
Mantan Puteri Indonesia 2001, Angelina Sondakh, secara terbuka mengungkapkan standar seleksi yang sangat ketat untuk calon teman dekat atau kekasih putranya, Keanu Massaid, memicu perhatian publik terhadap dinamika pengasuhan anak di kalangan selebritas. Angelina Sondakh menyatakan bahwa ia sangat protektif dan tidak segan mengajukan serangkaian pertanyaan mendalam mengenai latar belakang calon teman Keanu, bahkan berkomunikasi langsung dengan orang tua mereka untuk memastikan lingkungan pertemanan yang tepat bagi putranya.
Pernyataan ini muncul saat Keanu Massaid, putra mendiang Adjie Massaid, beranjak remaja dan mulai mengenal pertemanan serta asmara. Keanu sendiri mengakui bahwa standar yang ditetapkan ibunya sangat sulit ditembus, bahkan ia merasa hampir tidak ada yang lolos dari penilaian sang ibunda. "Protektif sih, kayak setiap cewek yang mau deketin aku, Mami tuh kayak 'Aduh, ini kurang... aduh, ini jelek.' Kayak gitu mulu. Iya, soalnya kan Mami kan Puteri Indonesia ya, jadi standarnya... aduh," curhat Keanu Massaid, menyoroti bahwa ibunya membawa "standar Puteri Indonesia" dalam menilai calon pasangannya.
Keterlibatan Angelina Sondakh yang mendalam dalam kehidupan sosial Keanu, termasuk berkomunikasi langsung dengan orang tua teman-teman anaknya, mencerminkan upaya maksimal seorang ibu yang ingin melindungi putranya. Sikap overprotektif ini dapat dipahami dalam konteks perjalanan hidup Angelina Sondakh yang penuh gejolak, termasuk masa tahanan selama sepuluh tahun yang membuatnya terpisah dari Keanu di masa pertumbuhan krusial anaknya. Setelah bebas, Angelina Sondakh menunjukkan fokus besar pada pendidikan dan perkembangan Keanu, termasuk harapan agar Keanu menjadi imam salat baginya. Pengalaman personal tersebut kemungkinan besar membentuk pandangan protektifnya terhadap lingkungan dan pilihan hidup putranya.
Implikasi dari standar ketat yang diungkapkan secara publik ini dapat beragam. Bagi Keanu, tekanan untuk menemukan pasangan yang memenuhi ekspektasi tinggi ibunya bisa menjadi beban emosional. Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi memengaruhi kemampuannya dalam membangun hubungan independen dan mengambil keputusan personal tanpa intervensi. Di sisi lain, bagi Angelina Sondakh, tindakan ini mungkin merupakan manifestasi dari rasa tanggung jawab dan keinginan untuk memberikan yang terbaik, terutama setelah merasa kehilangan waktu berharga bersama putranya. Namun, transparansi semacam ini juga membuka ruang bagi kritik dan perdebatan mengenai batas-batas privasi anak-anak selebriti dan sejauh mana orang tua harus terlibat dalam kehidupan asmara anak remaja.
Fenomena selebriti yang menetapkan kriteria ketat untuk pasangan anak-anak mereka bukan hal baru, sering kali mencerminkan keinginan untuk menjaga citra keluarga, status sosial, atau memastikan kesejahteraan anak di tengah sorotan publik. Kasus Angelina Sondakh menyoroti bagaimana latar belakang dan pengalaman hidup seorang figur publik dapat membentuk pola pengasuhan yang intens, yang mungkin dianggap berlebihan oleh sebagian pihak, namun merupakan ekspresi dari cinta dan kepedulian yang mendalam oleh sang ibu. Ke depan, akan menarik untuk melihat bagaimana dinamika ini berkembang seiring dengan pertumbuhan Keanu dan kemampuannya untuk menegosiasikan otonomi pribadinya di bawah bayang-bayang ekspektasi publik dan ibunya.