Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Kontroversi Baju Ketat Novi Rizki di Sumatera: Tanggapan yang Justru Tuai Hujatan

2025-12-31 | 03:20 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-30T20:20:36Z
Ruang Iklan

Kontroversi Baju Ketat Novi Rizki di Sumatera: Tanggapan yang Justru Tuai Hujatan

Penyanyi dangdut Novi Rizki menuai gelombang kritik daring setelah mengenakan pakaian ketat saat mengunjungi lokasi bencana di Sumatera dan Aceh, memicu perdebatan mengenai etika berbusana figur publik di tengah suasana duka dan nilai-nilai lokal. Insiden yang dilaporkan terjadi pada Selasa, 30 Desember 2025, ini berawal dari niat Novi Rizki memberikan bantuan langsung kepada korban bencana, namun busana yang ia kenakan — lengan panjang dan celana jins yang disebutnya "biasa saja" — dianggap tidak sopan oleh sebagian warganet karena terlihat ketat.

Menanggapi cibiran tersebut, Novi Rizki menyatakan keterkejutannya atas reaksi publik, mengakui adanya komentar positif namun tak menampik banyaknya kritik terkait pakaiannya. Ia menjelaskan bahwa bentuk tubuhnya yang "semok" mungkin membuat pakaiannya terlihat lebih ketat, dan pemilihan busana tersebut didasari kondisi cuaca panas di kawasan pantai Sibolga, Sumatera Utara, di mana ia memerlukan bahan yang menyerap keringat dan tidak tipis. Rizki menegaskan bahwa fokus utamanya adalah misi kemanusiaan membantu korban bencana, bukan penampilannya, dan mengajak warganet untuk lebih bijak dalam menilai sesuatu.

Kontroversi ini bukan kali pertama seorang selebriti Indonesia menjadi sorotan karena pilihan busana. Masyarakat Indonesia, khususnya di daerah dengan norma budaya dan agama yang kuat seperti Sumatera Barat yang menganut filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (Adat Bersendikan Hukum Islam, Hukum Islam Bersendikan Kitabullah), cenderung menjunjung tinggi kesopanan dalam berpakaian. Norma ini menggarisbawahi pentingnya menghormati tradisi adat dengan berbusana secara pantas dan menutupi tubuh secara wajar, terutama di ruang publik dan dalam konteks kegiatan yang melibatkan sensitivitas sosial. Modifikasi pakaian adat yang dianggap melabrak nilai-nilai adat kerap menuai keprihatinan dari tokoh masyarakat dan legislatif.

Insiden yang menimpa Novi Rizki menyoroti dinamika kompleks antara ekspresi personal selebriti dan ekspektasi publik yang dibentuk oleh norma sosial, budaya, dan agama di Indonesia. Di satu sisi, figur publik memiliki kebebasan dalam berbusana, namun di sisi lain, kehadiran mereka di ruang publik, terutama dalam kegiatan sosial yang sensitif seperti penanganan bencana, kerap diukur dengan standar kesopanan yang lebih tinggi oleh sebagian masyarakat. Perdebatan ini diperparah oleh kecepatan penyebaran informasi dan amplifikasi opini melalui media sosial, mengubah setiap pilihan personal menjadi diskursus publik yang luas. Kasus ini menjadi pengingat bagi figur publik akan pentingnya sensitivitas kontekstual dalam setiap penampilan mereka, serta bagi masyarakat untuk membedakan antara esensi tindakan kemanusiaan dan preferensi gaya personal.