les Armoires vides (1974), La Place (1983) yang memenangkan Prix Renaudot, dan Les Années (2008) yang memberinya reputasi internasional, menjadi referensi sekolah di Prancis selama puluhan tahun. Buku Happening (2000), yang mengisahkan pengalaman aborsinya pada usia 20-an, juga diadaptasi menjadi film.
Penganugerahan Nobel kepada Ernaux menggarisbawahi evolusi baru dalam kesusastraan Prancis, dengan pengakuannya sebagai pelopor genre "autofiksi" atau "autososiobiografi" yang memadukan pengalaman pribadi dengan analisis sosiologis dan historis. Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan memuji Ernaux, menyatakan bahwa penghargaan ini merupakan "suara" dari kebebasan perempuan yang terlupakan di abad ini. Ernaux sendiri percaya bahwa sastra, meskipun tidak menawarkan dampak langsung, tetap esensial untuk mempertahankan perjuangan hak-hak perempuan dan kaum tertindas, terutama di tengah tantangan global yang terus bermunculan. Penjualan buku-bukunya di Indonesia, misalnya, tetap tersedia dengan harga yang bervariasi, menunjukkan minat berkelanjutan terhadap karyanya pasca-Nobel. Kemenangannya menegaskan relevansi universal dari eksplorasi intim terhadap memori, identitas, dan struktur sosial.