
Musisi dan komunitas seni Yogyakarta, dipimpin oleh grup band Jikustik bersama belasan nama besar lainnya, menggelar konser amal bertajuk "Jogja Hanyengkuyung Sumatera" pada Selasa malam, 23 Desember 2025, di Selasar Timur Stadion Maguwoharjo, Sleman. Konser ini merupakan respons cepat terhadap bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang telah menyebabkan ratusan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur parah. Acara ini berhasil mengumpulkan donasi sementara sebesar Rp836 juta, dengan dukungan signifikan dari berbagai pihak, termasuk pengusaha lokal.
Bencana hidrometeorologi yang menerjang Pulau Sumatera sepanjang akhir tahun 2025 telah menimbulkan duka mendalam. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 15 Desember 2025 mencatat total 967 jiwa meninggal dunia dan 262 orang dinyatakan hilang akibat siklon tropis dan dampak alih fungsi hutan. Lebih dari 3,3 juta jiwa terdampak langsung, kehilangan tempat tinggal dan harta benda, dengan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai Rp68,8 triliun. Di Sumatera Barat, khususnya Kabupaten Agam, validasi terbaru per 24 Desember 2025 menunjukkan 163 orang meninggal dunia dan 38 orang masih hilang akibat banjir bandang dan tanah longsor, dengan ribuan warga mengungsi serta ratusan rumah dan fasilitas publik rusak. Kondisi ini diperparah oleh hilangnya 1,4 juta hektare hutan tropis yang diubah menjadi kawasan pertambangan dan perkebunan sawit, yang merusak fungsi hidrologis tanah dan memicu aliran permukaan destruktif.
Konser "Jogja Hanyengkuyung Sumatera" digagas sebagai wujud kepedulian masyarakat Yogyakarta. Ketua Jogja Hanyengkuyung Sumatera, Ganesha, menyatakan bahwa konser ini adalah manifestasi gotong-royong untuk membantu korban bencana. Selain Jikustik yang membawakan lagu-lagu hits mereka, acara ini turut dimeriahkan oleh Letto, Shaggydog, Kunto Aji, Rebellion Rose, Ngatmombilung, dan sekitar sepuluh band serta musisi lainnya, yang sepakat menanggalkan ego panggung demi tujuan kemanusiaan. Penjualan tiket konser, yang berkisar dari Rp50.000 hingga nominal bebas, serta hasil penjualan tenant dan merchandise, seluruhnya akan disalurkan kepada korban.
Dukungan finansial yang signifikan datang dari Haji Muhammad Suryo, pimpinan Surya Group Holding Company, yang menyumbangkan Rp500 juta dari total donasi terkumpul. Haji Suryo menegaskan, "Kami merasa terpanggil untuk tidak hanya berempati, tetapi juga mengambil langkah nyata dengan mendukung musisi Jogja menggalang donasi melalui konser amal. Ini sebagai wujud solidaritas dan kepedulian bagi para korban bencana, kita sama-sama orang Jogja, kita harus menjadi orang Jawa seutuhnya, kalau saudara kita terkena musibah wajib kita untuk 'lung tinulung' saling membantu". Vokalis Letto, Sabrang Damar Mowo Panuluh, menambahkan bahwa konser ini bukan sekadar hiburan, melainkan aksi sosial untuk meringankan beban para korban, mengingat Sumatera telah berulang kali menghadapi cobaan bencana.
Pengelolaan donasi akan dilakukan secara transparan oleh Masjid Jogokariyan, sebuah institusi yang memiliki reputasi teruji dalam manajemen sosial dan kebencanaan, serta posko kemanusiaan yang siaga di lokasi terdampak. Laporan penyaluran bantuan akan disampaikan secara rinci dan terbuka melalui media sosial hingga H+5 setelah konser. Inisiatif ini menyoroti peran krusial komunitas seni dalam menggerakkan kepedulian sosial, serta memelihara tradisi "lung tinulung" atau gotong royong yang mengakar kuat di Yogyakarta. Namun, di balik semangat solidaritas ini, peristiwa bencana yang berulang di Sumatera juga menggarisbawahi urgensi mitigasi bencana yang lebih komprehensif dan penegakan hukum terhadap praktik deforestasi yang masif dan tidak terkendali. BMKG bahkan menekankan perlunya perubahan pola pikir dari sekadar membantu korban pasca-bencana menjadi upaya pencegahan agar tidak ada korban, dimulai dari pembenahan menyeluruh oleh pemerintah. Konser "Jogja Hanyengkuyung Sumatera" tidak hanya menjadi jembatan kepedulian, tetapi juga pengingat akan kerentanan lingkungan dan kebutuhan akan tindakan kolektif berkelanjutan.