Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Little Amal Raksasa Menggebrak Times Square

2025-12-27 | 08:13 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-27T01:13:46Z
Ruang Iklan

Little Amal Raksasa Menggebrak Times Square

Boneka raksasa Little Amal, representasi setinggi 3,5 meter dari seorang gadis pengungsi Suriah berusia 10 tahun, menarik perhatian publik global saat melabuhkan perjalanannya ke Times Square, New York City, pada 16 September 2022, sebagai bagian dari upaya seni dan advokasi berskala besar untuk meningkatkan kesadaran tentang krisis pengungsi anak-anak di dunia. Kedatangan figur simbolis ini di pusat kota Manhattan menjadi puncak dari tur 17 hari Amal di lima wilayah kota tersebut, yang dirancang untuk memanusiakan narasi migrasi dan memohon perhatian pada jutaan anak yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Proyek "The Walk" ini, yang diinisiasi oleh perusahaan produksi Inggris The Walk Productions dan Good Chance bekerja sama dengan Handspring Puppet Company dari Afrika Selatan, memulai perjalanan epiknya pada Juli 2021 dari perbatasan Suriah-Turki. Sejak itu, Amal telah menempuh lebih dari 9.000 kilometer melintasi 14 negara, disambut oleh lebih dari satu juta orang di jalanan dan jutaan lainnya secara daring. Nama "Amal" sendiri berarti "harapan" dalam bahasa Arab, mencerminkan pesan sentral proyek ini: "Jangan lupakan kami".

Boneka setinggi 12 kaki ini, yang dibuat dari bahan ringan seperti rotan dan serat karbon, dioperasikan oleh setidaknya tiga puppeteer, dengan satu orang berjalan di atas sepatu panggung di dalamnya, mengendalikan kepala, mata, dan mulut melalui mekanisme rumit yang disebut "harp". Desain dan pergerakannya yang realistis bertujuan untuk menciptakan koneksi emosional dengan audiens, mengubah statistik abstrak tentang pengungsi menjadi pengalaman yang nyata. Proyek ini berakar dari karakter dalam drama "The Jungle", sebuah pementasan yang berlatar belakang kamp pengungsi Calais.

Saat tiba di Times Square, Little Amal disambut oleh 200 siswa sekolah umum dan komunitas Broadway yang menyanyikan lagu-lagu populer, sementara ia terkesima oleh cahaya, suara, dan keramaian. Kedatangannya di New York, yang dimulai pada 14 September 2022 di Bandara Internasional John F. Kennedy dengan iringan Metropolitan Opera Orchestra dan paduan suara anak-anak, diselenggarakan bekerja sama dengan St. Ann's Warehouse. Direktur artistik The Walk Productions, Amir Nizar Zuabi, menyatakan bahwa tujuan proyek ini adalah "untuk menyoroti potensi pengungsi, bukan hanya keadaan mengerikan mereka". Dia menambahkan, "Kami ingin dia menginspirasi kita untuk berpikir besar dan bertindak lebih besar."

Data terbaru dari UNHCR menunjukkan bahwa pada akhir April 2025, lebih dari 122 juta orang di seluruh dunia terpaksa mengungsi akibat penganiayaan, konflik, kekerasan, dan pelanggaran hak asasi manusia. Dari jumlah tersebut, hampir 42,5 juta adalah pengungsi pada Juni 2025. UNICEF melaporkan bahwa pada akhir 2024, jumlah anak yang mengungsi akibat konflik dan kekerasan telah meningkat menjadi 48,8 juta, termasuk 19,1 juta anak pengungsi dan pencari suaka. Mayoritas anak-anak pengungsi ini, dua pertiga pada tahun 2024, berasal dari lima negara: Afghanistan (2,8 juta), Republik Arab Suriah (2,7 juta), Venezuela (1,9 juta), Ukraina (1,4 juta), dan Sudan Selatan (1,3 juta). Statistik ini menggarisbawahi urgensi pesan Amal, karena setengah dari semua pengungsi adalah anak-anak, dan setengah dari anak-anak pengungsi usia sekolah telah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan formal.

Meskipun disambut hangat di banyak tempat, perjalanan Amal tidak luput dari tantangan. Di beberapa lokasi di Yunani, ia dilempari batu oleh pengunjuk rasa sayap kanan, yang mencerminkan ketegangan politik dan sentimen anti-imigran yang masih ada. Namun, David Lan, salah satu produser, mencatat bahwa "apa yang Amal kecil tampaknya lakukan adalah membawa pengalaman orang-orang yang sangat terpinggirkan dan menempatkannya di tengah. Ini tentang niat baik."

Inisiatif seni publik seperti "The Walk" memiliki implikasi jangka panjang dalam membentuk persepsi publik dan kebijakan. Dengan menggunakan seni sebagai platform, proyek ini bertujuan untuk memicu empati dan mempromosikan pemahaman bahwa migrasi adalah bagian dari sejarah manusia yang memperkaya budaya dan kemajuan. Meryl Friedman, direktur pendidikan dan inisiatif khusus untuk Design for Sharing di UCLA, menyoroti bagaimana interaksi dengan Amal memberikan validasi dan penerimaan bagi siswa yang memiliki pengalaman migrasi sendiri. Ia mengatakan, "Sangat mendalam mendengar cerita siswa dan guru kami tentang perjalanan pribadi mereka dalam mencari rumah… Terkait dengan itu adalah keinginan untuk dilihat dan didengar, terutama ketika Anda merasa tidak terlihat atau Anda merasa perlu untuk tetap tidak terlihat karena Anda takut tidak diterima."

"The Walk" telah melampaui sekadar pertunjukan seni; ia telah menjadi simbol global hak asasi manusia dan katalisator untuk dialog kritis mengenai tantangan yang dihadapi oleh jutaan anak-anak yang terpaksa mengungsi. Melalui Amal Fund, yang bekerja sama dengan Choose Love, proyek ini juga mengumpulkan dana untuk mendukung pendidikan dan kebutuhan kemanusiaan anak-anak pengungsi. Kehadiran Amal di panggung global terus menegaskan bahwa seni dapat menjadi kekuatan kuat untuk advokasi dan perubahan sosial, menuntut agar dunia tidak melupakan mereka yang paling rentan.