
Gedung Sarinah di jantung Jakarta Pusat kembali mengukuhkan posisinya sebagai pilar ekosistem seni rupa Ibu Kota, tidak hanya melalui pameran imersif "Pipilaka Calling" yang berlangsung hingga Maret 2026 di lantai lima, namun juga lewat program "Distrik Seni x Sarinah" yang berkelanjutan sejak Juni 2022. Inisiatif ini secara aktif menyediakan ruang bagi seniman lokal dan menjadi titik temu budaya kontemporer dengan pasar seni, menggarisbawahi upaya korporasi milik negara dalam menopang ekonomi kreatif nasional.
Pameran "Pipilaka Calling," yang dibuka pada 15 Desember 2025, memadukan teknologi canggih dengan pesan pelestarian lingkungan hidup, menawarkan pengalaman visual imersif kepada pengunjung hingga 8 Maret 2026. Sebagian keuntungan dari penjualan tiket pameran ini, yang dibanderol Rp50.000 untuk hari kerja dan Rp75.000 untuk akhir pekan, akan disumbangkan untuk beasiswa sekolah digital dan animasi. Acara ini merupakan bagian dari strategi Sarinah untuk mengemas perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) dengan pengalaman budaya, menargetkan 300.000 pengunjung selama periode 24 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026, meningkat sekitar 10% dari tahun sebelumnya.
"Natal dan Tahun Baru bagi Sarinah bukan sekadar perayaan kalender, melainkan momentum untuk menghadirkan ruang yang menyatukan insan manusia, cerita, dan nilai," ujar Direktur Utama PT Sarinah, Raisha Syarfuan. "Melalui budaya, kuliner, seni, hingga ruang berbagi, Sarinah ingin menghadirkan pengalaman yang sarat makna sebagai Indonesia's Cultural Experience Center," tambahnya.
Sejak revitalisasi besar-besarannya yang rampung pada 2022 dan diresmikan Presiden Joko Widodo pada 14 Juli 2022, Sarinah telah bertransformasi dari sekadar pusat perbelanjaan menjadi "community mall" dan ruang publik modern yang berfokus pada produk lokal, ekonomi kreatif, serta wisata sejarah dan budaya. Konsep "Distrik Seni x Sarinah" sendiri pertama kali dibuka untuk publik pada 1 Juni 2022 di lantai enam gedung tersebut, bertujuan untuk mewujudkan kolaborasi ekosistem seni rupa berkelanjutan di Ibu Kota. Inisiatif ini dirancang sebagai wadah berkreasi, eksperimentasi, dan penjualan karya seni, yang diharapkan menjadi momentum kebangkitan ekonomi kreatif nasional pascapandemi. Penata Artistik Distrik Seni pada tahun 2022, Farah Wardani, menyatakan optimismenya bahwa program ini mampu mendukung pemulihan ekonomi.
Transformasi Sarinah mencerminkan pergeseran paradigma dalam pembangunan perkotaan, di mana ruang komersial terintegrasi dengan fungsi budaya dan sosial. Upaya ini mendukung subsektor ekonomi kreatif, yang pada tahun 2020 berkontribusi sebesar Rp1.211 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, menempatkan Indonesia di urutan ketiga dunia dalam kontribusi PDB ekonomi kreatif, setelah Amerika Serikat dan Korea Selatan. Kehadiran Distrik Seni x Sarinah menjadi jawaban atas minimnya wadah pemberdayaan, inovasi, dan perkembangan lokapasar seni rupa di Jakarta sebelumnya.
Meskipun Sarinah mencatat penurunan jumlah pengunjung sekitar 15-20% pada Januari 2025 akibat periode sepi pasca-libur Nataru 2024-2025, trafik pengunjung dilaporkan kembali pulih pada Februari-Maret 2025. Antusiasme publik terhadap program budaya dan seni terbukti pada malam pergantian tahun 2025, ketika lebih dari 100.000 pengunjung memadati Sarinah, menunjukkan daya tarik yang kuat sebagai destinasi hiburan dan budaya.
Sarinah, dengan slogannya "Panggung Karya Indonesia," terus memperkuat posisinya sebagai etalase bagi talenta dan produk nusantara. Melalui berbagai pameran seni, lokakarya, dan pertunjukan, Sarinah tidak hanya menyediakan platform bagi seniman untuk berinteraksi dengan publik dan pasar, tetapi juga berkontribusi pada edukasi dan apresiasi masyarakat terhadap kekayaan seni dan budaya Indonesia. Model integrasi budaya ke dalam ruang komersial ini berpotensi menjadi cetak biru bagi entitas serupa di masa depan, memastikan keberlanjutan ekosistem kreatif dan memperkuat identitas budaya bangsa di tengah modernisasi.